TikTok Shop Naikkan Biaya Penjual di AS dari 2% Jadi 8%, di RI Masih Beragam

Crysania Suhartanto
Senin, 8 Januari 2024 | 16:51 WIB
Warga mengakses aplikasi Tiktok di Jakarta, Rabu (13/12/2023). Bisnis/Fanny Kusumawardhani
Warga mengakses aplikasi Tiktok di Jakarta, Rabu (13/12/2023). Bisnis/Fanny Kusumawardhani
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Social commerce TikTok Shop akan menaikan biaya penjual menjadi 6% dari sebelumnya 2% pada 1 April 2024 dan meningkat lagi menjadi 8% pada 1 Juli 2024 atau 4 bulan berselang.

“Sebagai bagian dari komitmen berkelanjutan kami untuk menyediakan platform dan layanan terbaik bagi Anda, kami menerapkan penyesuaian tarif biaya rujukan kami, efektif 1 Juli 2024, dari 2 persen ditambah US$0,30 per transaksi, menjadi 8% per pesanan,” ujar surat dari TikTok, dikutip dari The Information, Senin (8/1/2024). 

Kendati demikian, tidak semua kategori akan terpengaruh. Untuk kategori barang yang lebih mahal, seperti elektronik akan dikenakan persentase biaya penjual yang lebih rendah. Namun, memang tidak disebutkan persentasenya.  

Mengutip The Verge, pengurangan subsidi kepada penjual ini dikarenakan TikTok sempat mengalami kerugian sekitar $500 juta ada 2023. Alhasil, subsidi para penjual ini mulai direduksi agar perusahaan dapat bertahan.

Diketahui, tidak hanya TikTok Shop yang disebut mengalami kerugian, tetapi juga sejumlah nama besar lainnya seperti Amazon dan Shein. 

Namun, berdasarkan informasi yang beredar, pengurangan subsidi ini juga disebabkan oleh banyaknya kecaman dari masyarakat bahwa TikTok menjual barang palsu dan jelek yang bersumber dari China

Alhasil, pengurangan subsidi ini dilakukan agar penjual enggan menjajakan produk murah. 

Menurut Tech.co, tindakan yang dilakukan TikTok Shop Amerika Serikat merupakan sebuah kisah klasik, saat sebuah platform baru memasuki pasar dengan biaya yang sangat rendah. Kemudian, saat basis pengguna sudah terbentuk, platfomr baru menaikkan biaya tersebut.

Adapun saat basis pengguna sudah terbentuk, penjual tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti cara bermain TikTok, daripada kehilangan pembeli.

Sebagai informasi, baru-baru ini total jumlah belanja yang dilakukan konsumen TikTok menyentuh angka US$10 miliar. Pencapaian inipun menobatkan TikTok sebagai aplikasi bukan game dengan pendapatan terbesar di dunia. 

Hal ini sangat masuk akal, mengingat pada Desember 2023 pelanggan menghabiskan total US$11 juta di TikTok setiap harinya.  Adapun aplikasi dengan pendapatan terbesar di dunia adalah Candy Crush dengan jumlah nominal transaksi yang dilakukan konsumen sebesar US$12 miliar. 

Lebih lanjut, untuk Indonesia sendiri memang masih belum diinformasikan jika ada penambahan biaya penjual. 

Berdasarkan catatan terakhir pada Juni 2023, biaya yang dibebankan TikTok pada para penjual cukup bervariasi tergantung dengan jenis barang.

Untuk barang kategori fesyen, seperti baju wanita, baju pria, tas, baju anak, sepatu, dan baju olahraga dikenakan biaya sebesar 4,3%. Kemudian, untuk aksesoris ponsel, barang kecantikan, skincare juga dikenakan biaya sebesar 4,3%.

Lebih lanjut, untuk buku, majalah, kaset, peralatan kesehatan, peralatan rumah, peralatan dapur, furnitur, dan pelengkap perabotan dikenakan biaya 3,6%.

Selanjutnya, untuk aksesoris elektronik, koleksi untuk hobi, dan boneka dikenakan biaya sebesar 3,2%. Sementara untuk komputer, makanan, minuman, peralatan bayi, dan peralatan anabul dikenakan biaya 2,7%.

Lalu, untuk perhiasan, ponsel, elektronik, dan perabotan rumah dikenakan biaya sebesar 1,9% dan produk virtual dikenakan biaya 1%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper