Wabah Corona, Pembangunan BTS Operator Seluler Bisa Terkendala

Wabah corona yang berkepanjangan, berpotensi mengganggu target pembangunan base transceiver station (BTS) oleh operator selular.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 26 Maret 2020  |  20:52 WIB
Wabah Corona, Pembangunan BTS Operator Seluler Bisa Terkendala
Teknisi memasang prangkat base transceiver station (BTS) disalah satu tower di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (18/3 - 2020).

Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan operator seluler diperkirakan tengah berada pada posisi wait and see terkait dengan rencana pembangunan base transceiver station (BTS) tahun ini.

Pasalnya, rencana tersebut dinilai sangat bergantung pada durasi pandemi virus corona (Covid-19).

Direktur Eksekutif ICT Indonesia mengatakan terdapat dua situasi yang dihadapi perusahaan operator seluler saat ini. Pertama, jika pandemi berlangsung singkat (1-2 bulan), maka pembangunan BTS dapat dilakukan sesuai dengan rencana awal.

Kedua, jika pandemi berlangsung dalam jangka waktu yang panjang, maka perusahaan harus memiliki perhitungan matang dan strategi tambahan terkait dengan rencana pembangunan BTS.

"Semua [operator seluler] wait and see. Kalau pandemi terus menyebar, kemungkinan dana capex disimpan untuk jaga-jaga," ujarnya kepada Bisnis, Kamis (26/3/2020).

Salah satu perusahaan operator seluler, yakni PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), tidak melakukan perubahan atas rencana pembangunan BTS. Perusahaan memastikan rencana tersebut masih sesuai dengan target belanja modal awal.

Adapun, Deputy CEO PT Smartfren Telecom Tbk. Djoko Tata Ibrahim mengatakan rencana pembangungan BTS untuk sementara waktu belum mengalami perubahan. Namun, perusahaan akan melihat kembali jika bulan depan situasi tak kunjung membaik.

Proses pembangunan BTS yang sedang berjalan pun dikatakan relatif cenderung stabil. Pasalnya, ujar Djoko, bahan-bahan yang diperlukan untuk pembangunan BTS telah dipersiapkan sehingga perusahaan tidak perlu melakukan pembelian dari luar negeri.

"Peralatan yang diperlukan sudah dipersiapkan oleh perusahaan. Sampai dengan saat ini, smartfren telah berhasil membangun sekitar 2.500 BTS di hampir seluruh wilayah Indonesia, kecuali wilayah daerah terluar, terdepan dan tertinggal (3T)," ujar Djoko kepada Bisnis, Kamis (26/3/2020)

Djoko mengungkapkan perusahaan saat ini masih dalam tahap pembahasan rencana penyesuaian jika pandemi berlangsung lama. Penyesuaian perlu dilakukan dengan mempertimbangkan faktor kesehatan di wilayah-wilayah yang akan dibangun BTS.

Di sisi lain, Vice President Corporate Communications Telkomsel Denny Abidin mengatakan perusahaan mengalokasikan belanja modalnya tahun ini dengan rasio 13 - 14% persen dari pendapatan perusahaanu ntuk penguatan kualitas dan penambahan kapasitas jaringan, serta penerapan strategi kolokasi untuk mendukung permintaan data pelanggan.

Dia menambahkan, proses belanja modal perusahaan tahun ini sudah dimulai sejak akhir tahun lalu serta sejalan dengan strategi multivendor yang dijalankan, sehingga keperluan kapasitas sampai dengan Idulfitri diperkirakan masih sangat mencukupi.

Kemudian, lanjut Denny, meredanya pandemi virus corona di sejumlah negara, termasuk China, membuat perusahaan optimistis dengan rencana pembangunan BTS tahun ini.

"Meski demikian, porsi alokasi belanja modal Telkomsel yang difokuskan untuk pembangunan BTS serta optimalisasi kualitas dan kapasitas jaringan juga disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan pelanggan serta pertimbangan kondisi saat ini, termasuk kapabilitas IT untuk mendukung bisnis digital Telkomsel," ujarnya (26/3/2020).

Sebagai informasi, Telkomsel berencana menambah sekitar 23.000 unit BTS) 4G baru pada 2020. Sementara itu, Smartfren berencana menggunakan belanja modal perusahaan untuk membangun kurang lebih 10.000 BTS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bts, operator telekomunikasi, Virus Corona

Editor : Yustinus Andri DP
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top