Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mengenal Dugong, Keistimewaannya, dan Jumlahnya di Indonesia

Nama ilmiah dugong adalah “Dugong dugon”. Istilah “dugong” itu diambil dari bahasa Tagalog, “dugong”, yang bersumber dari bahasa Melayu, “duyung” atau “duyong” yang berarti “perempuan laut”.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 30 Mei 2021  |  13:35 WIB
Dugong - www.thenational.ae
Dugong - www.thenational.ae

Bisnis.com, JAKARTA - Dugong adalah salah satu dari 35 jenis mamalia laut di Indonesia, dan merupakan satu-satunya satwa ordo Sirenia yang area tempat tinggalnya tidak terbatas pada perairan pesisir. 

Nama ilmiah dugong adalah “Dugong dugon”. Istilah “dugong” itu diambil dari bahasa Tagalog, “dugong”, yang bersumber dari bahasa Melayu, “duyung” atau “duyong” yang berarti “perempuan laut”.

Tapi sayang, dikutip dari laman resmi KKP, dari 1,507 km2 luas padang Lamun (tumbuhan berbunga yang tumbuh membentuk padang rumput / padang lamun di dasar perairan pesisir yang dangkal) yang menjadi tempat bernaung habitat Dugong di Indonesia, hanya 5% yang tergolong sehat, 80% kurang sehat, dan 15% tidak sehat (LIPI, 2017).

Mamalia ini harus makan setidaknya 50 kilogram rumput laut setiap harinya. Ia dikategorikan sebagai binatang nokturnal atau binatang malam, yang artinya hanya akan mencari makan ketika malam hari.

Mamalia ini hanya bisa menyelam selama 6 menit untuk kemudian harus muncul ke permukaan untuk bernapas. Dugong kadang-kadang berada dalam posisi seperti berdiri dengan kepala berada di atas air untuk bernapas.

Dugong (duyung) berenang dengan kecepatan 10 km/jam hingga 22 km/jam. Gerakannya yang lambat, menyebabkan dugong sering menjadi mangsa mudah bagi predator. Predator alami dugong antara lain hiu besar, buaya air asin, dan paus pembunuh.

Dugong memiliki kemiripan fisik yang dekat dengan manatee. Keduanya terlihat cukup gemuk dan berkulit alot keabuan yang cenderung keriput namun sesungguhnya sangat erotot dan hidrodinamis. Kedua hewan ini menggunakan ekornya untuk berenang. Bila ekornya diayunkan naik-turun akan memberi daya dorong baginya untuk berenang maju ke depan, sedangkan bila dipelintir untuk gerakan membelok Manatee memiliki ekor yang lebih menyerupai dayung lebar, sedangkan dugong memiliki ekor yang lebi menyerupai lumba-lumba atau paus (Hutomo et al., 2011).

Kepala dugong besar dan papak, cocok untuk mengambil nafas dari udara di permukaan air. Dugng memakan lamun sebagai makannya yang paling utama dan memiliki rambut kasar di sekitar mulutnya yag berfungsi sebagai sensor ketika mencari lamun yang dapat dimakan.

Kebanyakan dugong jantan dan betina yang lebih tua memiliki gigi seri atas yang besar, yang di duga berperan saat mencari makanan berupa rimpang (rizhoma) lamun (Hutomo et al., 2011). Dugong memiliki sepasang anggota badan di bagian depan yang menyerupai sirip yang di gunakan sebagi keseimbangan dan untuk berenang sepanjang dasar laut saat mencari makannya. Dugong juga memiliki mata yang sangat kecil dan dapat memproduksi air mata .

Dalam klasifikasi hewan, dugong termasuk Class Mammalia yang mempunyai karakterisktik menyusui anaknya. Di bawah Class Mammalia dugong tergolong dalam Ordo Sirenia. Klasifikasi dugong lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 1. berikut.

Pertumbuhan dugong dan Bentuk fisik

Dugong mulai dewasa pada umur usia 10 tahun. Umur rata-rata dugong dapat mencapai hingga 70 tahun (Nishiwaki dan Marsh 1985). Panjang dugong dewasa jarang melebihi 3 meter dengan berat hingga sekitar 420 kg. Tetapi rekor dugong terberat tercatat sebesar 1.016 kg dengan panjang 4,06 m di pantai Saurashtra, di bagian sebelah barat India. Dugong betina cenderung sedikit lebih besar dari yang jantan.

Kulit dugong tebal dan halus dengan warna pucat ketika masih bayi, dan berubah menjadi warna abu-abu gelap kecoklatan di bagian punggungnya menjelang dewasa dan bagian perut dengan warna yang lebih terang. Warna dugong dapat berubah dengan pertumbuhan alga di kulitnya.

