Penggunaan Komputasi Awan oleh UMKM Terjadi Secara Bertahap

Leo Dwi Jatmiko
Minggu, 4 April 2021 | 15:08 WIB
Komputasi awan/Istimewa
Komputasi awan/Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Kebutuhan UMKM terhadap layanan komputasi awan akan meningkat seiring dengan perkembangan yang terjadi. UMKM yang awalnya hanya bergantung pada komputasi awan di ekosistem lokapasar, perlahan akan mengelola teknologi computing secara mandiri ketika skala bisnisnya naik kelas.

Ketua Bidang Network dan Infrastruktur Indonesian Digital Empowerment Community (IDIEC) Ariyanto A. Setyawan menjelaskan secara garis besar, UMKM yang bergerak di bidang teknologi akan menggunakan komputasi awan sebagai alat pendukung operasional.

Adapun untuk UMKM kecil atau yang baru bertransformasi ke teknologi, kata Ariyanto, akan menggunakan komputasi awan sebatas untuk menjangkau pasar yang lebih luas. 

Mereka bergabung dengan lokapasar seperti Bukalapak, Tokopedia dan lain sebagainya, yang secara tidak langsung akan masuk ke layanan komputasi awan di sejumlah lokapasar tersebut.

Ariyanto menjelaskan UMKM kecil belum menggunakan layanan komputasi awan yang terpisah karena secara bisnis masih kecil dan keterbatasan pengetahuan tentang penggunaan komputasi awan. Kondisi tersebut berubah seiring dengan peningkatan skala bisnis UMKM.

 “Kalau mulai membesar, UMKM membangun website sendiri dan memasarkan sendiri,” kata Ariyanto kepada Bisnis, Sabtu (4/4).  

UMKM tahap lanjut, kata Ariyanto, membutukan layanan komputasi awan untuk menyimpan dan mengelola data serta memahami kebutuhan pelanggan, sehingga dapat membantu proses pemasaran. Pada tahap ini, UMKM tidak bisa lagi hanya mengandalkan layanan komputasi awan milik lokapasar, karena secara kebutuhan sudah berbeda.     

Ariyanto berpendapat untuk masuk ke pasar UMKM tahap awal, perusahaan komputasi awan harus memiliki produk dengan tiga kriteria yaitu, harga yang terjangkau, memiliki kebanggan, dan mudah digunakan.

Adapun bagi UMKM teknologi, selain murah produk juga harus memiliki kualitas yang baik, cepat dan aman digunakan.  

“Komputasi awan tidak bisa datang hanya sekadar infrastruktur harus dilengkapi dengan sistem, aplikasi yang siap pakai karena UMKM tidak punya pengembang,” kata Ariyanto.

Sementara itu, Ketua Bidang Industri Aplikasi Nasional M. Tesar Sandikapura mengatakan bahwa ongkos terbesar perusahaan komputasi awan dalam memasarkan produk ke UMKM adalah ongkos untuk memberi literasi kepada UMKM.

Upaya edukasi dan meningkatkan pemahaman UMKM membutuhkan sumber daya manusia dan waktu yang tidak sebentar, sehingga membutuhkan biaya besar.

“Memberi edukasi agar mereka ingin beralih ke digital, itu ongkosnya lebih besar. Ongkos komputasi awan mungkin 1 bulan sekitar Rp100.000–Rp200.000,” kata Tesar.

Tesar juga berpendapat maraknya perusahaan komputasi lokal yang mengincar pasar UMKM disebabkan pasar korporasi sudah terisi oleh perusahaan komputasi awan besar dari luar negeri.

Untuk bersaing memperebutkan pasar UMKM pun, menurutnya, tidak mudah karena perusahaan komputasi asing juga mengincar segmen yang sama melalui skema kerja sama dengan lokapasar.

Tesar menilai dengan banyaknya UMKM yang layanan komputasi awannya dikuasai oleh asing, hakikatnya permasalahan yang muncul tidak hanya menyangkut persaingan usaha, tetapi juga keamanan data nasional, khususnya di sektor UMKM.

“Jadi, isunya masalah keamanan data. Ketika data UMKM dipegang pihak asing, itu masalah kedaulatan bangsa, digital ekonomi dikuasai pihak asing,” kata Tesar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Leo Dwi Jatmiko
Editor : Zufrizal
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper