Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tangkal Serangan Siber Jadi Modal Utama E-Commerce

Perusahaan e-commerce harus bisa eyakinkan pelanggan terkait dengan keamanannya sehingga orang dapat mempercayai seluruh proses transaksinya.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 23 Maret 2021  |  07:02 WIB
Kaspersky Cybersecurity Index - Istimewa
Kaspersky Cybersecurity Index - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan keamanan siber global Kaspersky menilai modus serangan siber melalui rekayasa sosial menjadi ajang persaingan baru bagi pelaku dagang elektronik (e-commerce) dan social commerce.

General Manager for Southeast Asia at Kaspersky Yeo Siang Tiong mengatakan platform mana yang paling memberikan rasa aman dan nyaman akan mampu memenangkan hati UMKM dan selaras untuk menarik konsumen hadir ke platform tersebut.

“November 2020, kami melakukan survei tentang Ekonomi Reputasi Digital dan di antara temuan utama kami adalah bahwa 51 persen pelanggan di Asia Tenggara sangat mempertimbangkan reputasi digital perusahaan,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Senin (22/3/2021).

Lebih lanjut, dia menjelaskan berita dan insiden yang dilaporkan dan dibagikan secara daring tentang suatu merek, baik itu e-commerce atau social commerce, menjadi indikator penting yang mempengaruhi masyarakat dalam menggunakan atau membeli produk dari merek yang terlibat dalam skandal atau berita negatif daring.

“Dengan menerapkan logika ini, pelanggaran data akan selalu menjadi berita negatif tentang sebuah perusahaan, besar atau kecil skala bisnisnya. Sebagai pelanggan, kita memberikan informasi kepada perusahaan daring dengan keyakinan bahwa mereka dapat mengamankannya [data masyarakat],” katanya.

Menurutnya, perusahaan e-commerce dan social commerce juga harus memahami betapa krusialnya data yang dimiliki. Untuk itu, mereka harus meyakinkan pelanggan terkait dengan keamanannya sehingga orang dapat mempercayai seluruh proses transaksinya.

Dia melanjutkan perusahaan juga mengungkap statistik kampanye phishing berkelanjutan terhadap bisnis mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Asia Tenggara.

Indonesia mencatatkan insiden terbanyak pada 2020 dengan upaya phising sebanyak 744,518 serangan ke UMKM. Indonesia juga resmi menyandang peringkat ke-16 secara global dan peringkat pertama di Asia Tenggara dengan kasus serangan siber tertinggi, khususnya rekayasa sosial dan phising.

Adapun, dalam hal penargetan phishing per negara di Asia Tenggara, Indonesia mencatatkan insiden terbanyak pada 2020, diikuti oleh Thailand, dan Vietnam di mana masing- masing mencatat lebih dari setengah juta percobaan ancaman siber tersebut.

Selain itu, Malaysia, Filipina, dan Singapura juga tidak luput menjadi target serangan phishing, dengan negara- negara ini mencatat sebanyak 795.052 upaya gabungan dari periode Januari hingga Desember tahun sebelumnya.

Tiong menjelaskan phising adalah salah satu metode paling sederhana dan efektif dan Indonesia telah menyumbang lebih dari 700.000 deteksi tahun lalu, dan ditargetkan pada UMKM di negara ini.

“Sayangnya, perusahaan e-commerce juga belum dapat menghentikan para penjahat dunia maya untuk berpura-pura menjadi mereka dalam menyebarkan serangan phishing, biasanya di media sosial,” ujarnya.

Dia melanjutkan mengingat perjuangan melawan pandemi belum berakhir, Kaspersky memprediksi bahwa tren utama pada tahun sebelumnya masih tetap relevan dalam beberapa waktu ke depan.

“Seiring penggunaan situs belanja online kita meningkat di tengah pandemi, maka itu akan terus menjadi target utama pelaku kejahatan siber karena platform ini berisi data pelanggan dalam jumlah besar termasuk data rahasia seperti detail kartu kredit misalnya,” ujarnya.

Dia melanjutkan, tahun lalu mereka telah melihat beberapa insiden pelanggaran data terhadap situs e-commerce teratas di seluruh wilayah yang melibatkan jutaan data pelanggan.

“Penelitian kami sendiri menunjukkan bahwa setiap pelanggaran data terhadap perusahaan di Asia Tenggara [SEA] dapat menelan biaya lebih dari US$ 1 juta,” ujarnya.

Dia mengatakan, saat ini faktor penting lainnya yang perlu dipertimbangkan adalah bagaimana pelaku kejahatan siber memanfaatkan pandemi untuk menargetkan para pengguna daring di Indonesia dan di seluruh Asia Tenggara.

“Kami telah menyaksikan beragam taktik, semuanya menunggangi Covid-19, dan sekarang vaksin. Tema semacam itu sangat dekat dengan situasi semua orang pada saat ini,” katanya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kaspersky e-commerce serangan siber
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top