Perang Dagang AS-China Tak Terkendali, Apple Punya Strategi

Raksasa teknologi asal Amerika Serikat (AS) Apple Inc. punya rencana cadangan jika perang dagang AS-China berlangsung tak terkendali.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 13 Juni 2019  |  09:08 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Raksasa teknologi asal Amerika Serikat (AS) Apple Inc. punya rencana cadangan jika perang dagang AS-China berlangsung tak terkendali.

China adalah roda penggerak penting dalam bisnis Apple. Negara ini menjadi basis produksi sebagian besar produk iPhone dan iPadnya sekaligus merupakan pasar internasional terbesarnya.

Akan tetapi, Presiden AS Donald Trump telah mengancam akan memberlakukan tarif lebih lanjut atas barang-barang China senilai sekitar US$300 miliar. Langkah ini jelas akan meningkatkan tensi antara kedua negara secara dramatis dan membebani produk-produk Apple.

Menurut seorang eksekutif senior di Hon Hai Precision Industry Co., mitra manufaktur utama Apple ini memiliki kapasitas yang cukup untuk merakit seluruh iPhone, yang terikat dengan AS, di luar China jika diperlukan.

Saat ini, manufaktur asal Taiwan itu masih membuat sebagian besar smartphone andalan Apple tersebut di daratan China.

Hon Hai, yang juga dikenal dengan nama Foxconn, adalah mitra manufaktur paling penting bagi Apple. Kepala divisi semikonduktor Hon Hai Young Liu menyatakan perusahaan akan sepenuhnya mendukung Apple jika perlu menyesuaikan produksinya akibat eskalasi konflik perdagangan AS-China yang tak terduga.

“Dua puluh lima persen dari kapasitas produksi kami berada di luar China dan kami dapat membantu Apple menanggapi kebutuhannya di pasar AS,” ungkap Liu, seraya menambahkan bahwa investasi untuk Apple saat ini sedang dilakukan di India.

“Kami memiliki kapasitas yang cukup untuk memenuhi permintaan Apple,” tegasnya dalam suatu briefing investor di Taipei, seperti dikutip dari Bloomberg.

Apple sendiri belum memberikan instruksi kepada Foxconn untuk memindahkan produksi keluar dari China, tetapi perusahaan mampu memindahkan jalur di tempat lain sesuai dengan kebutuhan pelanggan, Liu menambahkan.

“Perusahaan akan merespons dengan cepat dan bergantung pada manufaktur lokal dalam merespons perang perdagangan, seperti halnya melihat kebutuhan untuk membangun basis di negara bagian Wisconsin, AS, dua tahun lalu,” lanjut Liu.

Menurut Analis Strategy Analytics, Neil Mawston, pasar AS berkontribusi satu dari setiap empat iPhone yang terjual di seluruh dunia. Dengan demikian, pasar ini mewakili porsi besar bisnis manufaktur Foxconn di China.

Mawston memperkirakan Foxconn akan membutuhkan setidaknya satu atau dua pabrik besar di luar China yang didedikasikan untuk menjalankan ketentuan AS bagi Apple.

Jika Foxconn membebaskan kapasitas produksi non-China untuk iPhone, klien smartphone lainnya dapat mendapati pesanan mereka ditunda sementara atau dikesampingkan dalam jangka pendek.

Foxconn juga dapat mengalihkan sebagian pekerjaan di luar negeri kembali ke China untuk kompensasi. Namun tanpa itu, beberapa pabriknya di China bisa jadi akan menganggur.

Tidak cuma tentang perakitan barang jadi. Perang perdagangan telah mengganggu rantai pasokan global yang kompleks dan melibatkan banyak negara selain China dan AS. Banyak komponen yang diperlukan perangkat tidak dibuat di AS, meskipun dirancang di sana.

Sebuah chip ponsel yang dirancang oleh Apple dapat keluar dari sebuah pabrik di Taiwan, kemudian dikemas di tempat lain, sebelum dikirimkan ke China untuk dirakit menjadi iPhone.

“Akan relatif mudah untuk memindahkan perakitan final iPhone di luar China, tetapi untuk pindah ke produksi penuh komponen dan seluruh perangkat akan jauh lebih sulit,” ujar Mawston.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
apple, perang dagang AS vs China

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top