Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Startup Pembayaran Digital Harus Segera Stop "Bakar Duit" 

Tren promosi menggunakan diskon yang dilakukan perusahaan rintisan atau startup teknologi finansial berbasis pembayaran digital dianggap tak akan membawa banyak dampak positif untuk masyarakat.
Lalu Rahadian
Lalu Rahadian - Bisnis.com 07 Desember 2019  |  01:09 WIB
Karyawan melintas di gerai transaksi pembayaran digital OVO, di Jakarta, Senin (25/3/2019). - Bisnis/Endang Muchtar
Karyawan melintas di gerai transaksi pembayaran digital OVO, di Jakarta, Senin (25/3/2019). - Bisnis/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA – Tren promosi menggunakan diskon yang dilakukan perusahaan rintisan atau startup teknologi finansial berbasis pembayaran digital dianggap tak akan membawa banyak dampak positif untuk masyarakat.

Ekonom INDEF Bhima Yudhistira menegaskan promosi dengan iming-iming diskon atau cashback hanya akan membuat masyarakat tergantung dengan keberadaan tawaran tersebut. Alhasil, jika suatu saat potongan harga tak diberikan bisa jadi penggunaan produk pembayaran digital berkurang.

“Karena di era digital ini enggak ada loyalitas konsumen sama sekali. Nanti ada pemain baru yang bakar uang, kita akan switch, segampang itu. [Promosi dengan cara] bakar uang ini punya banyak kelemahan, salah satunya tidak sustainable,” ujar Bhima, Jumat (6/12/2019).

Bebeapa tahun terakhir jamak ditemukan tawaran promo diskon yang diberikan startup pembayaran digital. Tawaran-tawaran ini muncul di tengah berkembangnya industri startup berbasis pembayaran digital.

Hingga kini sejumlah startup yang bermain di ranah pembayaran digital di antaranya PT Visionet Internasional (OVO), PT Espay Debit Indonesia Koe (Dana), dan PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gopay).

Bhima menyebut model promosi uang digital seperti selama ini bisa berdampak buruk jika terus dilakukan pada 2020. Alasannya, pada 2020 diprediksi kondisi ekonomi belum sepenuhnya membaik.

“Di sisi persaingan usaha enggak sehat, pemain baru jadi susah masuk. Bagi sustainabilitas bisnis itu juga nggak berkelanjutan kalau mengandalkan investasi terus. Yang dijual harusnya inovasi produknya,” tutur Bhima.

Menurut Bhima, seharusnya para startup di pembayaran digital bersaing dan saling adu inovasi alih-alih membakar modalnya dengan pemberian promo. Para pemain di industri ini juga didorong agar serius menjalin kolaborasi dengan bank untuk memperbesar ekosistem bisnisnya.

Untuk mendorong idenya, Bhima menyarankan regulator segera mengatur tentang batasan promosi yang bisa dilakukan para startup di bidang pembayaran digital.

Pembatasan, ujar Bhima, bisa menekan potensi kerugian dan dampak negatif dari praktik pemberian diskon yang selama ini jamak dilakukan startup.

“Karena kalau ada masalah kan yang disalahkan regulatornya juga. Too big to be failed, padahal ada banyak dana masyarakat masuk ke sana,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dompet digital StartUp
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top