Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ekonom: Merger Gojek -Tokopedia Tak Akan Picu Monopoli di Pasar Digital

Konsolidasi dua perusahaan rintisan paling bernilai di Indonesia itu juga akan tetap membuka persaingan bisnis digital terbuka. Apalagi banyak pemain di bisnis sejenis didukung oleh investor besar seperti Shopee, Bukalapak dan Grab.
MG Noviarizal Fernandez
MG Noviarizal Fernandez - Bisnis.com 06 Januari 2021  |  11:26 WIB
Pengguna Tokopedia bertransaksi melalui gawai di Jakarta, Senin (4/5/2020). - ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Pengguna Tokopedia bertransaksi melalui gawai di Jakarta, Senin (4/5/2020). - ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA – Rencana merger dua startup berstatus decacorn dan unicorn, Gojek dan Tokopedia dinilai tidak akan menciptakan monopoli di pasar digital Indonesia.

Konsolidasi dua perusahaan rintisan paling bernilai di Indonesia itu juga akan tetap membuka persaingan bisnis digital terbuka. Apalagi banyak pemain di bisnis sejenis didukung oleh investor besar seperti Shopee, Bukalapak dan Grab.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah mengatakan, merger Gojek-Tokopedia merupakan langkah strategis dan taktis. Pasalnya, aksi besar ini dilakukan oleh dua entitas bisnis yang memiliki segmen usaha berbeda. Gojek lebih fokus pada bisnis ride-hailing, sementara Tokopedia besar karena mengoptimalkan pasar e-commerce.

"Merger itu, jika terwujud tidak akan menciptakan monopoli. Mereka berada disegmen bisnis yang berbeda. Justru ini akan saling melengkapi dan itu strategi yang sangat taktis dalam menghadapi pandemi ini," ujarnya, kepada Bisnis, Selasa (5/1/2021).

Dia juga menilai hadirnya perusahaan baru hasil merger antara Gojek-Tokopedia tidak akan menciptakan barrier to entry yang tinggi bagi potensi masuknya pemain baru, baik yang akan menggarap ceruk pasar baru atau berkompetisi di bidang yang sama dengan perusahaan hasil gabungan Gojek dan Tokopedia itu nantinya.

Lebih jauh ia menuturkan dalam bisnis berbasis digital, seperti Gojek dan Tokopedia, barrier to entry yang biasanya membayangi setiap aksi merger perusahaan itu kelihatannya relatif rendah. Meskipun mereka akan menjadi market leader dan memiliki market share yang cukup besar, hal itu tidak akan memicu persaingan tidak sehat.

"Sekarang saja, meskipun keduanya sudah besar, kita masih bisa melihat adanya pemain sejenis yang menggarap segmen tertentu,” tutur dia.

Piter Abdullah justru meyakini aksi merger dua startup bakal membawa banyak manfaat, terutama bagi pertumbuhan UMKM dan pasar digital Indonesia. Menurut pengamatannya, kedua perusahaan yang memiliki valuasi masing-masing US$10,5 miliar dan US$7,5 miliar itu selama ini selalu mendukung pertumbuhan UMKM melalui berbagai lini bisnis yang dioperasikannya.

“Kita sudah lihat bagaimana orang bisa dengan modal Rp500.000 bisa mulai berdagang di Tokopedia. Itu artinya, merger kedua perusahaan itu tidak akan mematikan UMKM, sebaliknya akan memberikan ruang bagi UMKM itu untuk tumbuh,” ujarnya.

Selama ini Gojek dan Tokopedia menjadi ruang bagi bertumbuhnya jutaan pelaku usaha UMKM. Ada sekitar 10 juta mitra Tokopedia dan lebih dari 1 juta mitra UMKM yang bergabung di Gojek. Ini belum termasuk sekitar 1,5 juta mitra driver Gojek yang melayani jasa transportasi dan pengantaran secara daring.

Sebagai ekosistem bisnis, Gojek dan Tokopedia memiliki karateristik yang mirip. Seperti halnya memberikan ruang yang terbuka kepada konsumen untuk memilih jasa pengantaran ataupun layanan pembayaran. Sehingga merger keduanya akan semakin memperluas ruang berusaha bagi jutaan UMKM di Indonesia untuk tumbuh lebih cepat.

Seperti diberitakan Bloomberg, sebuah sumber yang mengetahui isu tersebut mengatakan bahwa penandatangan nota kesepahaman sudah dilakukan kedua startup raksasa itu.

“Saat ini keduanya tengah membahas potensi sinergi di antara kedua perusahaan. Mereka berharap dapat secepat mungkin menuntaskan perjanjian kerja sama itu,” ungkap sumber yang menolak disebutkan namanya tersebut.

Jika merger tersebut terwujud, maka penggabungan usaha kedua perusahaan itu akan membentuk entitas baru senilai lebih dari US$18 miliar.

Perusahaan baru itu juga akan menaungi beragam lini bisnis, mulai dari layanan transportasi daring dan digital payment hingga bisnis belanja online dan antaran, yang bisa dibaratkan gabungan lini usaha 4 raksasa seperti Uber Technologies Inc., PayPal Holdings Inc., Amazon.com Inc., dan DoorDash Inc.

Masih menurut sumber tersebut, rencana merger ini sebenarnya sudah pernah dibahas oleh Gojek dan Tokopedia tahun 2018. Selain itu jika ditilik lebih lanjut, Gojek dan Tokopedia ternyata didukung oleh investor yang sama, yakni Google, Temasek Holdings Pte dan Sequoia Capital India, sehingga rencana merger ini kemungkinan besar tidak akan kesulitan mendapat restu dari para investor.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

merger tokopedia Gojek
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top