Ini Penyebab Masyarakat Sulit Beralih Ke Pembayaran Digital

Masyarakat masih belum memahami secara maksimal manfaat uang elektronik di sisi keamanan dan pengalaman pengguna.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 07 Februari 2020  |  18:51 WIB
Ini Penyebab Masyarakat Sulit Beralih Ke Pembayaran Digital
Sales Promotion Girl (SPG) menunjukkan aplikasi LinkAja di Jakarta. Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Pemanfaatan pembayaran digital (digital payment) oleh masyarakat Indonesia, sejauh ini masih belum optimal, lantaran masih didasari oleh insentif promosi.

Head of Corporate LinkAja Putri Dianita Ruswaldi mengatakan, kondisi itu menuntut para pelaku usaha pembayaran digital memperkuat proses edukasinya ke masyarakat.  Menurutnya, masyarakat masih belum memahami secara maksimal kegunaan uang elektronik di sisi keamanan dan pengalaman pengguna.

“Untuk itu, perlu semacam pemicu di sisi edukasi ke masyarakat, agar potensi pasar digital payment Tanah Air bisa melonjak menjadi US$30 miliar atau setara Rp459 triliun pada 2020," ujar Putri kepada Bisnis.com, Jumat (7/2/2020).

Adapun, Merujuk riset yang dilakukan MDI Ventures & Mandiri Sekuritas, volume transaksi pembayaran digital pada tahun lalu diperkirakan mencapai US$16,4 miliar. Nilai itu setara dengan 2% dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia sebesar US$888,6 miliar. 

Selain itu, menurut Putri, seluruh perusahaan pembayaran digital memiliki tugas memperluas jangkauan layanan uang elektronik ke seluruh wilayah Tanah Air. Jangkauan tersebut salah satunya difokuskan kepada masyarakat yang belum memiliki akses perbankan untuk memperkuat inklusi keuangan di Indonesia.

Berdasarkan data Google Temasek e-Conomy SEA 2019, dari sekitar 180 populasi dewasa di Tanah Air, terdapat sebanyak 92 juta penduduk yang belum memiliki akses ke sektor perbankan.

Sebagai strategi, lanjut Putri, LinkAja bekerja sama dengan PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) dan jaringan Himpunan Bank Negara (Himbara) untuk mendorong ekosistem transaksi keuangan nontunai dan inklusi keuangan yang holistik ke ratusan ribu titik akses keuangan di Indonesia.

"Fokusnya tertuju pada pemenuhan kebutuhan pembayaran mendasar seluruh kalangan masyarakat Indonesia, khususnya segmen mass market dan upper mass market di daerah sub-urban, serta membuka akses seluas-luasnya kepada segmen unbanked dan underbanked," ujarnya.

Selain itu, menurutnya, perusahaan juga bekerja sama dengan pemerintah daerah dalam melakukan digitalisasi pasar, digitalisasi pembayaran pajak dan retribusi, serta penetrasi ke berbagai kampus di seluruh Indonesia untuk mencapai hal tersebut.

Adapun, LinkAja memproyeksikan industri uang elektronik berpotensi memberikan kontribusi hingga 8% terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada 2023. Nilai itu hampir 6 kali lipat dari kontribusi pada tahun lalu, yakni 1,4%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
uang elektronik, uang digital, LinkAja

Editor : Yustinus Andri DP
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top