Sekujur tubuhnya diliputi dengan rambut-rambut halus dan pendek. Moncongnya yang tebal berbentuk bagai tapal kuda, menghadap ke bawah dengan bibir tebal yang ditumbuhi bulu-bulu kasar bagai sikat (bristles). Bulu-bulu kasar ini merupakan organ yang sangat sensitif yang digunakannya untuk mencari makan. Dugong mempunyai sepasang sirip yang tebal dan bertulang bagai lengan dan jari-jari, yang dapat berfungsi sebagai dayung penyeimbang bila berenang. Bila dugong mencari makan di dasar laut, sirip tebalnya dapat menopang tubuhnya untuk merayap ketika mencari makan.

Di ketiak kedua siripnya terdapat puting susu, yang sangat penting untuk menyusui anaknya. Lubang hidungnya terdapat di bagian atas kepalanya,mdan mempunyai katup yang dapat menutup dengan kedap bila dugong menyelam. Bila dugong naik ke permukaan untuk menarik napas, hanya ujung lubang hidungnya yang muncul di permukaan. Dugong dapat menyelam selama 3 – 5 menit untuk kemudian naik lagi ke permukaan untuk bernapas.

Mata dugong berukuran kecil, dan di dalam air yang acapkali keruh, pandangannya sangat terbatas. Bila diangkat keluar dari air, dugong dapat mengeluarkan cairan yang dikenal sebagai “air mata duyung”.

Telinga dugong tidak mempunyai cuping dan berukuran kecil yang terletak di bagian kiri dan kanan kepalanya. Dugong dapat mendengar suara dengan baik di dalam air. Dari tampak luarnya, sukar membedakan dugong betina dan jantan, karena bentuk luarnya boleh dikatakan sama (monomorphic). Salah satu petunjuk untuk membedakan jenis  kelaminnya adalah posisi celah kelaminnya (genital aperture) terhadap anus dan pusar (umbilicus).

Pada yang betina, celah kelaminnya (vagina) terletak lebih dekat ke anus. Alat kelamin jantan (penis) dugong berada dalam perut (abdominal) dan baru dikeluarkan lewat celah penis bila sang dugong dalam kondisi birahi. Otak dugong mempunyai berat maksimum 300 g, atau sekitar 0,1 % dari berat total tubuhnya. Paru-parunya berukuran sangat panjang, yang dapat melanjut sampai dekat ginjalnya. Ginjalnya sendiri juga sangat memanjang yang sesuai untuk fisiologinya menghadapi lingkungan yang berkadar garam.

Bila terluka, darah dugong akan cepat membeku. Kerangka dugong mempunyai 57sampai tulang belakang (vertebrae). Tengkoraknya berbentuk unik, gigi seri depan bagi yang jantan dapat memanjang, mencuat keluar dan membentuk gading. Susunan gigigeliginya sangat sesuai untuk mencari makan dan mencabut lamun makanannya dari dasar laut. Siripnya mempunyai tulang dengan susunan bagai jari-jari.

Dugong mengalami pachyostosis, yakni kondisi dimana tulang-tulang iga dan tulang-tulang panjang lainnya biasanya padat dan hanya mengandung sedikit sumsum. Tulang-tulang berat ini (yang merupakan terberat di antara semua hewan), berfungsi sebagai ballast atau pemberat yang memudahkannya menyelam dan mencari makan di dasar laut.

Jumlah dugong di Indonesia

Sampai saat ini data status populasi dugong yang ada di Indonesia belum diketahui secara pasti, hal ini dikarenakan minimnya survey yang di lakukan. Survei ekologis dugong memerlukan waktu, sumberdaya yang banyak dan biaya yang cukup mahal. 

Untuk mengetahui populasi dan keberadaan dugong telah dilakukan survey beberapa daerah yang tersebar di Indonesia. Balai Pengelolaan Submberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar pada tahun 2015 dan 2016 yang wilayah surveynya meliputi Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara dan Sulawesi Tenggara, ditemukan  dugong baik dalam kondisi hidup maupun mati.

Di Sulawesi Tengah, dugong dalam keadaan hidup ditemukan masing-masing sebanyak satu ekor, yaitu donggala sebanyak 4 kejadian, Parigi Moutong sebanyak 2 kejadian dimana kejadian kedua pada tahun 2016 dugong yang teramati sebanyak 10 ekor  di perairan, poso sebanyak 1 kejadian, tojo Una uUna sebanyak 3 kejadian, banggai sebanyak 1 kejadian. Pada tahun yang sama di Sulawesi selatan, ditemukan dugong masing-masing sebanyak 1 ekor, yaaitu di Luwu Timur, Luwu Utara, Pinrang, Pare-pare dan Barru sebanyak 1 kejadian, Pangkep dan Takalar sebanyak 12 kejadian, dan Selayar sebanyak 3 kejadian.

Di Minahasa Selatan, Sulawesi Selatan tepatnya di Taman Nasional Bunaken ditemuka dugong dalam keadaan hidup sebanyak 1 kejadian. Di Sulawesi tenggara, Pada 2015, dilaporkan dugong diketemukan dalam keadaan hidup sebanyak 1 ekor di Kolaka dan Buton Sebanyak 2 kejadian .


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perikanan perikanan
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top