Benarkah Unicorn Berpotensi Bawa Uang Keluar Indonesia?

Banyaknya unicorn asal Indonesia ternyata menimbulkan kekhawatiran lain di sisi kubu pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Alih-alih berbangga karena ada empat perusahaan rintisan yang valuasinya sudah di atas US$1 miliar, Prabowo justru cemas perkembangan perusahaan-perusahaan itu akan memperlancar arus dana dari Indonesia ke luar negeri.
Lalu Rahadian
Lalu Rahadian - Bisnis.com 19 Februari 2019  |  16:35 WIB
Benarkah Unicorn Berpotensi Bawa Uang Keluar Indonesia?
Karyawan menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di Jakarta, Senin (1/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA -- Kekhawatiran mengalirnya uang dari Indonesia ke luar negeri melalui sejumlah perusahaan rintisan yang memiliki valuasi lebih dari US$1 miliar, atau unicorn, sempat mewarnai debat putaran kedua Pilpres 2019, Minggu (17/2/2019).

Hal tersebut disampaikan calon presiden (capres) nomor urut 02 Prabowo Subianto. Menurutnya, tak menutup kemungkinan unicorn mengalirkan lebih banyak uang dari masyarakat di Indonesia ke luar negeri.

“Jadi kalau ada unicorn-unicorn, ada teknologi hebat, saya khawatir ini akan mempercepat nilai tambah dan uang-uang kita lari ke luar negeri. Ya silakan anda ketawa, tapi ini masalah bangsa. Kekayaan Indonesia tidak tinggal di Indonesia," ujar Prabowo.

Pernyataan itu disampaikannya setelah ditanya capres nomor urut 01 Joko Widodo mengenai strategi untuk mengembangkan unicorn di Indonesia. Saat ini, ada empat unicorn asal Indonesia yakni Gojek, Traveloka, Tokopedia, dan Bukalapak.

Prabowo Subianto saat mengikuti debat capres 2019 putaran kedua di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2/2019)./ANTARA-Akbar Nugroho Gumay

Berdasarkan riset Google dan Temasek berjudul "e-Conomy SEA 2018", ada sembilan perusahaan rintisan di Asia Tenggara yang valuasinya sudah melampaui US$1 miliar per semester I/2018. Selain empat unicorn di Indonesia, perusahaan rintisan lain yang masuk dalam laporan tersebut adalah Grab, Sea, Lazada, Razer, dan VNG.

Ada 2 dari 4 unicorn Indonesia yang bergerak di bidang e-commerce yakni Tokopedia dan Bukalapak. Keduanya memfasilitasi konsumen dan pemilik toko bertransaksi melalui sistem daring.

Tak jarang barang-barang yang diperdagangkan di e-commerce macam Tokopedia dan Bukalapak berasal dari luar negeri. Hal itu mungkin yang mendasari lahirnya ketakutan Prabowo.

Tak bisa dipungkiri jika banyak produk yang dijual di e-commerce berasal dari luar negeri, salah satunya China. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor barang konsumsi menunjukkan kenaikan dalam tiga tahun terakhir.

Pada 2018, angkanya mencapai US$17,17 miliar atau naik 22,03% dari tahun sebelumnya, yang senilai US$14,16 miliar. Adapun realisasi impor barang konsumsi pada 2016 adalah sebesar Rp12,34 miliar, meningkat 13,54% secara year-on-year (yoy) dari tahun sebelumnya yang sekitar US$10,87 miliar.

Menurut Ekonom Bank Permata Josua Pardede, mayoritas e-commerce masih menjajakan banyak barang impor hingga kini. Hal itu bisa mengancam aliran uang dari dan ke dalam negeri serta keberlangsungan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

“Ini mungkin yang jadi masukan bagaimana menggalakkan kembali produk-produk lokal yang di jual di unicorn, sehingga jangan sampai produk dari luar negeri masuk dengan harga lebih murah. Justru produk UMKM kita harusnya bisa dijual dan dipromosikan melalui e-commerce tersebut,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (18/2/2019).

Meski tak menampik banyaknya barang impor yang dijual e-commerce, tapi Josua menganggap marjin antara biaya beli dan investasi yang masuk ke perusahaan rintisan tidak sebanding. Dia menilai aliran dana yang masuk ke startup, termasuk yang sudah berstatus unicorn, masih lebih besar dibanding jumlah impor mereka.

Ilustrasi kegiatan logistik./Reuters-Noah Berger

Dominasi barang impor yang dijual di e-commerce pun diyakini akan luntur seiring berkembangnya UMKM di Indonesia. Pemerintah harus terlibat dalam upaya mendorong pelaku UMKM menjual barangnya di marketplace.

“Investasi di e-commerce ini dapat menggerakkan ekonomi atau segmen UMKM, karena UMKM akan lebih termotivasi untuk menjual produk-produknya di e-commerce yang dimiliki beberapa unicorn,” tutur Josua.

Investor Asing di Unicorn Indonesia
Berdasarkan penelusuran Bisnis, keempat unicorn asal Indonesia mendapat suntikan modal dari sejumlah perusahaan asing.

Dalam data yang terdapat di Crunchbase.com, diketahui bahwa investasi asing yang masuk ke Bukalapak di antaranya berasal dari Mirae Asset-Naver Asia Growth Fund, Ant Financial Services Group, GREE Ventures, dan investor asal Singapura yaitu Government of Singapore Investment Corporation (GIC).

Bukalapak sudah melakukan setidaknya enam tahapan pendanaan. Nilai pendanaan terakhir sebesar US$50 juta dan disampaikan pada 17 Januari 2019.

Untuk Traveloka, hingga saat ini nilai pendanaan yang diterima dan disampaikan kepada publik adalah US$500 juta. Pendanaan ke unicorn itu terakhir masuk 27 Juli 2017.

Investor asing yang menanamkan dana ke Traveloka adalah Expedia, JD.com, Global Founders Capital, East Ventures, Hillhouse Capital Group, dan Sequoia Capital. East Ventures adalah modal ventura lokal, sisanya berasal dari Amerika Serikat, Jepang, dan China.

Untuk Tokopedia, total pendanaan yang masuk dan disampaikan ke publik mencapai US$2,4 miliar. Pendanaan terakhir kali masuk pada 21 November 2018.

Investasi asing yang masuk ke Tokopedia berasal dari Alibaba Group, Softbank Vision Fund, Softbank Telecom Corp, Softbank Ventures Korea, Beenos Partners, CyberAgent Ventures, dan Sequoia Capital India.

Pada Go-Jek, nilai investasi yang sudah masuk hingga kini diketahui sebesar US$3 miliar. Pendanaan terakhir diterima perusahaan tersebut pada 30 Oktober 2018.

Ada 23 investor yang tercatat menanamkan modal di Go-Jek. Investor-investor tersebut di antaranya Google, Tencent Holdings, JD.com, Warburg Pincus, KKR & Co, PT Astra International Tbk., Temasek Holdings, Hera Capital, dan Sequoia Capital India.

Tidak Tepat
Ketua Indonesian e-Commerce Association (idEA) Ignatius Untung turut mengomentari ketakutan Prabowo terhadap potensi mengalirnya duit dari unicorn lokal ke luar negeri. Menurutnya, ketakutan itu tidak tepat.

Ignatius memahami ketakutan Prabowo jika perusahaan rintisan besar sudah mulai untung dan membagikan dividen ke investor-investor asing. Tetapi, pembagian dividen ini disebut tidak akan merugikan negara.

Karyawan beraktivitas di kantor Traveloka, di Jakarta./REUTERS-Beawiharta

“Karena dari dividen itu nanti ada pajak dividen. Jadi pemasukan negara tetap besar. Kalau dihitung-hitung, capital outflow-nya hanya dari pembagian dividen. Sementara itu, manfaatnya yang bisa didapat [dari investasi] banyak sekali dampak ekonominya, pajaknya, dan sebagainya. Sebenarnya enggak perlu dikhawatirkan,” jelasnya kepada Bisnis, Senin (18/2).

idEA juga meminta semua pihak tidak menyalahkan startup jika menerima investasi dari asing. Sebab, semua perusahaan diyakini sudah memberitahukan informasi soal pendanaan kepada investor lokal sebelum menerima penanaman modal.

Menurut Ignatius, wajar jika sebuah perusahaan e-commerce menerima investasi asing agar terus berkembang. Jika kontribusi investor asing dibatasi, dikhawatirkan nantinya perusahaan-perusahaan rintisan asal Indonesia justru bakal terkekang.

“Kalau perusahaan pada umumnya itu biasanya pengendali perusahaan adalah pemegang saham terbesar. Di e-commerce, pengendalinya adalah pemegang saham khusus, yakni pendirinya. Nah, mereka tetap punya kontrol sehingga kita bisa harapkan tidak akan melakukan pergerakan yang merugikan negara. Jadi. sebenarnya kehawatirannya menurut saya enggak begitu tepat,” terangnya.

Country General Manager Rumah123.com itu juga menyebut kerugian akibat impor yang dilakukan perusahaan e-commerce tidak perlu dikhawatirkan dan mengingatkan bahwa seharusnya perusahaan e-commerce disalahkan akibat tingginya nilai impor barang konsumen.

Jika persoalan impor barang konsumen hendak diatasi, maka semestinya pemerintah mendorong lahirnya produk-produk dalam negeri yang kualitas dan daya saingnya bisa setara dengan barang impor.

“Jadi, masalah impor enggak selesai selama produksi di dalam negeri enggak menjawab itu,” tukasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
fokus, Debat Capres

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top