Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Waduh 30 Persen Startup Diproyeksi Tutup pada Semester I/2021

Hampir seluruh startup digital telah melakukan perubahan pada strategi bisnis mereka di mana 35 persen startup mengurangi gaji karyawan dan 12 persen di antaranya memangkas gaji karyawan hingga lebih dari 50 persen.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 04 Juni 2021  |  19:55 WIB
Ilustrasi startup. - olpreneur.com
Ilustrasi startup. - olpreneur.com

Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan rintisan (startup) digital diprediksi belum sepenuhnya kebal dari pandemi Covid-19. Pada 2021 masih ada yang bisnis startup yang berpotensi menutup layanan atau bangkrut.

Sekadar informasi, riset Katadata menuliskan bahwa di Indonesia hanya ada sebanyak 48,9 persen startup yang sanggup bertahan hingga 2021. Bahkan, demi memperpanjang umur perusahaan, hampir seluruh startup digital telah melakukan perubahan pada strategi bisnis mereka di mana 35 persen startup mengurangi gaji karyawan dan 12 persen di antaranya mengurangi gaji karyawan hingga lebih dari 50 persen.

Sementara itu, pada 2020 sejumlah perusahaan rintisan, satu persatu mulai berguguran, menutup layanan mereka secara permanen di Indonesia di antaranya Airy, Sorabel, Stoqo, Eatsy, dan Hooq.

Direktur Eksekutif ICT Insititute Heru Sutadi melihat tren tersebut akan bertahan hingga akhir semester I/2021. Tidak semua startup bisa bertahan menghadapi pandemi.

“Yang bangkrut [hingga akhir semester I/2021] sekitar 30 persen, meskipun tidak semua terungkap. Saat ini, sektor yang masih terancam itu dari travelling, akomodasi, kemudian startup baru juga berat terutama startup yang harus bersaing dengan layanan GoTo khususnya transportasi daring, pengiriman makanan, e-commerce, atau e-payment,” katanya, Jumat (4/6/2021).

Dia melanjutkan bahwa pada tahun ini semua sektor pun juga masih menghadapi persoalan yang sama karena pandemi belum usai dan bahkan belum terkendali.

Menurutnya, strategi dan antisipasi yang perlu untuk dilakukan saat ini adalah terus melakukan adaptasi bisnis, seperti pivot dan melakukan diversifikasi usaha ke industri 4.0.

“Kemudian, jangan masuk ke bisnis yang sudah ada unikorn atau decakorn. Jangan ke bisnis e-wallet atau e-payment. Jangan bisnis e-commerce dan travelling. Lakukan efisiensi atau kolaborasi dengan pemain lain, baik sejenis atau perkuatan ekosistem,” katanya.

Dia pun menyarankan agar turut berpartisipasi dengan menggandeng sektor lain dan merekrut talenta-talenta digital yang dibutuhkan untuk mendorong efektivitas perusahaan.

Sebagai informasi, Riset dari tim Content Marketing RevoU menunjukkan, startup digital di Asia Tenggara gencar merekrut pegawai baru saat pandemi Covid-19.

Berdasarkan kajian terhadap 31 perusahaan teknologi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, lima dari enam vertikal bisnis gencar menggaet pekerja baru saat pandemi Covid-19. Tercatat, hanya sektor pariwisata yang tumbuh negatif 14 persen.

Pertumbuhan perekrutan tenaga kerja paling tinggi terjadi pada sektor kesehatan dengan perolehan 26 persen dan pendidikan di angka 21 persen. Sementara itu, platform dagang elektronik dan transportasi masing-masing tumbuh 14 persen serta teknologi finansial (fintech) di angka 4 persen.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

StartUp ict
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top