Akomodasi Investor Startup, Penyempurnaan Regulasi Diperlukan  

Peraturan dan regulasi yang ada di Indonesia dinilai masih belum mengakomodasi ketentuan mengenai struktur modal ventura yang dibutuhkan oleh industri perusahaan rintisan (startup) dan para investor.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 10 Februari 2020  |  22:14 WIB
Akomodasi Investor Startup, Penyempurnaan Regulasi Diperlukan  
Ilustrasi - investama.co.id

Bisnis.com, JAKARTA – Investor perusahaan rintisan di Indonesia menilai Indonesia perlu memperkuat peraturan mengenai struktur pendanaan ventura, untuk menjaga iklim usaha industri tersebut.

Bendahara Amvesindo Edward Ismawan Chamdani menilai di Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No.34/2018 tentang Penilaian Kembali Bagi Pihak Utama Lembaga Jasa Keuangan, POJK No.35/2018 tentang Penyelenggaraan Usaha PMV,  dan POJK No.36/2018 tentang Tata Cara Pemeriksaan di Sektor Pasar Modal, perlu direvisi dan diperkuat.

Pasalnya dalam ketiga ketentuan itu masih belum mengakomodasi ketentuan mengenai struktur modal ventura yang dibutuhkan oleh industri perusahaan rintisan (startup) dan para investor.

"Sehingga beberapa mitra legal, seperti notaris, agak bingung karena dana ventura belum memiliki NPWP dan payung hukum. Jadi, pencatatan nya jadi agak membungungkan bagi investor," ujarnya kepada Bisnis, Senin (10/2/2020).

Di sisi lain, dia juga mengharapkan perusahaan rintisan tidak cepat menyerah dengan meninggalkan investor apabila mengalami kendala, seperti kesulitan mengembangkan bisnisnya atau kesulitan dalam melakukan penghimpunan dana lanjutan. 

Kecenderungan perusahaan untuk 'menyerah' tersebut mendorong pihak investor untuk melirik perusahaan rintisan yang memiliki persistensi dan kredibilitas tinggi.

Dihubungi secara terpisah, Head of Corporate Communications Bukalapak Intan Wibisono mengatakn perusahaan rintisan dinilai harus fokus dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, keuntungan, dan inovasi untuk menjaga kepercayaan investor.

Dia menilai ketiga hal tersebut merupakan perhitungan yang logis yang harus dimiliki perusahaan rintisan.

"Sehingga, pengeluaran irasional yang agresif kami rasa sudah tidak efektif lagi dijalankan, terutama di Bukalapak," ujar Intan kepada Bisnis, Senin (10/2/2020).

Intan malanjutkan, Bukalapak akan tetap berinvestasi sebagai upaya pengembangan perusahaan, serta secara konsisten bertanggung jawab terhadap sumber daya yang diberikan oleh pemegang saham.

Walau tentu saja, kami tetap akan berinvestasi dalam mengembangkan perusahaan, namun kami akan selalu mencoba untuk bertanggung jawab terhadap sumber daya yang diberikan oleh pemegang saham.

"Bukalapak konsisten dengan komitmen untuk menghasilkan produk dan layanan yang inovatif, menargetkannya ke pasar yang tepat dan sesuai kebutuhan, dengan cara yang efisien, dan tentu saja membawa dampak positif yang seluas-luasnya bagi masyarakat Indonesia," ujar Intan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
modal ventura, StartUp, investasi

Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
Editor : Yustinus Andri DP
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top