Google dan Apple Bikin Teknologi Pelacakan Kontak Covid-19

Google dan Apple meluncurkan fase pertama dari teknologi pelacakan-kontak Covid-19.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 22 Mei 2020  |  17:47 WIB
Google dan Apple Bikin Teknologi Pelacakan Kontak Covid-19
Ilustrasi Virus Corona (Covid/19)

Bisnis.com, JAKARTA - Google dan Apple meluncurkan fase pertama dari teknologi pelacakan-kontak Covid-19, yakni sebuah application programming interface (API) pemberitahuan eksposur yang dapat digunakan oleh badan kesehatan umum untuk membuat aplikasi seluler mereka sendiri.

Berdasarkan laman The Next Web, perangkat lunak ini menggunakan Bluetooth untuk memperingatkan orang-orang jika mereka telah berhubungan dengan seseorang yang memiliki virus.

"Apa yang kami bangun bukanlah aplikasi melainkan lembaga kesehatan masyarakat akan memasukkan API ke dalam aplikasi mereka sendiri yang dipasang pada tiap orang," kata Apple dan Google dalam pernyataan bersama, Jumat (22/5/020).

Ketika seorang pengguna menyatakan bahwa mereka kemungkinan tertangkap Covid-19, sistem akan mengirimkan pemberitahuan ke ponsel dan iPhone Android lain yang telah ada di sekitarnya.

Idenya adalah untuk mengurangi infeksi dan membantu pemerintah memantau penyebaran virus. Namun, itu hanya akan efektif jika banyak orang menggunakannya, masalah yang telah menjangkiti sebagian besar aplikasi pelacakan kontak yang ada.

Apple dan Google mengklaim bahwa teknologi mereka menjaga privasi. pengguna dapat memutuskan apakah akan memilih untuk pemberitahuan paparan dan melaporkan diagnosis mereka.

Selain itu, sistem ini tidak menggunakan pelacakan data lokasi GPS, tidak seperti banyak aplikasi pelacakan kontak yang diluncurkan oleh pemerintah.

Teknologi ini menggunakan konsep contact tracing yang bertumpu pada Bluetooth untuk melacak pasien, di mana sistem ini memanfaatkan Bluetooth Low Energy (BLE) yang tidak menguras baterai smartphone saat diaktifkan.

Perusahaan juga menekankan bahwa perangkat lunak ini dirancang untuk menambah daripada menggantikan upaya penelusuran kontak yang ada. Otoritas kesehatan masyarakat akan memutuskan bagaimana notifikasi didorong di ponsel.

Apple dan Google mengklaim bahwa banyak negara bagian di Amerika Serikat (AS) dan 22 negara di lima benua berencana untuk menggunakan perangkat lunak untuk membangun aplikasi mereka sendiri.

Negara bagian Dakota Utara, Alabama, dan Carolina Selatan dan negara-negara termasuk Austria, Jerman, dan Swiss berencana untuk menggunakan teknologi ini.

Adapun negara lain, seperti Inggris, telah berupaya mengembangkan aplikasi mereka sendiri, tetapi upaya mereka terhambat oleh gangguan perangkat lunak dan kelemahan keamanan.

Namun, banyak peneliti teknologi meragukan bahwa perangkat lunak Apple dan Google akan banyak membantu. Mereka takut aplikasi itu akan memberikan rasa aman palsu, dan bahwa pemerintah akan menggunakannya sebagai pengganti untuk investasi vital dalam pengujian dan pelacakan kontak manusia.

Sementara, dikutip melalui Techcrunch, teknologi ini akan ada pada pembaruan iOS 13.5. Kemudian, untuk mengumpulkan data, ada tiga kunci yang digunakan yakni tracing key, daily tracing key (pelacak harian), dan rolling proximity identifier (pengidentifikasi kedekatan).

Sistem ini juga bisa mengidentifikasi pasien OTG (orang tanpa gejala) yang tanpa disadari bisa menularkan virus ke orang lain. Kesuksean software tersebut bergantung pada seberapa banyak sistem itu diadopsi oleh masyarakat.

Adapun, Apple dan Google mengatakan bahwa sistem ini akan dinon-aktifkan ketika pandemi telah usai.

"Teknologi ini ada di tangan lembaga kesehatan masyarakat di seluruh dunia yang akan memimpin dan kami akan terus mendukung upaya mereka," tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
google, apple, Virus Corona

Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
Editor : Rio Sandy Pradana
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top