Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Merapi Muntahkan 17 Awan Panas dalam Semalam, Ini Penyebabnya

BPPTKG mencatat, Gunung Merapi meluncuran awan panas sebanyak 17 kali pada Rabu-Kamis, 9-10 Maret 2022. Ini sumber dan penyebabnya.
Lugas Subarkah
Lugas Subarkah - Bisnis.com 10 Maret 2022  |  19:50 WIB
Arsip - Gunung Merapi saat terlihat meluncurkan lava pijar dari Turi, Sleman, Yogyakarta, Minggu (25/4/2021). - Antara/Hendra Nurdiyansyah
Arsip - Gunung Merapi saat terlihat meluncurkan lava pijar dari Turi, Sleman, Yogyakarta, Minggu (25/4/2021). - Antara/Hendra Nurdiyansyah

Bisnis.com, YOGYAKARTA - Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta mencatat, Gunung Merapi memuntahkan 17 awan panas hingga Kamis (10/3/2022) pukul 07.33 WIB.

"Tercatat di seismogram dengan amplitudo 55 mm dan durasi 172 detik. Jarak luncur kurang lebih 2.000 meter ke arah tenggara,” kata Kepala Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Hanik Humaida.

Dari pengamatan, awan panas yang mengarah ke tenggara tersebut bersumber dari material pada kubah lava tengah kawah--yang berdasarkan pengamatan terakhir bervolume 3,2 juta meter kubik.

Diketahui, guguran dari kubah lava tengah ini cukup jarang terjadi karena selama ini guguran didominasi ke arah barat daya yang bersumber dari kubah lava barat daya.

Aktivitas awan panas dari kubah tengah lava terakhir terjadi pada 25 Juni 2021 lalu, dengan jarak luncur yang jauh lebih kecil.

Sementara itu, Hanik menjelaskan jarangnya guguran dari kubah tengah kawah ini terjadi karena posisinya berada di tengah kawah, sehingga lebih stabil dan material hanya jatuh ke sekitar kawah.

Meski demikian, kubah lava ini terus tumbuh. Suplai magma dari dalam gunung terus berlangsung. Akumulasi tekanan dari suplai yang berlangsung terus-menerus ini menyebabkan ketidakstabilan.

Lalu, di sisi tenggara, terdapat bukaan yang merupakan tebung Kali Gendol. Ketika akumulasi tekanan itu mencapai batasnya, guguran keluar dari sisi tersebut secara terus-menerus.

“Sehingga begitu ada tekanan dan bukaan, terjadi awan panas yang menerus. Gugurannya relatif kayak ada guguran yang menerus. Ada susulan-susulan guguran. Ini mengindikasikan tekanan juga tidak cukup kuat sebenarnya, sehingga yang guguran tidak langsung lepas dalam jumlah massif,” ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

yogyakarta gunung merapi bpptkg

Sumber : JIBI/Harianjogja.com

Editor : Aliftya Amarilisya

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Banner E-paper
To top