Kasus Jiwasraya Berdampak Negatif ke Fintech Reksa Dana

Mega skandal PT Asuransi Jiwasraya (Persero) yang merembet ke industri pasar modal, khususnya industri reksa dana, menjadi kendala tersendiri bagi para pelaku usaha terkait, tak terkecuali perusahaan finansial teknologi yang memasarkan produk investasi tersebut.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 18 Februari 2020  |  23:58 WIB
Kasus Jiwasraya Berdampak Negatif ke Fintech Reksa Dana
Warga melintas di dekat logo Asuransi Jiwasraya di Jakarta. Bisnis - Abdurahman

Bisnis.com, JAKARTA – Merambatnya dampak skandal PT Asuransi Jiwasraya (persero) terhadap perusahaan rintisan finansial teknologi (fintech), membuat PT Bareksa Portal Investasi (Bareksa) memperketat penyaringan produk reksadana perusahaannya.

CEO Bareksa Karaniya Dharmasaputra pun menyayangkan kasus yang terjadi atas skandal yang terjadi, menurutnya hal ini menghambat pertumbuhan dari pasar reksa dana di Indonesia.

“Memang kejadian ini [skandal Jiwasraya] sangat kita sayangkan. Sebab Bareksa dan juga pihak lainnya bersama dengan OJK [Otoritas Jasa Keuangan] sudah mempelopori pasar reksa dana yang selama ini dipandang elitis dan kurang menyentuh masyarakat awam, menjadi dikenal dengan demokratisasi investasi,” ungkapnya saat dihubungi Bisnis, Selasa (18/2).

Menurutnya, saat ini dengan bantuan teknologi keuangan, instrumen investasi, khususnya reksa dana semakin  menjangkau masyarakat dalam artian makin luas. Kemudian, Karaniya  mengklaim bahwa total pengguna reksa dana saat mencapai angka 2 juta orang, yang mana Bareksa menyumbang 45 persen dari total tersebut.

“Terjadi pertumbuhan investor ritel yang luar biasa, dengan kasus jiwasraya ini sungguh merugikan, bareksa setuju para pelaku di kasus Jiwasraya harus ditindak tegas karena membahayakan kedalaman pasar yang sudah dilakukan fintech reksadana selama ini,” lanjutnya.

Namun, demikian dia mengatakan bahwa perusahaan akan tetap  melakukan antisipasi terhadap risiko yang bisa muncul ke depan. salah satu langkahnya adalah dengan melakukan penyaringan produk reksa dana yang bisa dipasarkan.

“Kami juga memperketat penyaringan dari produk reksadana yang bisa dipasarkan oleh pihak kami,” lanjutnya.

Strategi ke depan yang dilakukan oleh Bareksa menurut Karaniya adalah sinergi antara e-commerce, e-money, dan e-investment.

“Kami melihat terjadi pertumbuhan dan edukasi masal di industri reksa dana semenjak adanya sinergi antara e-commerce dan e-investment, lewat Tokopedia dan Bukalapak sehingga saat ini kami sedang melakukan sinergi antara e-invesment dan e-money  langkah pertamanya kami melakukan terobosan pembayaran. Seperti yang sudah kami saksikan di dua tahun belakangan ini,”  jelasnya.

Selain akses yang baik, Karaniya mengatakan bahwa edukasi juga menjadi kata kunci pertumbuhan dari reksa dana. Dia mengatakan bahwa pihaknya melakukan edukasi dengan menyediakan konten, data, yang tujuannya mengedukasi calon nasabah, yang membutuhkan informasi tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
reksadana, jiwasraya

Editor : Yustinus Andri DP
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top