Hasil Merger Indosat-Tri, Bisnis Menara Makin Moncer

Leo Dwi Jatmiko
Rabu, 13 Oktober 2021 | 09:49 WIB
Teknisi memasang prangkat base transceiver station (BTS) disalah satu tower di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (18/3/2020).
Teknisi memasang prangkat base transceiver station (BTS) disalah satu tower di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (18/3/2020).
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Penggabungan spektrum frekuensi hasil konsolidasi Tri - Indosat diprediksi memacu investasi masuk, yang ujungnya mendorong pertumbuhan bisnis menara telekomunikasi.

Meski secara perhitungan jumlah operator yang menyewa menara akan berkurang, kekuatan permodalan yang kuat dari masing-masing pemegang saham dan ruang bergerak yang lebih luas karena tambahan spektrum frekuensi, akan membuat inovasi dan penetrasi perusahaan gabungan menjadi lebih baik.

Wakil Direktur PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR) Adam Ghifari mengatakan salah satu alasan Hutchison melebur dengan Indosat karena jumlah spektrum frekuensi yang dimiliki sedikit, sehingga kurang ideal untuk investasi jangka panjang.

Tri hanya memiliki 2x10MHz di pita 1,8GHz dan 2x15MHz di pita 2,3GHz. Jumlah tersebut merupakan yang paling sedikit di antara operator seluler lainnya.

Hutchison dinilai memiliki keinginan untuk berinvestasi di Indonesia, hanya saja kepemilikan spektrum frekuensi sulit untuk ditambah.

Kesempatan penggabungan spektrum yang tertuang dalam undang-undang No. 11/2020 tentang Cipta Kerja, kata Adam, menjadi peluang bagi mereka untuk menambah spektrum frekuensi dengan merger.

“Mereka sebenarnya ingin investasi namun kepemilikan spektrum sulit untuk ditambah akhirnya ketika ada UU Cipta Kerja mereka [Tri] langsung merger dengan Indosat,” kata Adam kepada Bisnis.com, Selasa (13/10/2021).

Adam juga mengatakan susah untuk membandingkan sebelum merger dengan adanya Tri dan Indosat menyewa menara, lalu sesudah merger apakah lebih turun atau lebih banyak.

Alasannya, sebelum merger Tri memiliki spektrum di bawah idealnya operator, ketika Tri melebur dengan Indosat mereka mitra untuk tumbuh bersama.

Adam menganalogikan Tri seperti seseorang yang memiliki uang dan rumah, kemudian ingin memiliki mobil tetapi tidak bisa karena rumahnya tidak memiliki garasi. Garasi itu adalah spektrum frekuensi dan mobil adalah menara.

Untuk memiliki garasi, maka Tri mencari pasangan dalam hal ini Indosat. Setelah keduanya melebur dan frekuensi digabung, maka penjualan ‘mobil’ atau menara alih-alih berkurang karena jumlah pemain makin ramping, justru bertambah.

“Karena Tri ruang untuk berinvestasi, disebabkan bandwidthnya cukup. Sebelumnya spektrum Tri paling sedikit,” kata Adam.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Leo Dwi Jatmiko
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper