Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Work Trend Index Microsoft: 66 Persen Pekerja di Indonesia Ingin Kerja Hybrid

Laporan Work Trend Index tahunan kedua dari Microsoft menunjukkan bahwa sebanyak 66 persen pekerja di Indonesia lebih memilih beralih ke sistem kerja hybrid.
Rahmi Yati
Rahmi Yati - Bisnis.com 24 Mei 2022  |  16:28 WIB
Karyawan melakukan aktivitas di pusat perkantoran, kawasan SCBD, Jakarta, Senin (8/6/2020). Pekan kedua masa pembatasan sosial berskala berskala besar (PSBB) transisi, Pemprov DKI Jakarta mulai memperbolehkan karyawan di perkantoran kembali bekerja dengan kapasitas karyawan hanya dibolehkan sebanyak 50 persen dari jumlah karyawan dalam satu ruangan. ANTARA FOTO - Muhammad Adimaj
Karyawan melakukan aktivitas di pusat perkantoran, kawasan SCBD, Jakarta, Senin (8/6/2020). Pekan kedua masa pembatasan sosial berskala berskala besar (PSBB) transisi, Pemprov DKI Jakarta mulai memperbolehkan karyawan di perkantoran kembali bekerja dengan kapasitas karyawan hanya dibolehkan sebanyak 50 persen dari jumlah karyawan dalam satu ruangan. ANTARA FOTO - Muhammad Adimaj

Bisnis.com, JAKARTA - Laporan Work Trend Index tahunan kedua dari Microsoft menunjukkan bahwa sebanyak 66 persen pekerja di Indonesia lebih mempertimbangkan untuk beralih ke sistem kerja remote atau hybrid.

Modern Work & Security Business Group Lead Microsoft Indonesia Wahjudi Purnama mengatakan pandemi yang telah berlangsung selama kurang lebih dua tahun ini mengubah cara masyarakat memaknai pekerjaan dalam kehidupan secara signifikan.

"Maka dari itu, tantangan bagi setiap organisasi adalah bisa memenuhi ekspektasi para karyawan, sambil menyeimbangkannya dengan pencapaian bisnis di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu,” ujar Wahjudi saat memaparkan hasil surveinya secara daring, Selasa (24/5/2022).

Dia menyebut, laporan bertajuk "Great Expectations: Making Hybrid Work Work" ini memberikan pandangan bagi organisasi untuk terus berkembang di tengah perubahan dan disrupsi kerja yang berlangsung. Survei dilakukan terhadap 31.000 responden dari 31 negara, termasuk Indonesia.

Merujuk pada data khusus Indonesia, laporan Work Trend Index ini mengungkapkan lima tren utama. Di antaranya, karyawan memiliki pandangan baru terhadap apa yang dianggap ‘worth it’ dalam bekerja.

Wahjudi memerinci, sebanyak 48 persen karyawan di Indonesia mengatakan mereka cenderung lebih memprioritaskan kesehatan dan wellbeing dibandingkan pekerjaan, dari pada sebelum pandemi.

‘Great Reshuffle’ juga belum berakhir. Pasalnya, 53 persen Gen Z serta Milenial di Indonesia agak atau sangat mungkin mempertimbangkan untuk pindah kerja pada tahun ini. Sementara itu, manajer mengalami dilema antara kepemimpinan dan ekspektasi karyawan.

"Sebanyak 60 persen pemimpin di Indonesia mengatakan perusahaan mereka berencana untuk kembali ke mode kerja dari kantor [WFO] secara penuh pada tahun depan, lebih tinggi dibandingkan data global yang berada di 50 persen. Namun, 66 persen pekerja di Indonesia lebih mempertimbangkan untuk beralih ke kerja remote atau hybrid," ujarnya.

Lebih lanjut, survei juga menemukan bahwa pemimpin perusahaan perlu membuat kantor terasa worth to commute. Sebab, sebanyak 41 persen karyawan hybrid di Indonesia mengatakan tantangan terbesar mereka adalah mengetahui kapan dan mengapa mereka harus datang ke kantor.

Di sisi lain, hanya 40 persen pemimpin yang telah membuat kesepakatan tim untuk mendefinisikan norma-norma baru ini.

"Pekerjaan yang fleksibel bukan berarti harus selalu standby. Berdasarkan survei, sebanyak 62 persen karyawan di Indonesia terbuka untuk menggunakan ruang imersif digital sebagai sarana meeting, lebih tinggi dibandingkan data global yang ada di angka 52 persen," imbuh Wahjudi.

Dia menambahkan, saat ini membangun kembali modal sosial juga terlihat berbeda di dunia hybrid. Sebanyak 49 persen pemimpin di Indonesia mengatakan membangun hubungan adalah tantangan terbesar dalam era kerja hybrid.

Selain itu, sambungnya, 65 persen pekerja pandemi di Indonesia sedang mempertimbangkan untuk berganti perusahaan pada tahun depan, dibandingkan 56 persen secara global.

“Fleksibilitas dan wellbeing telah jadi hal yang tidak bisa kita kompromikan. Dengan menyambut dan beradaptasi terhadap ekspektasi baru tersebut, organisasi justru dapat menyiapkan setiap karyawan dan bisnisnya untuk meraih kesuksesan jangka panjang,” ungkap Wahjudi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

microsoft pekerja Work From Home pandemi corona
Editor : Fitri Sartina Dewi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Banner E-paper
To top