ISC Tier IV Hadir, Pertarungan Data Center In Town Jakarta Makin Ketat

Leo Dwi Jatmiko
Jumat, 23 Februari 2024 | 16:23 WIB
Ilustrasi data center
Ilustrasi data center
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Penyedia layanan pusat data (Data center) bersaing ketat dalam memperebutkan pasar di dalam kota dengan mengandalkan sistem yang lebih andal atau tier IV. Perusahaan mulai membangun data center dalam kota (in town) untuk mendekatkan bangunan dengan pasar demi latensi rendah. 

PT Indonesia Super Corridor (ISC) menargetkan sebanyak 600 rak yang dimiliki dapat terisi penuh pada tahun ini. ISC yang merupakan kelompok usaha dari PT Cyber Network Indonesia (CNI) Group, yang mengandalkan keandalan sistem tersertifikasi tier IV untuk melayani para pelanggan.

Komisaris sekaligus Pemilik ISC Benyamin Naibaho mengatakan pada tahun ini perusahaan akan membidik sejumlah pelanggan yang bergerak di sektor jasa keuangan, penyedia komputasi awan, peyedia konten hingga e-commerce

“Kami bertekad untuk terus mendukung pertumbuhan pasar cloud, platform digital, AI, dan sebagainya,” kata Benyamin kepada Bisnis, Jumat (23/2/2024).

Untuk diketahui, ISC berdiri sejak 2008. Perusahaan ini menyediakan Colocation, Disaster Recovery Center (DRC) hingga perangkat Penyediaan Perangkat Data Center. 

ISC baru saja memperluas layanan usaha Data Center ISC melalui penyelesaian pembangunan dan sertifikasi Data Center berstandar internasional di Mampang Prapatan Raya (ISC-MPR). Data Center ISC MPR ini diklaim sebagai data center yang memiliki klasifikasi Tier IV Facility pertama yang berada di pusat kota Jakarta. 

Data center terbaru itu melengkapi 2 data center mereka lainnya yang berada di Gedung Cyber (ISC-CBR) Lantai 9 Jakarta Selatan dan di Jalan Gatot Subroto Barat, Denpasar (ISC-DPR) Bali. 

Keberadaan Data Center ISC-MPR memiliki lokasi yang berada dekat dengan pusat interkoneksi internet domestik, yakni Indonesia Internet eXchange (IIX) dan Open-IXP. 

Naibaho mengatakan hal ini memungkinkan data center untuk menyediakan layanan yang lebih cepat, lebih andal, dan lebih efisien kepada penggunanya, yang merupakan faktor kunci dalam lingkungan digital yang sangat kompetitif saat ini. 

“Data Center yang dekat dengan pusat interkoneksi nasional dapat memberikan latensi atau delay rendah, konektivitas lebih baik karena akses langsung ke berbagai penyedia layanan internet (ISP) serta opsi redundansi dan keandalan yang lebih tinggi,” kata Naibaho. 

ISC sendiri pesaing yang juga mengincar pasar pusat kota Jakarta. Bersama Digital Data Centres (BDDC) pada pertengahan 2023 membangun data center dalam kota (in-town).

Data center milik Bersama Digital Infrastructure Asia Pte. Ltd (BDIA) itu menargetkan zero downtime atau tidak pernah mati sama sekali selama beroperasi di Tanah Air, dengan mengandalkan kelistrikan di wilayah Jakarta yang kuat dan sistem redudansi berlapis yang mereka miliki. 

Presiden Direktur Bersama Digital Data Centres (BDDC) Angelo Syailendra mengatakan, saat ini perusahaan memiliki dua site yang berada di Jakarta Timur dan Jakarta Barat. Masing-masing memiliki standar kelistrikan yang andal seperti di bandara.

Dengan kondisi tersebut, Angelo meyakini bahwa pangkalan data yang mereka miliki dapat selalu hidup setahun penuh, tanpa padam sedikit pun. 

“Dalam 2 tahun terakhir kebetulan kita tidak ada mati lampu karena kalau kita mati, bandara juga mati, jadi kualitasnya lebih bagus dibandingkan dengan tempat lain,” kata Angelo.

Sementara itu, Presiden Komisaris Bersama Digital Data Centres (BDDC) Setyanto Hantoro menjelaskan pembentukan BDDC yang diawali oleh akuisisi dua data center dalam kota bertujuan untuk menciptakan kekuatan baru yang mampu memberikan nilai tambah optimal, baik bagi pelaku usaha dalam negeri maupun perusahaan multinasional di Indonesia, dalam mewujudkan obyektif bisnisnya dengan terhubung dalam ekosistem infrastruktur digital yang terintegrasi. 

BDDC mendapat dukungan dari BDIA yang merupakan representasi dari Provident Capital (Provident), PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. (SRTG) dan Macquarie Asset Management, yang akan memantapkan posisi BDDC sebagai data center dalam kota terbesar di Indonesia untuk memberikan layanan terbaik dengan tingkat keamanan tertinggi.

Head of Singapore & Indonesia W Media Sam Narby mengatakan proyeksi pendapatan pasar data center Indonesia mencapai US$3,1 miliar pada 2023. 

Indonesia siap terus tumbuh sejalan dengan perkembangan infrastruktur fisik dan digital yang memberikan peluang bagi kegiatan usaha lokal dan global.

Penulis : Leo Dwi Jatmiko
Editor : Leo Dwi Jatmiko
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper