Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda
Paul Lumbantobing

Paul Lumbantobing

Dosen FEB Universitas Pelita Harapan
email Lihat artikel saya lainnya

Mem-BUMN-kan Telkomsel

Berbagai indikator utama perusahaan seperti pendapatan, keuntungan bersih, dan jumlah pelanggan Telkomsel besarannya sudah melampaui induknya, yaitu Telkom.
Bisnis.com - 11 Juni 2021  |  11:53 WIB
BTS Telkomsel yang menggunakan sumber energi ramah lingkungan melalui teknologi fuel cell. istimewa
BTS Telkomsel yang menggunakan sumber energi ramah lingkungan melalui teknologi fuel cell. istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Keberadaan Telkomsel akan memiliki dampak sinergis yang lebih luas karena tidak terbatas pada lingkup Telkom Group saja.

Walau akhir-akhir ini agak redup, Erick Thohir saat awal menjabat sebagai menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pernah menyampaikan keheranannya atas Telkomsel, anak usaha Telkom. Dia menyindir sistem bisnis di PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) Tbk. yang mendapat keuntungan dari anak usahanya yaitu Telkomsel.

“Enak jadi Telkom, Telkomsel dividen, revenue Telkomsel digabung ke Telkom hampir 70%. Lebih baik tidak ada Telkom. Langsung saja Telkomsel dimiliki oleh Kementerian BUMN, dividennya jelas,” kata Erick di Jakarta seperti dilansir Bisnis.com pada 12 Februari 2020 dengan judul “Erick Thohir Singgung Telkom (TLKM) Cuma Andalkan Telkomsel”.

Berbagai indikator utama perusahaan seperti pendapatan, keuntungan bersih, dan jumlah pelanggan Telkomsel besarannya sudah melampaui induknya yaitu Telkom.

Telkomsel adalah anak usaha yang dimiliki dan didirikan oleh Telkom, ketika memasuki teknologi seluler berbasis GSM. Pada pertengahan 1990-an, ada tiga operator GSM di Indonesia di mana Telkom memiliki saham untuk dua operator seluler berbasis teknologi GSM yaitu Telkomsel dan Satelindo dan satu lagi Excelcomindo yang berdiri tanpa penyertaan modal dari Telkom.

Telkom akhirnya mengonsentrasikan kepemilikannya di satu perusahaan saja yaitu Telkomsel dan Indosat mengonsentrasikan kepemilikannya di Satelindo. Posisi kepemilikan Telkomsel saat ini 65% Telkom dan 35% Singapore Telecommunication (Singtel).

Tren mobility yang makin luas, perkembangan layanan internet dan bisnis digital yang makin pesat, membuat ketergantungan masyarakat terhadap layanan seluler semakin tinggi.

Hal ini mengakibatkan Telkomsel mengalami pertumbuhan yang tinggi selama perjalanannya kecuali dalam periode 5 tahun terakhir. Induknya yang menguasai bisnis wireline mengalami penurunan pendapatan khususnya dari layanan voice berbasis jaringan tetap yang semakin tergerus dan bahkan sudah ditinggalkan pelanggan.

Tranformasi bisnis Telkom ke fixed broadband melalui Indihome walaupun menduduki posisi nomor satu di Indonesia dalam bisnis jaringan fixed broadband, belum mampu mengimbangi pertumbuhan dan kinerja Telkomsel. Sehingga ekosistem bisnis Telkom Group saat ini memiliki ketergantungan yang tinggi kepada keberadaan Telkomsel.

PLUS-MINUS

Secara teoritis dan praktis Telkomsel dapat dipisahkan dari induknya, Telkom dan langsung berada di bawah Kementerian BUMN. Biasanya skema aksi korporasi di atas kertas sangat sederhana, walau detailnya sangat kompleks.

Berbagai skenario dapat ditempuh untuk mengikatkan Telkomsel langsung ke Kementerian BUMN. Inti dari skenario apapun yang ditempuh bermuara kepada dua langkah: Telkom melepaskan sebagian atau seluruh kepemilikannya di Telkomsel dan pada saat yang sama Kementerian BUMN mengambil alih kepemilikan mayoritas tersebut.

Adapun, hambatan pertama yang dihadapi adalah apakah negara mau dan mampu mengalokasikan dana untuk membeli kepemilikan Telkom di tengah banyaknya prioritas yang membutuhkan dana besar seperti pembangunan infrastruktur dan program pemulihan ekonomi yang sedang berjalan saat ini?

Masalah selanjutnya yang lebih krusial dipertimbangkan dampak pemisahan Telkomsel terhadap ekosistem bisnis yang sudah dibangun oleh Telkom Group sejak lama. Dalam ekosistem tersebut ada berbagai sinergi rantai nilai yang bersifat vertikal dan horizontal sehingga mengeluarkan Telkomsel dari ekosistem bisnis tersebut tentu memiliki dampak yang signifikan terhadap keberadaan seluruh entitas dalam ekosistem bisnis Telkom Group.

Selain itu, perlu dilihat dampaknya terhadap Telkom sebagai perusahaan publik, perlu analisis dampak aksi korporasi ini dengan reaksi investor publik yang memiliki saham di Telkom. Tak dapat dipungkiri bahwa kinerja Telkomsel merupakan entitas yang paling menentukan nilai saham dari Telkom (TLKM) sehingga perlu dikaji kemungkinan pemberian opsi bagi pemegang saham Telkom untuk mengonversikan kepemilikannya dari Telkom ke Telkomsel jika langkah pemisahan akan dilaksanakan.

Apabila dilihat dari sisi positif, pemisahan Telkomsel berdampak positif bagi berbagai anak usaha Telkom yang selama ini sebagian besar bergantung kepada Telkomsel. Mereka akan dipaksa mandiri dan belajar menjalin kemitraan bisnis dengan korporasi dari luar Telkom Group, hanya mereka perlu diberi waktu untuk mengantisipasi skenario pemisahan ini.

Dampak positif berikutnya adalah Telkomsel akan dapat menjalankan bisnisnya dengan lebih leluasa dan dapat menjalin kerja sama bisnis yang lebih menguntungkan dengan korporasi lainnya. Dengan demikian, keberadaan Telkomsel akan memiliki dampak sinergis yang lebih luas karena tidak terbatas pada lingkup Telkom Group saja.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

BUMN telkomsel telkom
Editor : Feni Freycinetia Fitriani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top