MOBILE BROADBAND: India diprediksi jadi pasar terbesar kedua

NEW DELHI: India diprediksi menjadi pasar mobile broadband terbesar kedua di dunia dalam 4 tahun mendatang dengan 367 juta koneksi mobile broadband pada 2016.Dengan begitu, India akan mengambil alih posisi Amerika Serikat yang memiliki 337 juta koneksi
News Editor | 09 April 2012 11:00 WIB

NEW DELHI: India diprediksi menjadi pasar mobile broadband terbesar kedua di dunia dalam 4 tahun mendatang dengan 367 juta koneksi mobile broadband pada 2016.Dengan begitu, India akan mengambil alih posisi Amerika Serikat yang memiliki 337 juta koneksi mobile broadband pada 2016.Di posisi pertama, China diperkirakan mencapai 639 juta koneksi mobile broadband pada periode yang sama. Prediksi itu berasal dari perusahaan penggelar aktivitas industri mobile yang bermarkas di London, Inggris, GSMA Ltd.GSMA melihat sejak lisensi 3G pertama kali diberikan kepada operator mobile di India pada September 2010, konektivitas mobile broadband tumbuh terus.Saat ini terdapat lebih dari 10 juta koneksi High Speed Packet Access (HSPA) di India. GSMA memperkirakan koneksi tumbuh eksponensial, dengan pertumbuhan 900% menjadi lebih dari 100 juta sambungan pada 2014.Kondisi ini akan membuat India sebagai pasar HSPA terbesar di dunia dalam 2 tahun ke depan, melampaui China, Jepang, dan Amerika Serikat.Director General GSMA Anne Bouverot mengatakan industri ponsel di India diatur untuk pertumbuhan besar sebagai teknologi mobile broadband seperti HSPA dan LTE yang mulai berkembang. Namun, di luar itu, terdapat ruang untuk pembangunan yang jauh lebih besar."Untuk mengambil keuntungan penuh dari ini, pemerintah India harus memfasilitasi peluncuran spektrum tambahan tepat waktu dengan cara yang adil dan transparan bagi seluruh stakeholder,” katanya dalam situs GSMA, Seni 9 April 2012.Manfaatnya, bila penetrasi mobile broadband mencapai 10% dapat memberikan kontribusi sebesar US$80 miliar, setara US$3.506 miliar, dibandingkan pendapatan dari sektor transportasi, kesehatan, dan pendidikan di negara itu pada 2015. (GSMA/c02/ra) 

BACA JUGA:

Hasil hutan bukan kayu mulai diminati

 

 

Sumber : Newswire

Tag :
Editor : Basilius Triharyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top