Tarif Rendah Driver Ojol Jadi Bukti Strategi Promo dan Bakar Uang Startup

Ahmad Thovan Sugandi
Minggu, 27 Maret 2022 | 17:52 WIB
Mitra layanan ojek daring Gojek menunjukkan logo merger perusahaan Gojek dan Tokopedia yang beredar di media sosial di shelter penumpang Stasiun Kereta Api Sudirman, Jakarta, Jumat (28/5/2021). Sejumlah mitra pengemudi Gojek berharap mergernya dua perusahan ?startup? Gojek dan Tokopedia memberikan dampak positif bagi kalangan mitra dengan meningkatnya bonus dan insentif karena penggabungan tersebut telah meningkatkan nilai atau valuasi perusahaan./ANTARA FOTO-Aditya Pradana Putra
Mitra layanan ojek daring Gojek menunjukkan logo merger perusahaan Gojek dan Tokopedia yang beredar di media sosial di shelter penumpang Stasiun Kereta Api Sudirman, Jakarta, Jumat (28/5/2021). Sejumlah mitra pengemudi Gojek berharap mergernya dua perusahan ?startup? Gojek dan Tokopedia memberikan dampak positif bagi kalangan mitra dengan meningkatnya bonus dan insentif karena penggabungan tersebut telah meningkatkan nilai atau valuasi perusahaan./ANTARA FOTO-Aditya Pradana Putra
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Kalangan akademisi menilai, penerapan tarif yang terus menurun terhadap mitra pengemudi ojek online atau Ojol adalah bukti kerentanan bisnis startup yang mengandalkan sistem bakar uang dan promo.

Peneliti di Institute of Governance and Public Affairs (IGPA) Universitas Gadjah Mada Arif Novianto menyebut perusahaan rintisan atau startup seperti Gojek dan Grab memiliki model bisnis yang rentan. Hal itu karena para startup tersebut mengandalkan promo dan diskon untuk menggaet konsumen serta memanfaafkan pekerja murah dengan status mitra.

"Tarif yang dikenakan ke konsumen makin meningkat, tetapi tarif minimum yang diperoleh para mitra pengemudi justru turun," ujarnya kepada Bisnis, Minggu (27/3/2022).

Arif mengatakan para startup seperti Grab dan Gojek akan menuai keuntungan jika mampu memonopoli pasar. Karena itu, keduanya berusaha bersaing menggunakan promo dan diskon.

"Namun itu sulit karena pesaing baru terus lahir, persaing para aplikator ini terjadi dan imbasnya justru driver menjadi korban," ujarnya

Menurut Arif perlu peran pemerintah sebagai regulator yang mampu memastikan para pengelola aplikasi menjalankan aturan yang sudah tersedia dan menjamin hak-hak pekerja.

Sebagai informasi, dalam akun twitter Peneliti di Institute of Governance and Public Affairs (IGPA) Universitas Gadjah Arif Novianto, pada Kamis (24/3/2022) menyebut, telah terjadi aksi dari pengemudi ojol dalam skala besar.

Ribuan pengemudi Ojol yang tergabung dalam Paguyuban Gojek Driver Jogjakarta (Pagodja) melakukan aksi damai di depan kantor Gojek di Umbulharjo, Yogyakarta pada Kamis (24/3/2022).

Mereka menuntut manajemen Gojek untuk mengembalikan tarif minimal dari Rp6.400 ke Rp8.000 serta level platinum, gold, silver dan basic dihilangkan untuk dikembalikan pada insentif lama.

Sementara itu, ratusan pengemudi ojek online demonstrasi di depan kantor Gubernur Jawa Tengah, Senin (7/3/2022).

Humas Asosiasi Driver Online (ADO) Astrid Jovanka mengatakan pengemudi ojek online menuntut perubahan tarif dari aplikator. "Tarif ini sebetulnya sudah polemik lama dari tahun ke tahun, dari dulu sampai sekarang," tegasnya.

Di mengungkapkan dari waktu ke waktu, tarif yang didapatkan pengemudi Ojol bukannya meningkat, namun malah menurun. "Yang tadinya harga Rp7.200 sekarang tarif turun menjadi Rp6.400 per 0-4 kilometer," imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Editor : Kahfi
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper