Bukit Algoritma Punya Potensi Gagal dan Perlebar Kesenjangan Digital

Akbar Evandio
Selasa, 27 April 2021 | 21:40 WIB
Penandatanganan kontrak Pekerjaan Pengembangan Rencana Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pengembangan Teknologi dan Industri 4.0 di Sukabumi yang diberi nama Bukit Algoritma antara BUMN Amarta Karya dengan Kiniku Bintang Raya. - amka.co.id
Penandatanganan kontrak Pekerjaan Pengembangan Rencana Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pengembangan Teknologi dan Industri 4.0 di Sukabumi yang diberi nama Bukit Algoritma antara BUMN Amarta Karya dengan Kiniku Bintang Raya. - amka.co.id
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Pembangunan Bukit Algoritma dinilai berpotensi memperlebar kesenjangan digital antarpulau di Jawa dan luar pulau Jawa. 

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda mengapresiasi pembangunan pusat inovasi dan pengembangan teknologi karena bisa menambah kapabilitas Indonesia untuk bisa bersaing di industri high-tech.

Namun demikian, menurutnya, sebelum membangun sebuah properti inovasi seperti bukit algoritma, perlu diperhatikan juga mengenai beberapa hal terkait pengembangan inovasi dan teknologi. Jika tidak, maka pembangunan pusat inovasi hanya sebuah gimik. Bahkan, bisa memperlebar kesenjangan digital antara Jawa—luar pulau Jawa.

“Bisa dikatakan [pembangunannya] terlalu dipaksakan. Bahkan, program 100 sains techno park juga belum bisa dikatakan berhasil seharusnya saya rasa perlu pemerataan terlebih dahulu dibandingkan membangun properti,” ujarnya, Selasa (27/4/2021)

Menurutnya, setidaknya ada 3 poin kenapa bukit algoritma ini bisa gagal. Pertama ekosistem riset dan pengembangan (R&D) di Indonesia masih sangat rendah di mana terdapat kondisi proporsi dana R&D masih rendah, produk high-tech di Indonesia masih minim, dan kebijakan pemerintah tidak efektif.

Kedua, sumber daya manusia yang belum mencukupi kebutuhan dimana rasio peneliti masih rendah dengan kualitas pendidikan yang terintegrasi dengan Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (TIK/ICT) juga masih sangat rendah.

Berdasarkan data Bank Dunia, Indonesia hanya mengalokasikan 0,23 persen dari total PDB untuk riset dan pengembangan pada 2018, lebih tinggi sedikit dibandingkan Filipina, Kamboja, dan Myanmar.

Sementara menurut data INDEF, jumlah peneliti di Indonesia masih tergolong rendah, hanya 216 per satu juta penduduk.

“Dibandingkan Malaysia dan Singapura, proporsi penduduk Indonesia yang ahli dalam pemrograman komputer masih sangat rendah, hanya 3,5 persen dari penduduk muda dan dewasa,” ujarnya.

Ketiga, tidak ada pengembangan ekosistem penting yang diajak untuk menggarap bukit algoritma seperti BUMN/BUMS bidang ICT dan Perusahaan Venture Capital.

“Seharusnya, urgen untuk memperbaiki kualitas dan pemerataan SDM Indonesia. Kedua, memperbaiki iklim R&D dengan kebijakan insentif yang lebih menarik. Ketiga, fokuskan peningkatan perekonomian melalui R&D. Namun ini sulit karena Kemenristek saja dilebur,” tutur Huda.

PT Amarta Karya (AMKA) bersama dengan PT Kiniku Bintang Raya menyatakan bakal membangun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pengembangan Teknologi dan Industri 4.0 meniru Silicon Valley di Amerika Serikat (AS) yang diberi nama Bukit Algoritma di Sukabumi, Jawa Barat. 

Adapun, proyek senilai Rp18 triliun itu digadang-gadang akan menjadi salah satu pusat untuk pengembangan inovasi dan teknologi tahap lanjut, seperti kecerdasan buatan, robotik, drone (pesawat nirawak), hingga panel surya untuk energi yang bersih dan ramah lingkungan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper