Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kasus Jack Ma, Ekonom: Bisa Jadi Pelajaran Startup Indonesia

Perusahaan rintisan (startup) yang ada di Indonesia bisa menjadikan kasus Jack Ma sebagai pelajaran, terutama saat hendak melakukan ekspansi.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 06 Januari 2021  |  19:57 WIB
Ilustrasi startup -
Ilustrasi startup -

Bisnis.com, JAKARTA – Ekonom menilai perusahaan rintisan Indonesia perlu waspada terhadap kebijakan China yang menekan bisnis Jack Ma dengan mengeluarkan aturan baru untuk menyelidiki dugaan monopoli Alibaba dan meminta Ant Group merombak usaha.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan bahwa kejadian Alibaba yang ada di China ini akan berpengaruh terhadap rencana bisnis Alibaba ke depan, khususnya ekspansi perusahaan rintisan (startup) yang ada di Indonesia.

“Jadi, ini perlu diwaspadai ada dua hal yang perlu diwaspadai. Pertama startup yang bergantung pada dana asing, khususnya grup Alibaba [mereka] ini perlu segera menyiapkan exit strategy atau menyiapkan alternatif sumber pendanaan,” ujarnya saat dihubungi Bisnis.com, Rabu (6/1/2021).

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa alternatif sumber pendanaan bisa diperoleh dari modal ventura lainnya, atau bahkan akan memaksa startup ke dengan mempercepat mencari pendanaan melalui jalur penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) di bursa saham.

“Saat ini memang ada gelagat dari beberapa startup ke arah sana, seperti Tokopedia untuk mendapatkan pembiayaan melalui bursa saham, karena tidak bisa terus menerus mengandalkan dana dari Alibaba karena permasalahan ini cukup serius,” katanya.

Kedua, dia melanjutkan bahwa tekanan ini terkait anti monopoli kejadian di China yang akan memicu negara lain dan Indonesia untuk meningkatkan pengawasan terhadap praktek persaingan usaha yang tidak sehat, khususnya di sektor digital.

Menurutnya, hal ini karena pemain lama dan yang sudah besar dianggap sudah terlalu dominan, di mana beberapa pemain sudah terkonsentrasi sehingga pemain baru kesulitan untuk bersaing, baik e-commerce, transportasi daring, e-wallet, bahkan di fintech.

“Entry penghalang dibuat cukup tinggi sehingga pemain baru sulit untuk masuk. Ini menjadi pelajaran penting, ke depan pengawasan terkait pengawasan usaha digital akan makin ketat akibat Alibaba ini,” katanya.

Sekadar catatan, nama Jack Ma belakangan ramai menjadi perbincangan lantaran terbelit kasus dugaan praktik anti-monopoli di Alibaba Group. Adapun, kasus tersebut kini sedang diselidiki oleh Pemerintah China.

Dikutip melalui Business Insider, China pun menekan bisnis Jack Ma dengan mengeluarkan aturan baru, menyelidiki dugaan monopoli Alibaba, dan meminta Ant Group merombak usaha.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

StartUp
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top