Pentingnya Pengembangan Infrastruktur Pembayaran Digital

Nirmala Aninda
Sabtu, 27 Juni 2020 | 07:16 WIB
Ilustrasi belanja online/Antara
Ilustrasi belanja online/Antara
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA -- Ke depan, konsumen diperkirakan untuk lebih banyak bertransaksi secara digital menggunakan platform online.

Survei yang dilakukan oleh Visa menunjukkan bahwa 56% konsumen di Indonesia akan meningkatkan belanja online mereka, jauh lebih tinggi dibandingkan persentase responden global sebesar 35% dan di Asia Pasifik sebesar 47%.

Dengan meningkatnya penggunaan metode pembayaran digital, satu hal penting yang perlu dipersiapkan sebelum memasuki era non-tunai adalah infrastruktur teknologi yang memadai.

Presiden Direktur PT Visa Worldwide Indonesia Riko Abdurrahman mengatakan bahwa untuk memfasilitasi kebutuhan itu, hal pertama yang perlu dipastikan adalah kesiapan atau acceptance dari merchant.

"Menurut saya sekarang itu masih banyak yang harus ditata. Kalau di kota besar saya rasa sudah tidak ada masalah. Metode cashless sudah menjadi bagian dari hidup dan masyarakat sudah terbiasa untuk melakukan pembayaran dengan kartu atau uang elektronik," ujarnya kepada Bisnis beberapa waktu lalu.

Namun di kota-kota kecil, acceptance metode pembayaran non-tunai di merchant tidak sebanyak di kota besar. Apalagi untuk merchant atau toko kecil yang tidak menggunakan sistem Point-of-Sale.

Riko menambahkan dari segi infrastruktur memang acceptance yang harus digerakkan lebih dulu.

Untuk itu, Visa menyelenggarakan Indonesia Acceptance Program di mana mereka bekerja sama dengan acquirer atau bank penerbit kartu dalam ekspansi acceptance metode non-tunai.

Program ini juga bertujuan untuk ekspansi kesiapan metode pembayaran non-tunai di e-commerce atau online merchant lainnya karena masih ada yang hanya menerima pembayaran melalui transfer tunai.

Survei Visa juga mencatat bahwa dari segi pengalaman berbelanja, 56% responden Indonesia mengatakan bahwa belanja online memberikan pengalaman yang lebih positif dibandingkan dengan belanja tatap muka, sementara hal yang sama diutarakan oleh 46% responden di Asia Pasifik dan 37% responden global.

"Maka dari itu, untuk mendukung kebutuhan ini kita harus pastikan kesiapan atau acceptance di merchant tersedia dan teknologinya memadai," kata Riko.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Nirmala Aninda
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper