Akselerator Startup Asal Singapura: Antler Bakal Ekspansi ke Indonesia

Antler, akselerator perusahaan rintisan asal Singapura, berencana untuk ekspansi ke Indonesia pada semester kedua tahun ini untuk membantu lahirnya perusahaan rintisan dengan ide inovatif.
Deandra Syarizka
Deandra Syarizka - Bisnis.com 09 September 2019  |  06:51 WIB
Akselerator Startup Asal Singapura: Antler Bakal Ekspansi ke Indonesia
Logo Antler

Bisnis.com, JAKARTA — Antler, akselerator perusahaan rintisan asal Singapura, berencana untuk ekspansi ke Indonesia pada semester kedua tahun ini untuk membantu lahirnya perusahaan rintisan dengan ide inovatif.

Co-Founder and Managing Partner Asia Antler Jussi Salovaara menilai, perkembangan ekonomi digital di Asia Tenggara mulai menyaingi China dan India. Kawasan ini berhasil menjadi target pasar bagi berbagai perusahaan rintisan dan sekaligus menarik perhatian dari investor global.

Menurutnya, Asia Tenggara adalah pasar yang sangat baik bagi bisnis teknologi yang memanfaatkan internet, mengingat kawasan ini memiliki penetrasi yang tinggi dalam penggunaan smartphone. 

Dengan menimbang jumlah populasi lebih dari 600 juta orang, dan ekonomi digital yang diproyeksikan tumbuh menjadi US$240 juta pada 2025, pihaknya meyakini peningkatan aktivitas pendanaan tahap awal bagi perusahaan rintisan masih akan berlangsung dalam setidaknya tiga tahun mendatang.

“Singapura adalah kantor pusat kami dan akan tetap menjadi pusat operasional bisnis untuk regional, kami juga sedang membidik Jakarta sebagai upaya ekspansi pertama, dan kami menargetkan ekspansi ini dapat dilakukan pada semester kedua 2019,” ujarnya, belum lama ini.

Dia menambahkan, ekosistem perusahaan rintisan di Asia Tenggara sedang mengalami masa keemasan, terbukti dari lahirnya berbagai unicorn dan decacorn di kawasan ini. Dampak fenomena ini juga meluas ke berbagai hal, menginspirasi banyak orang untuk ke luar dari pekerjaannya di korporasi maupun perusahaan teknologi, dan beralih untuk  untuk memulai bisnisnya sendiri.

Ketika seseorang telah memiliki ekosistem perusahaan teknologi yang sukses, ujarnya, aliran dana akan masuk dan mereka akan memanfaatkan hal tersebut untuk mulai mengakuisisi perusahaan rintisan lainnya, maupun melakukan strategi exit lannya seperti M&A [Merger and Acquisition].

“Kami bekerja sama dengan akselerator lainnya karena banyak dari mereka tertarik dengan perusahaan yang ada di portfolio kami. Antler berada di awal value chain, dan dari posisi itu, kami mencoba bekerja sama dengan akselerator dan VC [Venture Capital] terbaik di ekosistem,” ujarnya.

Sejauh ini, Antler telah berinvestasi senilai US$8,3 juta kepada total 70 perusahaan rintisan dalam portfolionya, setelah pertama kali memulai program akseleratornya di Singapura pada Juli 2018. Saat ini, perusahaan memiliki 8 lokasi operasional secara global dengan 6 program yang tengah berjalan. Secara rata-rata, perusahaan akan memiliki 100 perusahaan rintisan dalam portfolionya secara global setiap tahunnya.

Antler juga telah memiliki empat perusahaan rintisan asal Indonesia dalam portfolionya, yaitu Sampingan, Robin, Base, dan Bubays. Sampingan merupakan perusahaan penyedia aplikasi yang menghubungkan pengguna dan pekerjaan sampingan di berbagai bidang seperti penjualan, pengumpulan data, dll. Perusahaan ini telah mendapatkan pendanaan dari Golden Gate Ventures.

Sementara, Robin melakukan automasi pengecekan referensi dan memverifikasi sejarah pekerjaan para pelamar kerja, sekaligus memberikan penilaian kualitiatif kepada perusahaan berdasarkan testimoni para pemberi pekerjaan sebelumnya.

Base merupakan perusahan  platform kecantikan digital dengan konsep direct-to-consumer  bagi perempuan millenial Indonesia. Bubays menyediakan makanan bayi sehat bagi keluarga muda Indonesiadan mengantarkannya langsung ke pintu rumah.

Lebih lanjut dia memaparkan, perbedaan antara Antler dengan akselerator lainnya adalah pihaknya benar-benar mengutamakan talenta. Perusahaan pertama-tama menyeleksi para talenta, lalu bekerja dengan tim selama dua bulan sebelum memutskan berinvestasi.

“Dalam hal success rate, kami berupaya menerapkan pendekatan kewirausahaan dengan cara saintifik sehingga dapat menurunkan tingkat kegagalan startup dari 90% menjadi 50%,” ungkapnya.

Dalam setiap program akseleratornya, Antler menawarkan pendanaan dari hari pertama, dan membantu menemukan para co-founder dan membangun timnya melalui proses bootcamp, pelatihan dan pembinaan.

Pihaknya juga membawa para pakar dan praktisi di ekosistem untuk berbagi tentang membangun bisnis, melakukan pitching ke investor, hingga membangun produk dan menjualnya ke pasar.

Ke depannya, Antler meyakini potensi besar dalam sejumlah vertikal, seperti teknologi finansial, telekomunikasi, dan teknologi pendidikan akan tumbuh kencang tahun ini. Selain itu, implementasi teknologi kecerdasan buatan atau AI akan meningkat seiring dengan kemudahan dan ketersediaan teknologi tersebut yang semakin terjangkau.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
StartUp, investasi startup

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top