Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Industri Fintech Mulai Fokus Ke Kredit Produktif

Pembiayaan ke sektor produktif menjadi salah satu cara fintech P2P lending untuk memperluas pangsa pasarnya.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 11 Februari 2020  |  23:45 WIB
Reynold Wijaya (CEO & Co-Founder Modalku) dan Iwan Kurniawan (COO & Co-Founder Modalku). - Istimewa
Reynold Wijaya (CEO & Co-Founder Modalku) dan Iwan Kurniawan (COO & Co-Founder Modalku). - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah perusahaan teknologi finansial (tekfin/fintech) peer to peer lending mulai mengarahkan fokus pembiayaannya ke sektor produktif untuk memperluas pangsa pasarnya.

Co-Founder & CEO Modalku Reynold Wijaya mengatakan bahwa PT Mitrausaha Indonesia Grup (Modalku) berfokus untuk mendongkrak akses pembiayaan terhadap usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk memperkuat sektor UMKM di Indonesia.

“Saat ini bisnis Modalku memang fokus terhadap pembiayaan produktif kepada UMKM Indonesia untuk melancarkan arus kas mereka. Tentu upaya Modalku untuk memperluas jangkauan pasar kami adalah terus melakukan edukasi serta bekerjasama dengan berbagai pihak, seperti BPR dan e-commerce,” ungkapnya saat dihubungi Bisnis, Selasa (11/2/2020)

Reynold mengatakan strategi yang ditempuh pihaknya adalah menyediakan produk yang disesuaikan dengan target pasarnya.

“Kami memiliki produk Invoice Financing yang diperuntukkan bagi perusahaan- perusahaan yang memerlukan pinjaman berbasis invoice. Kemudian Modalku bekerjasama dengan beberapa e-commerce untuk menyediakan pinjaman terhadap merchant online yang tergabung di e-commerce tersebut.

Adapun untuk segmentasi mikro seperti pedagang pasar, Reynold mengatakan pihaknya menyediakan produk Modal Pasar yang dirancang sesuai dengan karakter mereka.

Sementara itu, ketika membahas tantangan Reynold mengatakan bahwa khusus untuk P2P lending, tantangan yang masih dihadapi adalah edukasi dan informasi kepada UMKM, khususnya segmen mikro.

“Melalui edukasi dan berbagai informasi, harapannya UMKM akan lebih memahami bisnis P2P Lending yang bertujuan menjadi solusi pendanaan bagi UMKM dalam mengembangkan bisnisnya,” terangnya.

Selain itu dengan maraknya fintech ilegal, Reynold menyatakan bahwa mengenai edukasi dan cara memilih perusahaan P2P Lending yang tepat perlu dilakukan secara terus menerus.

“Kami ingin ajak masyarakat untuk menggunakan layanan pinjaman daring yang telah terizin atau terdaftar di OJK [otoritas jasa keuangan], karena Fintech yang terdaftar memiliki standardisasi khusus, seperti mengatur bunga, pola penagihan, hingga transparansi informasi,” jelasnya.

Senada dengan pendapat tersebut, VP of Marketing KoinWorks Frecy Ferry Daswaty mengatakan bahwa saat ini seluruh pinjaman di KoinWorks memang bersifat pinjaman produktif.

“terdapat dua jenis produk pinjaman produktif yang ditawarkan oleh KoinWorks, yaitu Pinjaman bisnis (KoinBisnis) dan pinjaman pendidikan (KoinPintar),” terangnya.

Adapun, tantangan terbesar saat ini menurut Frecy adalah edukasi kevmasyarakat terkait pinjaman itu sendiri, karena dia mengatakan bahwa masih banyak masyarakat di Indonesia yang menganggap bahwa pinjaman untuk bisnis dan pendidikan adalah hal yang tabu.

“Dari dulu hingga sekarang kami selalu aktif dalam melakukan edukasi dan sosialisasi terkait peer to peer lending dan pinjaman produktif ini kemasyarakat baik melalui aktifitas online dan offline,” terangnya

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kredit kredit produktif fintech
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top