Riset Universitas Indonesia Catat Kontribusi Gojek Capai Rp55 Triliun

Kontribusi ekosistem Gojek terhadap perekonomian Indonesia mencapai Rp55 triliun. Layanan transportasi online karya anak bangsa itu merepresentasikan istilah Society 5.0 yang akan berkembang di masa mendatang.
Surya Mahendra Saputra
Surya Mahendra Saputra - Bisnis.com 08 Agustus 2019  |  15:19 WIB
Riset Universitas Indonesia Catat Kontribusi Gojek Capai Rp55 Triliun
Founder dan CEO Go-Jek Grup Nadiem Makarim (kedua kanan) bersiap melakukan konvoi usai peresmian logo baru Go-Jek di Jakarta, Senin (22/7/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Kontribusi ekosistem Gojek terhadap perekonomian Indonesia mencapai Rp55 triliun. Layanan transportasi online karya anak bangsa itu merepresentasikan istilah Society 5.0 yang akan berkembang di masa mendatang.

Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) mengumumkan kontribusi Gojek senilai Rp55 triliun itu mengukur 100% mitra aktif saat ini, dihitung berdasarkan kontribusi sepanjang 2018.

“Sebelumnya pernah kami umumkan bahwa kontribusi Gojek sebesar Rp44,2 triliun pada 2018 yang merupakan cerminan dari 75% mitra aktif. Tapi jika diukur 100% maka mencapai Rp55 triliun,” jelas Kepala LD FEB UI Turro S. Wongkaren, dalam paparan riset kualitatif berjudul ‘Makna Kerja, Tingkat Kepuasan, dan Well-Being Mitra Gojek Indonesia’,” di Hotel Oria Jakarta, Rabu (7/8).

Rentang kontribusi antara Rp44,5 triliun (75%) sampai dengan Rp55 triliun (100%), menurutnya, merupakan hal biasa dilakukan lembaga riset. Hal tersebut dilakukan untuk memaparkan angka konservatif dan angka optimistis.

“Seperti yang dilakukan Tenggara dan CSIS yang mengukur kontribusi Grab senilai Rp48 triliun, itu angka 100%. Maka kalau mau membandingkan ya dengan angka 100% juga,” tambahnya.

Besarnya kontribusi Gojek tersebut, kata Turro, tidak terlepas dari penerapan istilah Society 5.0 karena mengantarkan beragam layanan secara langsung sesuai kebutuhan konsumen.

Society atau masyarakat 5.0 ini hal berbeda dengan Industry 4.0. Society 5.0 memfokuskan pada sisi demand dan bagaimana kebutuhan itu bisa dilayani dengan teknologi. Itu berkembang di Jepang.”

Hal tersebut tercermin dari layanan dalam ekosistem Gojek. Turro memberikan contoh seperti layanan pembersih rumah ke konsumen, layanan bengkel, dan layanan lainnya secara langsung ke konsumen.

“Dengan begitu Gojek membuat mereka yang sebelumnya tidak terpikir untuk bekerja menjadi mau bekerja. Misalnya, ibu rumah tangga dan mahasiswa. Sebab ada independensi dalam menentukan waktu bekerja.”

Peneliti LD FEB UI Bagus Takwin memaparkan, mitra Gojek memaknai pekerjaan mereka lebih dari sekadar menghasilkan uang. “Mereka melihat hidup menjadi lebih bermakna dengan menjadi mitra Gojek. Bisa membantu banyak orang dan menebar kebaikan,” ulasnya.

Berdasarkan pengukuran kepuasan hidup mitra yang menggunakan instrumen The Satisfaction with Life Scale (SWL) dari Pavot dan Diener (2013), skor rata-rata kebahagiaan mitra yang ditemukan penelitian LD FEB UI adalah 24,3 dari skala maksimal 35.

“Artinya secara umum mitra Gojek tergolong cukup puas dengan hidupnya menjadi lebih baik dan merasa bahagia,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gojek

Editor : Surya Mahendra Saputra

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top