Siap-siap, Puncak Siklus Matahari Terjadi Tahun 2022, Ini Dampaknya pada Bumi

Mia Chitra Dinisari
Kamis, 7 Oktober 2021 | 11:54 WIB
Planet Matahari
Planet Matahari
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Peneliti Lapan memperkirakan pada tahun 2022, siklus Matahari akan mendekati puncaknya, sehingga aktivitas Matahari kemungkinan akan semakin meningkat.

Pada keadaan seperti ini, besar kemungkinan akan terjadi peningkatan frekuensi kemunculan flare dan lontaran massa korona, serta peningkatan kecepatan angin surya di Matahari akibat banyaknya aktivitas transien di Matahari. 

Peningkatan aktivitas Matahari ini akan memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap cuaca antariksa, terutama perubahan kerapatan plasma di lingkungan antariksa dekat Bumi.  

Tentu saja, kondisi cuaca antariksa ini juga akan memberi pengaruh terhadap satelit-satelit yang mengorbit Bumi, khususnya satelit yang berada di orbit rendah. Selain itu, aktivitas Matahari ekstrem dapat melepaskan partikel berenergi tinggi sehingga menyebabkan terjadinya Single Event Effect (SEE) yang dapat mengganggu performa komponen elektronika satelit.

Akibatnya, resiko pengurangan masa hidup satelit LAPAN A4 dan gangguan operasional satelit juga dapat terjadi. Namun, dampak pastinya akan sangat dipengaruhi oleh seberapa besar dan seberapa sering aktivitas ekstrem di Matahari terjadi.

"Sayangnya, prakiraan peristiwa flare atau lontaran massa korona di Matahari belum dapat dilakukan secara jangka panjang. Oleh sebab itu, pengamatan Matahari dan kondisi cuaca antariksa perlu dilakukan secara kontinu untuk mengantisipasi timbulnya dampak buruk terhadap satelit milik Indonesia yang mengorbit Bumi, seperti LAPAN A4," demikian penjelasan Lapan dikutip dari website resminya.

Siklus Matahari yaitu siklus sebelas tahun sekali ketika jumlah bintik matahari bervariasi. Pada periode teraktif, atau solar maximum, jumlah bintik Matahari lebih sampai puncaknya, sementara pada periode dengan cara terendah, atau solar minimum, jumlah bintik Matahari menjadi kurang sampai titik terendahnya. Periode solar Maximum terakhir berlangsung pada tahun 2001.

Siklus Matahari tidak selalu persis sebelas tahun sekali; siklus ini bisa muncul paling cepat dalam 9 tahun, dan paling lambat dalam 14 tahun.

Siklus ini pertama kali ditemukan oleh Heinrich Schwabe pada tahun 1843.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper