Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pengembalian Frekuensi, Indosat Ooredoo Hutchison Tetap Gelar 5G

Setelah bergabung, Indosat dan Tri hanya perlu menyesuaikan frekuensi yang diambil dengan rencana mereka untuk menggelar 5G. 
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 04 Januari 2022  |  16:10 WIB
Karyawan melayani pelanggan di gerai Indosat Ooredoo, Jakarta, Rabu (16/9/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Karyawan melayani pelanggan di gerai Indosat Ooredoo, Jakarta, Rabu (16/9/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) perlu sedikit menyesuaikan frekuensi yang dimiliki untuk menggelar 5G. 

Sebanyak 2x5 MHz dari pita frekuensi yang mereka miliki harus dikembalikan kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika sebagai salah satu syarat merger. 

Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengatakan keputusan Menkominfo untuk menarik sebagian frekuensi secara garis besar tidak akan memberi dampak bagi Indosat Ooredoo Hutchison dalam menggelar 5G. 

Setelah bergabung, Indosat dan Tri hanya perlu menyesuaikan frekuensi yang diambil dengan rencana mereka untuk menggelar 5G. 

“Hanya sedikit strategi perlu disesuaikan dengan pengurangan frekuensi yang diambil,” kata Heru, Selasa (4/1/2021). 

Frekuensi merupakan sumber daya terpenting dalam pengembangan 5G. Indosat Ooredoo Hutchison awalnya diproyeksikan memiliki spektrum frekuensi sebesar 2x72,5MHz. Akibat diambil 2x5 MHz oleh pemerintah, maka jumlah frekuensi yang mereka miliki menjadi 2x67,5MHz. 

Heru juga memperkirakan setelah peluncuran dan perkenalan 5G pada 2021, tahun ini operator akan bersaing memperluas wilayah layanan, kota-kota besar, dan kota sedang jadi sasaran. 

Tahun ini ekosistem dan aplikasi andalan untuk 5G (killer application) akan mencari bentuknya. Killer application menjadi salah satu faktor penentu dalam percepatan pembentukan ekosistem 5G.

“Meski nampaknya, layanan internet tetap nirkabel [fixed wireless] masih lebih berpeluang [sebagai killer application] karena kendala mobilitas,” kata Heru. 

Heru juga memperkirakan jika harga ponsel dan modem 5G bisa ditekan, maka pada 2022 ini 5G sudah bisa berjalan cepat. 

Sementara itu, Ketua Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB) Ian Yosef M. Edward berpendapat pada tahun ini  5G mulai tergelar di kota kota besar dan perangkat 5G akan membanjiri Indonesia. 

Dia tidak melihat ada masalah bagi Indosat Ooredoo Hutchison dalam menggelar 5G karena Indosat Ooredoo Hutchison dianggap sudah mempersiapkan kondisi tersebut sejak lama. 

“Tentu tidak akan mengganggu karena telah menjadi pertimbangan waktu merger,” kata Ian.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

merger teknologi 5G Indosat Ooredoo Hutchison
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Banner E-paper
To top