Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Komputasi Awan Pacu Produktivitas Perusahaan hingga 50 Persen

Industri komputasi awan juga bakal membuka 75.000 lapangan kerja langsung dan 275.000 lapangan kerja secara tidak langsung, sehingga total sekitar 345.000 – 350.000 lapangan kerja hingga 2023.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 12 November 2020  |  21:18 WIB
Komputasi awan - Istimewa
Komputasi awan - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Boston Consulting Group (BCG), perusahaan konsultan manajemen global, menyebutkan bahwa kehadiran teknologi komputasi awan dibutuhkan dalam membantu perusahaan-perusahaan Indonesia untuk bertransformasi digital.  

Hasil studi Amazon Web Service (AWS) yang bekerjasama dengan Boston Consulting Group (BCG) mengenai pasar komputasi awan di Indonesia menyebutkan bahwa teknologi cloud sangat membantu dalam mendorong transformasi digital di Indonesia.

ASEAN Platinion Managing Director APAC Cyber & Engineering Lead Boston Consulting Group, Alain Schneuwly mengatakan kehadiran teknologi komputasi awan memberikan tiga manfaat dalam transformasi digital yakni efisiensi waktu, efisiensi biaya, dan kecepatan inovasi serta penetrasi pasar yang lebih baik.

Hasil studi menyebutkan bahwa pemanfaatan komputasi awan dapat memangkas 15 -40 persen biaya pembangunan infrastruktur teknologi informasi (TI) di suatu perusahaan.

Tidak hanya itu, dengan memanfaatkan komputasi awan, produktivitas perusahaan diperkirakan juga akan melonjak hingga 25-50 persen karena automasi proses bisnis.

“Penetrasi inovasi bisnis model juga bisa masuk lebih cepat ke pasar hingga 30-60 persen jika dibandingkan tanpa menggunakan komputasi awan,” kata Alain dalam konferensi virtual yang digelar BCG, Kamis  (12/11/2020).

Dalam laporannya disebutkan untuk 3 – 5 tahun ke depan, penerapan regulasi yang longgar terhadap industri komputasi awan akan membuat pemanfaatan komputasi awan publik di Indonesia meningkat dan mendominasi pasar hingga 62 persen.

Sementara itu komputasi awan privat dan pusat data On Premise masing-masing sebesar 21 persen dan 18 persen.  

Sementara itu, implementasi regulasi tingkat sedang akan membuat pemanfaatan komputasi awan publik, privat, dan On Premise hampir merata masing-masing 37 persen, 33 persen, dan 30 persen.

Penerapan regulasi yang ketat terhadap industri komputasi awan juga akan membuat sektor komputasi awan privat diuntungkan dengan pangsa pasar sekitar 53 persen sedangkan komputasi awan publik dan On Premise masing-masing sebesar 28 persen dan 20 persen.

“Dengan regulasi sedang, sebagian besar perusahaan telekomunikasi dan bank akan menjaga beberapa beban kerja di On Premise atau di cloud privat yang mereka miliki dan kelola, sementara itu beban kerja lainnya dimigrasi secara langsung ke komputasi awan publik,” kata Alain.

Adapun pada laporan sebelumnya, BCG memperkirakan jika industri komputasi awan di Tanah Air tumbuh sesuai dengan jalurnya atau dengan skenario normal, maka dampak terhadap perekonomian Indonesia diperkirakan mencapai US$36 miliar sepanjang 2019 – 2023.

Tidak hanya, industri komputasi awan juga bakal membuka 75.000 lapangan kerja langsung dan 275.000 lapangan kerja secara tidak langsung, sehingga total sekitar 345.000 – 350.000 lapangan kerja hingga 2023.

BCG juga memaparkan dua skenario alternatif pertumbuhan industri komputasi awan terhadap perekonomian Indonesia, yaitu  pertumbuhan lambat dan pertumbuhan besar atau yang disebut big bang.

Skenario Big Bang terjadi jika terjadi adopsi komputasi awan di lembaga-lembaga pemerintahan dan perusahaan komputasi awan swasta terus melakukan edukasi kepada masyarakat tentang penggunaan komputasi awan dan pelatihan yang melahirkan talenta digital.

Jika faktor-faktor ini terjadi, maka dampak ekonomi kumulatif diperkirakan sebesar US$53 miliar antara tahun 2019 dan 2023, atau 0,7 persen dari PDB.

Sekitar 125.000 pekerjaan akan dihasilkan dari dampak langsung dan 510.000 lapangan pekerjaan dilahirkan sebagai efek lanjutan. Jumlah ini hampir dua kali lipat dibandingkan dengan skenario dasar. 

Adapun dalam skenario pertumbuhan lambat terjadi jika pemerintah mengadopsi kebijakan yang kurang ramah komputasi awan untuk keamanan, klasifikasi data, dan aliran data lintas batas.

Perlambatan juga terjadi karena adanya kesenjangan pertumbuhan antara talenta digital dengan industri komputasi awan, atau jika infrastruktur pendukung tidak ditingkatkan secara signifikan sehingga komputasi awan publik (gratis) lebih banyak digunakan.

Skenario pertumbuhan yang lambat akan menghasilkan sekitar sepertiga dari pekerjaan langsung yang dapat dihasilkan oleh Skenario Big Bang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

cloud computing komputasi awan transformasi digital
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top