Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Indonesia Berpotensi Jadi Ladang Subur Startup Unicorn, Ini Syaratnya

Indonesia memiliki potensi besar untuk mencetak banyak unicorn karena adanya dukungan pengguna ponsel kita yang di atas 340 juta, pengguna internet 204 juta, kaum muda dan milenial yang besar serta masyarakat yang suka mengadopsi teknologi.
Rahmi Yati
Rahmi Yati - Bisnis.com 29 April 2022  |  00:03 WIB
Ilustrasi - Istimewa
Ilustrasi - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia dinilai punya fondasi yang kuat atau bisa jadi tanah yang subur untuk persemaian startup unicorn. Hal itu terbukti dengan terus bertambahnya perusahaan rintisan yang naik kelas dan diberi predikat unicorn Tanah Air.

"Fondasi yang kuat itu karena dukungan pengguna ponsel kita yang di atas 340 juta, pengguna internet 204 juta, kaum muda dan milenial yang besar serta masyarakat yang suka mengadopsi teknologi dan layanan baru berbasis digital," kata Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi, Kamis (28/4/2022).

Menurutnya, aplikasi yang jadi solusi dari tantangan era digital dan disukai atau dibutuhkan masyarakat akan mendapatkan kepercayaan dari investor untuk memperoleh investasi.

Selain itu, sambungnya, guna mendapatkan investasi tersebut, selain pengguna aktif harian dan bulanan, valuasi aplikasi juga akan dinilai dari trafik pengguna dan transaksi keuangan yang ditimbulkan dari penggunaan layanan.

Namun begitu, Heru menilai diraihnya status unicorn atau decakorn di sisi lain tidak begitu penting bilamana perusahaan tersebut dan layanan digital yang diberikan tidak memenangkan rakyat Indonesia.

"Artinya, sia-sia kita memiliki banyak unicorn kalau misal produk yang dijual kebanyakan impor. Percuma jadi unicorn kalau pemegang saham mayoritas adalah asing. Dan tak ketinggalan, tidak ada artinya gelar unicorn bila tidak bisa meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat," papar Heru.

Jadi utamanya adalah dampak bagi masyarakat, bukan sekadar status unicorn atau decakorn yang hanya dirasakan perusahaan aplikasi tersebut saja, tambah Heru.

Sebelumnya, Indonesia dilaporkan punya empat perusahaan rintisan atau startup baru yang berstatus unicorn (unicorn). Selain GoTo dan Bukalapak, kini predikat unicorn diberikan pada Ajaib, Akulaku, Codapay dan Xendit.

Berdasarkan laporan perusahaan modal ventura Cento Ventures, investasi melonjak di sebagian besar sektor pada 2021. Namun yang paling menonjol datang dari sektor finansial, yang menyumbang sekitar 70 persen dari total investasi yang ada.

Dalam laporan itu, dikatakan bahwa Indonesia bersaing dengan Singapura sebagai penerima investasi startup terbesar sepanjang 2021. Pada periode tersebut, nilai investasi startup di Indonesia menghasilkan sekitar US$5.96 miliar atau sekitar Rp85,8 triliun. Sementara Singapura mencatatkan US$4.83 miliar atau sekitar Rp69,6 triliun.

Terpisah, Direktur Center of Economic and Law Studie (Celios) Bhima Yudhistira menyebut sedari dulu Singapura telah dianggap sebagai hub investasi sebelum ke Indonesia, Vietnam, dan Filipina lantaran regulasinya lebih kondusif dan iklim investasinya lebih supporting pada iklim venture capital sehingga terlihat pendanaannya besar walaupun penduduknya tidak banyak.

"Akan tetapi, ujung-ujungnya pasar yang paling besar tetap salah satunya Indonesia kalau di Asean ini. Apalagi perkembangan investasi startup makin menarik dan berkembang," ucap Bhima.

Sementara itu, Bendahara Asosiasi Modal Ventura dan Startup Indonesia (Amsevindo) Edward Ismawan Wihardja mengatakan sebuah startup bisa naik kelas dan menyandang status unicorn dikarenakan beberapa faktor. Di antaranya, market size, maturity dan market domination yang biasanya juga menentukan apakah sebuah startup bisa memegang predikat unicorn.

Dengan begitu, dia berharap startup yang dinobatkan sebagai unicorn tersebut dapat terus memperlihatkan dan mempertahan perjalanan atau pertumbuhannya dengan baik. Sebab, investor akan terus melihat inovasi dan pengembangan sebuah unicorn ke adjacent categori dan market.

"Selama growth story masih terlihat baik biasanya investor masih mau mengucurkan dana mereka," tutur Edward.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

StartUp Unicorn
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Banner E-paper
To top