Talenta Industri Digital Kian Diburu

Keterbatasan sumber daya manusia di bidang teknologi memunculkan perang talenta atau talent war diantara startup dan pelaku industri digital.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 12 Oktober 2019  |  06:05 WIB
Talenta Industri Digital Kian Diburu
Startup - olpreneur.com

Bisnis.com, JAKARTA - Salah satu aspek penting dalam pengembangan industri digital, termasuk startup dengan valuasi jumbo adalah sumber daya manusia yang cakap. Sementara industri teknologi dan dunia startup sedang gencar digenjot pertumbuhannya oleh pemerintah, pasokan talenta handal masih menjadi soal.

Keterbatasan sumber daya manusia di bidang teknologi ini memunculkan perang talenta atau talent war diantara startup dan pelaku industri digital. Chief People Officer PT Global Tiket Network (tiket.com) Dudi Arisandi mengakui ada tantangan dalam menjaring talenta di bidang teknologi karena pasokan yang terbatas. Dia terutama menggearisbawahi pasokan talenta di bidang digital dengan kemampuan setara ahli atau advance.

"Ada gap antara resource-nya yang terbatas dan perusahaan-perusahaan teknologi yang banyak, sehingga ada talent war dan saling rebutan," ujarnya.

Dudi menjelaskan, untuk memenangkan perang talenta di industri digital, pihaknya melakukan sejumlah upaya employer branding, baik dari sisi internal maupun external. Di internal perusahaan, tiket.com menjaga lingkungan kerja yang kondusif dan menyenangkan. Harapannya karyawan yang nyaman bekerja akan memberi testimoni dan menarik talenta potensial di luar sana.

Sedangkan secara external, tiket.com merapat dan menjalin kerjasama dengan sejumlah universitas ternama. Tidak hanya dalam hal penjaringan talenta digital, tetapi juga bentuk-bentuk lain seperti menjadi dosen tamu atau pemateri pada seminar-seminar. Selain itu, tiket.com juga membuka pintu bagi masyarakat umum melalui program Kata Tiket.

"Kami mengundang org untuk datang dan teman-teman ada yang sharing, contoh tentang data engineering. Pesertanya dari perusahaan lain, kampus, e-commerce, dan ini rutin setiap bulan," jelasnya.

Sementara itu dalam menjaring talenta, Dudi menerapkan prinsip HAPPY, terdiri atas hunger, acountability, people, passion dan (be) yourself. Hunger berarti keinginan untuk belajar dan bekerja yang tinggi, acountability yakni persona yang bertanggungjawab, people yaitu bisa menjadi bagian dari tim, passion yang kuat, serta be yourself atau menjadi diri sendiri.

 

Dudi melanjutkan, persoalan pasokan sumber daya manusia dunia digital memang menjadi pekerjaan rumah bersama, antara indutri, pemerintah dan dunia pendidikan. Menurutnya, talenta Indonesia di bidang digital dan teknologi punya potensi untuk dikembangkan meskipun saat ini kemampuannya belum merata.

Dia berharap dengan potensi besar dan momentum emas yang dimiliki Indonesia saat ini, semua pihak bisa bergandengan tangan menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan ekonomi digital.

"Ini menjadi tantangan buat dunia pendidikan, buat yang punya regulasi, bagaimana caranya supaya digital industry ini jadi industri masa depan yang harus didukung semua pihak," jelasnya.

Sementara itu, secara profil sumber daya manusia, tiket.com memiliki 700 orang punggawa, dengan 70% diantaranya menopang bagian teknologi dan digital dari mulai IT support, programming, data hingga quality assurance. Sebanyak 86% dari total karyawan termasuk generasi milenial (lahir 1981-1994), 11% generasi Z (lahir 1995-2010) dan sebagian kecilnya atau 3% generasi X (lahir 1965-1980).

Setelah didirikan pada 2011, pada 2017 tiket.com diakusisi oleh Blibli. Kini tiket.com bersiap untuk menjadi unicorn selanjutnya yang dimiliki Indonesia, menyusul Go-Jek, Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
StartUp

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top