Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kehadiran 5G pada 2021, Mastel : Seperti iPhone Terbaru Hanya untuk SMS

Kehadiran 5G pada tahun depan diyakini belum akan berdampak pada persaingan perebutan pelanggan seiring dengan pemanfaatan yang belum terlalu mendesak.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 27 Desember 2020  |  11:27 WIB
Ilustrasi teknologi 5G. - REUTERS/Yves Herman
Ilustrasi teknologi 5G. - REUTERS/Yves Herman

Bisnis.com, JAKARTA – Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) mempertanyakan urgensi adopsi 5G di Tanah Air pada tahun depan. Berbeda dengan 4G yang berorientasi pada perluasan cakupan, teknologi 5G seharusnya berorientasi pada pemanfaatan (use case) yang lebih hebat dibandingkan 4G.

Ketua Umum Mastel Kristiono menjelaskan teknologi 4G memiliki satu fitur yaitu dapat membantu layanan internet bergerak dengan kecepatan mencapai 100Mbps. Adapun 5G, memiliki 3 fitur yaitu peningkatan kecepatan internet hingga 1Gbps -10 Gbps, latensi rendah 1 milidetik, dan koneksi terhadap jutaan perangkat IoT.

Hingga saat ini, Indonesia belum memperlihatkan kebutuhan akan fitur-fitur yang dimiliki 5G tersebut. Layanan internet cepat masih dapat dipenuhi oleh 4G yang belum mencapai kecepatan optimal. Kristiono mengatakan rata-rata kecepatan 4G operator hanya 10 Mbps dari batas maksimal 100 Mbps.

Kehadiran 5G pada tahun depan pun diyakini belum akan berdampak pada persaingan perebutan pelanggan seiring dengan pemanfaatan yang belum terlalu mendesak.

Ready itu kan harusnya bahwa kita memang sudah membutuhkan teknologi 5G karena 4G tidak bisa memenuhi kebutuhan kita ... [5G pada tahun depan] Itu sama saja dengan punya iPhone terbaru tetapi hanya dipakai untuk sms, panggilan video, dan swafoto,” kata Kristiono kepada Bisnis, Sabtu (26/12).

Kristiono berpendapat bahwa alasan pemerintah mengebut kehadiran 5G pada tahun depan adalah agar terkesan tidak ketinggalan zaman dan Indonesia sudah siap mengadopsi 5G. Hal tersebut dibuktikan dengan munculnya pemenang lelang frekuensi 2,3GHz yang diklaim sebagai spektrum untuk 5G.

Kristiono mengusulkan agar pemerintah lebih fokus berpikir bagaimana merumuskan kebijakan dan srategi serta regulasi dalam membangun ekonomi 5G beserta ekosistemnya.

Sejalan dengan itu, pemerintah juga perlu menyiapkan spektrum frekuensi yang dibutuhkan baik di pita radio frekuensi bawah, tengah dan atas.

“Kita harus punya strategi partnership global untuk membangun ekonomi 5G, jadi mikirnya jangan hanya beli barang saja tetapi bangun ekosistem nasional,” kata Kristiono.

Sekadar catatan, pemerintah berupaya untuk menghadirkan 5G ke Indonesia pada tahun depan tanpa melupakan pemerataan jaringan 4G di sejumlah desa yang belum terlayani.

Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kemeterian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Widodo Muktiyo mengatakan pemerintah memiliki komitmen kuat dalam pengembangan 5G.

Untuk menghadirkan teknologi Generasi Kelima, kata Widodo, membutuhkan lompatan yang lebih besar dibandingkan saat 3G beralih ke 4G. Oleh sebab itu, Kemenkominfo membentuk gugus tugas pada tahun ini untuk mempersiapkan lompatan ke 5G.  

Selain membentuk gugus tugas, upaya dalam mempercepat akselerasi 5G ke Tanah Air adalah melalui lelang frekuensi 2,3 GHz yang diselenggarakan pada tahun ini.

“Tahun 2021 kita akan mulai menggunakan 5G,” kata Widodo.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

telekomunikasi mastel teknologi 5G
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top