Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ekosistem Belum Matang, Teknologi Licensed Assisten Access Sulit Berkembang

Lambatnya perkembangan teknologi LAA di Tanah Air, disebabkan teknologi ini menggunakan frekuensi yang bebas atau unlicensed band.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 14 Januari 2021  |  16:51 WIB
Petugas teknisi XL memeriksa perangkat jaringan BTS 4G di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat, Rabu (14/6). - Antara/Yulius Satria Wijaya
Petugas teknisi XL memeriksa perangkat jaringan BTS 4G di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat, Rabu (14/6). - Antara/Yulius Satria Wijaya

Bisnis.com, JAKARTA - Ekosistem yang belum matang disinyalir menjadi salah satu penyebab 4G LTE Advanced Pro berteknologi Licensed Assisten Access (LAA) sulit berkembang di Indonesia.

Ketua Pusat Studi Kebijakan Industri dan Regulasi Telekomunikasi Indonesia-ITB Ian Yosef M. Edward berpendapat lambatnya perkembangan teknologi LAA di Tanah Air, disebabkan teknologi ini menggunakan frekuensi yang bebas atau unlicensed band.

Operator seluler tidak dapat menjamin kualitas dari layanan yang diberikan, karena frekuensi tersebut digunakan oleh banyak pihak.

"Ekosistemnya belum terbentuk, pemainnya sedikit dan standar level agreement (SLA) layanan pastinya tidak akan tinggi," kata Ian kepada Bisnis, Kamis (14/1).

Adapun, salah satu faktor yang membuat ekosistem LAA tumbuh lambat disebabkan karena masing-masing negara memiliki kebijakan yang berbeda-beda dalam pemanfaatan spektrum frekuensi untuk LAA.

Tidak semua negara menggunakan 5150 MHz-5350 MHz dan 5725MHz - 5825 MHz untuk LAA. Dengan perbedaan penggunaan frekuensi tersebut, vendor menjadi kesulitan dalam memproduksi perangkat LAA secara massal.

Hal ini berbeda dengan 5G. Beberapa negara memiliki frekuensi yang sama, misalnya 2,6 GHz dan 3,5 GHz, sehingga pembuat perangkat dapat memproduksi secara massal.

"Perkembangan perangkatnya mirip dengan WiFi yang ada, hanya saja antar negara berbeda menerapkan unlicensednya frekuensinya, jadi agak sulit bagi vendor membuat perangkat masal," kata Ian.

Meski secara ekosistem belum terbentuk, tutur Ian, LAA tetap memiliki manfaat besar. LAA dapat digunakan sebagai cadangan kapasitas seandainya kapasitas di suatu titik sudah sangat penuh.

Dari sisi kecepatan, 4G LTE Advanced Pro berteknologi Licensed Assisten Access (LAA) dapat mencapai kecepatan 1-3 Gbps.

Dalam beberapa uji coba yang dilakukan oleh Tri, Telkomsel dan Indosat beberapa tahun lalu, masing-masing dapat mencapai kecepatan 330 Mbps, 818 Mbps dan 625 Mbps.

Kecepatan tersebut masih cukup jauh dibandingkan dengan kecepatan 5G yang dapat mencapai kecepatan 1 Gbps-10 Gbps.

"Teknologi 5G lebih maju dibandingkan dengan TE Advanced Pro [dengan LAA] 5G juga bisa berjalan di LAA, jika diperbolehkan," kata Ian.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

operator seluler 4g lte
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top