Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Google Blokir 3,1 Miliar Iklan yang Langgar Kebijakan Perusahaan

Upaya penegakan perusahaan diuji saat menghadapi pandemi global, sejumlah pemilu di seluruh dunia, dan ancaman dari pihak tidak bertanggung jawab.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 17 Maret 2021  |  21:05 WIB
Ilustrasi Google. - Antara/Reuters
Ilustrasi Google. - Antara/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Raksasa teknologi, Google menyebutkan telah memblokir atau menghapus sekitar 3,1 miliar iklan karena melanggar kebijakan perusahaan dan membatasi 6,4 miliar iklan lainnya.

Vice President, Privasi & Keamanan Iklan Google Scott Spencer mengatakan bahwa perusahaan akan berfokus pada keamanan pengguna pada tahun ini, salah satunya dalam ekosistem periklanan digital.

“Di Google, keamanan pengalaman pengguna adalah hal selalu ingin kami pastikan saat mengambil keputusan tentang iklan apa yang orang bisa lihat dan konten apa yang bisa dimonetisasi di platform kami,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (17/3/2021).

Lebih lanjut, dia menjelaskan pada tahun lalu, kebijakan dan upaya penegakan perusahaan diuji saat menghadapi pandemi global, sejumlah pemilu di seluruh dunia, dan ancaman dari pihak tidak bertanggung jawab yang terus mencari cara baru untuk memanfaatkan orang-orang di internet.

“Ribuan Googler bekerja sepanjang waktu untuk memberikan pengalaman yang aman bagi pengguna, kreator, penayang konten, dan pengiklan. Kami telah menambahkan atau memperbarui lebih dari 40 kebijakan bagi pengiklan dan penayang konten. Selain itu, kami memblokir atau menghapus sekitar 3,1 miliar iklan karena melanggar kebijakan kami dan membatasi 6,4 miliar iklan lainnya,” katanya.

Dia melanjutkan penegakan yang mereka lakukan tidak mungkin sama untuk semua kasus sehingga pembatasan iklan menjadi elemen penting dari keseluruhan strategi perusahaan.

“Pembatasan iklan memungkinkan kami menyesuaikan pendekatan berdasarkan geografi, hukum setempat, dan program sertifikasi, sehingga iklan yang disetujui hanya akan muncul di lokasi yang tepat serta sesuai dengan peraturan dan hukum,” ujarnya.

Dia mengatakan selama beberapa tahun terakhir, perusahaan telah melihat peningkatan regulasi iklan yang bersifat spesifik negara, dan pembatasan iklan memungkinkan mereka membantu pengiklan untuk mematuhi persyaratan regional seperti ini dengan dampak minimal pada kampanye mereka secara umum.

Tidak hanya itu, dia melanjutkan perusahaan juga terus berinvestasi pada teknologi pendeteksi otomatis untuk memindai web dengan efektif guna memastikan kepatuhan terhadap kebijakan untuk penayang dalam skala besar.

“Dengan investasi ini, beserta beberapa kebijakan baru, kami berhasil meningkatkan penegakan secara pesat dan telah menghapus iklan dari 1,3 miliar halaman penayang pada 2020, naik dari 21 juta pada 2019. Kami pun telah menghentikan iklan di lebih dari 1,6 juta situs penayang yang melakukan banyak pelanggaran atau melakukan pelanggaran yang berat,” tuturnya

Dia memerinci, hingga saat ini jumlah akun iklan yang telah dinonaktifkan karena melanggar kebijakan naik 70 persen dari 1 juta menjadi 1,7 juta. Kemudian, perusahaan juga memblokir dan menghapus lebih dari 867 juta iklan karena mencoba menghindari sistem deteksi Google

“Mereka mencoba menghindari deteksi kami termasuk dengan cloaking, dan 101 juta iklan lainnya karena melanggar kebijakan kami tentang pernyataan yang keliru. Jumlah keseluruhannya sudah lebih dari 968 juta iklan [sudah tidak aktif],” kata Scott.  


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

google iklan
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top