Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Indonesia Tak Butuh Pusat Transparansi Keamanan Siber, Kenapa?

Indonesia dinilai belum membutuhkan pusat transparansi keamanan siber, tetapi lebih memerlukan kemampuan talenta digital.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 10 Juni 2021  |  20:59 WIB
Ilustrasi kejahatan siber. - Reuters/Kacper Pempel
Ilustrasi kejahatan siber. - Reuters/Kacper Pempel

Bisnis.com, JAKARTA – Indonesia dinilai belum membutuhkan untuk membangun pusat transparansi keamanan siber untuk mendukung perlindungan data pribadi masyarakat.

Chairman Indonesia Computer Emergency Response Team (ID-CERT) Budi Rahardjo mengatakan kebutuhan mendesak saat ini bagi keamanan data pengguna adalah kemampuan talenta keamanan siber.

“Saat ini kita masih belum membutuhkan pusat transparansi keamanan siber dan tidak perlu karena sudah ada BSSN [Badan Siber dan Sandi Negara]. Kenapa? Karena teknologi kita sudah baik, tetapi manusianya yang perlu di-upgrade,” ujarnya, Kamis (10/6/2021).

Dia melanjutkan, keamanan data memang selalu menjadi problematika setiap perusahaan digital, baik swasta hingga pemerintah. Namun, menurutnya terdapat tiga pihak yang patut disorot.

Pertama adalah penyedia aplikasi yang mana wajib mengamankan data pengguna. Kedua, pengguna seharusnya turut menjadi pihak yang menurutnya juga harus sigap terhadap keamanan data pribadinya.

"Tidak bisa juga keamanan data hanya diberikan pada perusahaan teknologinya saja. Kebocoran data itu bisa dari macam-macam. Inisiatif mengamankan data diri juga perlu tumbuh dari pihak konsumen," ujarnya.

Menurutnya, pengguna wajib untuk memilih aplikasi yang memiliki layanan kredibel dan menerapkan seminimal mungkin two-factor authentication (autentikasi dua faktor) dan sigap memperhatikan rekam jejak aplikasi yang digunakan.

Ketiga, pihak selanjutnya menurutnya adalah pemerintah yang harus menerapkan satu standar dalam mengelola sekaligus mengamankan dan mengelola data pribadi untuk kemudian menjadi pengawas.

Penyebabnya, pemerintah memiliki kewenangan untuk menerapkan sanksi jika terjadi pelanggaran. Tata kelolanya menggunakan ISO: 270001 agar lebih terstruktur dan jelas.

Budi meyakini tanpa memiliki talenta yang sigap dan andal terhadap keamanan data, maka sebaik apapun teknologi yang hadir berpotensi menjadi sia-sia.

Sekadar informasi, Huawei resmi membuka pusat transparansi keamanan siber global dan perlindungan privasi atau Global Cyber Security and Privacy Protection Transparency Center di China.

Rotating Chairman Huawei Ken Hu mengatakan keamanan siber menjadi salah satu hal yang sangat penting saat ini. Ibarat sebuah industri, setiap pihak harus saling bekerjasama, berbagi praktik-praktik terbaik, dan membangun kemampuan kolektif dengan pemerintahan, pemangku standar, teknologi dan verifikasi agar keamanan data terlindungi.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

serangan siber badan siber dan sandi nasional (BSSN)
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top