Konsumsi Sirip Hiu di Jakarta 2 Ton per Tahun, WWF Desak Hentikan Konsumsi Hiu

Gloria Fransisca Katharina Lawi
Jumat, 15 Mei 2020 | 01:20 WIB
Nelayan memuat ikan hiu ke mobil di tempat pelelangan ikan Karangsong, Indramayu, Jawa Barat, Sabtu (5/1/2019)./ANTARA-Dedhez Anggara
Nelayan memuat ikan hiu ke mobil di tempat pelelangan ikan Karangsong, Indramayu, Jawa Barat, Sabtu (5/1/2019)./ANTARA-Dedhez Anggara
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - WWF Indonesia meluncurkan sosharks.wwf.id sebagai situs kampanye Save Our Sharks #SOSharks untuk mengajak publik, penyedia jasa pariwisata, dan pelaku industri hidangan laut agar menghentikan perdagangan dan konsumsi hiu

#SOSharks adalah sebuah kampanye untuk mengajak masyarakat menghentikan perdagangan hiu di Indonesia baik di supermarket, penjualan daring, dan restoran serta menghentikan segala bentuk promosi kuliner hiu di media massa atau sosial.

Berangkat dari kepedulian kelompok masyarakat dan beberapa organisasi masyarakat madani, #SOSharks diinisiasi pertama kali pada 2013 sebagai respon atas fakta ironi yaitu sering dijumpainya produk dengan bahan baku hiu yang tidak diketahui asal usulnya, serta tingginya permintaan konsumsi sirip hiu di Jakarta yang mencapai 2 ton per tahun.

Melalui sosharks.wwf.id masyarakat dapat menunjukkan komitmennya dengan menandatangani pledge dan menjadi “Shark Buddies” yang terlibat langsung dalam upaya monitoring konsumsi hiu di Indonesia sekaligus mengetahui langsung pelaku usaha yang bebas dari bahan baku hiu.

Direktur Kelautan dan Perikanan, WWF-Indonesia, Dr. Imam Musthofa Zainudin menjelaskan saat ini lebih dari 50 persen spesies hiu sudah masuk dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature’s (IUCN) dan beberapa di antaranya masuk kategori terancam punah (critically endangered), yang artinya tinggal selangkah lagi menuju kepunahan.

“Dengan tidak mengonsumsi hiu, maka kita memberikan ruang dan waktu pada hiu untuk pulih dan menjadi penyeimbang ekosistem laut, yang pada gilirannya membantu kelangsungan ketahanan pangan dari sektor perikanan kita,” kata Imam, Kamis (14/5/2020).

Imam memastikan, WWF akan terus mendukung segala upaya yang dilakukan oleh pemerintah dan semua pihak untuk melakukan berbagai upaya konservasi hiu. Namun demikian upaya yang dilakukan harus lebih besar dari tingkat laju kepunahan dari spesis hiu ini. Upaya untuk stop konsumsi produk hiu sementara hingga pulihnya populasi adalah bentuk dukungan dan wujud tanggung jawab dari produsen dan konsumen demi lestarinya ekosistem laut dan tersedianya bahan baku hidangan laut untuk seterusnya.

Dia menambahkan, sebagai alternatif ekonomi, hiu yang tetap lestari di alam dapat dimanfaatkan sebagai atraksi pariwisata bahari yang bertanggung jawab, dengan pelibatan aktif masyarakat. Imam menambahkan, sektor pariwisata bahari akan bisa memberikan manfaat ekonomi yang jauh lebih besar karena menyediakan mata pencaharian alternatif bagi masyarakat, dengan tetap menjaga kesehatan populasi hiu di alam.

Business Development Manager Bandar Djakarta Group, Shandra Januar menuturkan, Bandar Djakarta Group merupakan salah satu mitra kampanye #SOSharks. Perusahaan makanan seafood ini berhenti menjual dan menyajikan hidangan hiu sejak 2014 karena menyadari ancaman serius dari konsumsi sirip hiu terhadap ekosistem laut.

“Kami juga aktif mengajak pelaku usaha lain untuk segera mengambil langkah serupa demi kelestarian lingkungan dan juga menghindari risiko reputasi perusahaan akibat praktik usaha yang tidak bersahabat dengan alam dan lingkungan,” jelas Shandra.

Hiu adalah salah satu spesies yang populasinya terancam punah. Sebagai predator teratas, hiu mengontrol populasi hewan laut dalam rantai makanan di alam. Populasi hiu yang sehat dan beragam berperan penting untuk menyeimbangkan ekosistem laut, termasuk menjaga kelimpahan ikan-ikan bernilai ekonomi dan bernutrisi tinggi yang kita konsumsi.

Laporan TRAFFIC pada 2019, Indonesia masih menjadi negara penangkap hiu terbesar di dunia sepanjang 2007-2017. Penangkapan besar-besaran ini diakibatkan oleh tingginya permintaan pasar terhadap produk hiu, sehingga menyebabkan terganggunya keseimbangan rantai makanan dalam ekosistem laut yang berdampak negatif bagi ketahanan pangan Indonesia sekarang dan di masa mendatang.

Hingga saat ini gerakan global penurunan konsumsi hiu terus berjalan, salah satunya adalah sebanyak 18.000 jaringan hotel internasional tercatat telah menerapkan kebijakan untuk tidak lagi menyajikan makanan berbahan dasar hiu.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper