Permainan Digital, Pengembang Lokal Rambah Multiplatform

Bisnis.com, BANDUNG - Pengembang permainan digital melakukan penetrasi game online dengan merambah berbagai platform terutama mobile dan website untuk mengoptimalkan garapan pasarnya.
Ria Indhryani
Ria Indhryani - Bisnis.com 25 Juli 2013  |  17:01 WIB

Bisnis.com, BANDUNG - Pengembang permainan digital melakukan penetrasi game online dengan merambah berbagai platform terutama mobile dan website untuk mengoptimalkan garapan pasarnya.

Garuda Studio, pengembang game asal Bandung, merupakan salah satu perusahaan yang pernah mengembangkan game online dengan platform PC seperti Point Blank Online, Ragnarok Online, dan game lainnya.

Chief Operational Officer Garuda Studio Yadhi Aditya Permana mengungkapkan pada 2011, Garuda Studio pernah mengembangkan game online dengan base platform yang sama yaitu PC dan dikenal dengan nama SteamOps.

“Sayangnya, tidak bertahan lama dan SteamOps akhirnya di nonaktifkan. Dibutuhkan usaha yang besar baik dana juga tenaga untuk mengembangkan game online berbasis platform PC,” katanya, Kamis (25/7/2013).

Yadhi mengungkapkan, tim pengembangan membutuhkan waktu sekitar 1,5 tahun untuk mengembangkan SteamOps dan hanya bertahan setengah tahun, karena tidak mudah untuk mempertahankannya.

Menurutnya, pengembangan game online berbasis PC juga membutuhkan tenaga kerja hingga puluhan orang, serta manajemen operasional, setelah game tersebut jadi dan dilepas ke pasar.

“Belum lagi biayanya, mempertahankan game online berbasis PC rata-rata dibutuhkan dana US$5 juta atau sekitar Rp50 miliar.”

Dia menjelaskan dana tersebut untuk mendukung publikasi, penyelenggaraan even, pemeliharaan serta upaya lainnya, untuk mempertahankan user yang menjadi pangsa pasar game online tersebut.

Menurutnya, tuntutan itu membuat para developer game di Indonesia tidak terlalu tertarik mengembangkan game online berbasis platform PC, karena hasilnya tidak jelas dan lebih banyak dikuasai studio game dari luar.

Yadhi mengungkapkan game online dari platform PC tersebut memiliki potensi pasar yang besar di Indonesia, di mana hampir di setiap warnet selalu dipenuhi pecinta game online.

Akan tetapi, developer lokal selalu terkendala modal, sehingga kesulitan untuk memanfaatkan peluang tersebut.

Kondisi itu membuat mayoritas developer game lokal lebih memilih peluang game mobile atau game online dengan basis platform mobile ataupun website seperti permainan digital melalui Facebook.

Perusahaan pengembang game dari Bandung lainnya seperti Nightspade juga lebih memilih fokus terhadap game berdasarkan platform mobile.

Garibaldy Wibowo Mukti, Chief Marketing Officer Nightspade mengutarakan dibutuhkan dana dan tenaga yang besar untuk pemasaran dan pengaturan sistem serta operasional dalam mengembangkan game online berbasis PC.

“Sebuah game mobile dapat dikembangkan dalam waktu 3 bulan dengan tim 10 orang. Tetapi untuk game online berbasis PC butuh waktu lebih lama dan tim yang banyak,” ungkapnya.

Dia menyadari potensi pasar game online berbasis PC memang besar, dan sebanding dengan waktu dan dana yang dikeluarkan. Bahkan beberapa game online PC bisa menghasilkan pendapatan perusahaan hingga US$1 juta atau sekitar Rp10 miliar dalam sehari.

Namun, menurutnya, saat ini game online dapat dimodifikasi dengan mengubah basisnya menjadi berbasis website, dan juga mobile yang dikaitkan dengan media sosial.

“Sudah banyak pengembang yang coba memanfaatkan game berbasis mobile untuk dijadikan game online, dan Nightspade sedang mencoba mengembangkannya,” tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
game online, permainan digital, steamops.

Editor : Fatkhul Maskur
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top