Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Slot Orbit 113 BT Dipilih sebagai Alternatif Satria

Proses pabrikasi satelit yang sedang berjalan menjadi indikasi bahwa proyek Satelit Multifungsi Satria tidak akan gagal.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 20 November 2020  |  08:55 WIB
 Satelit Nusantara Satu buatan PT Pasifik Satelit Nusantara. - www.psn.co.id(psn.co.id)
Satelit Nusantara Satu buatan PT Pasifik Satelit Nusantara. - www.psn.co.id(psn.co.id)

Bisnis.com, JAKARTA – Badan Aksibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) memiliki banyak skema untuk memastikan proyek Satelit Satria berjalan sesuai dengan jadwal.  

Direktur Utama Bakti Anang Latif optimistis bahwa Satria tetap akan mengorbit dan memberikan layanan kepada masyarkat. Proses pabrikasi satelit yang sedang berjalan menjadi indikasi bahwa proyek Satelit Multifungsi Satria tidak akan gagal.

Bakti telah menyiapkan banyak strategi untuk mengantisipasi penolakan perpanjangan tenggat waktu peluncuran satelit Satria. Salah satunya adalah dengan menggunakan slot orbit 113 BT yang saat ini masih kosong.

“Kalau gagal  tidak mungkin, karena sudah pabrikasi dan tinggal meluncurkan,“ kata Anang kepada Bisnis, Kamis (19/11/2020).

Meski demikian, kata Anang, hal tersebut bukanlah opsi utama. Bakti masih ingin memperjuangkan slot 146 BT agar dapat digunakan untuk Satelit Multifungsi Satria.

Adapun mengenai rencana meminjam slot milik negara lain, kata Anang, hal itu sulit dilakukan karena secara spesifikasi, Satria berbeda dengan negara lain. 

“Prinsipnya kami tidak ingin kehilangan slot dan akan kami terus perjuangkan,” kata Anang. 

Sementara itu, Ketua Bidang Infrastruktur Broadband Nasional Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Nonot Harsono mengatakan untuk menggunakan 113 derajat bujur timur Bakti perlu berkordinasi dengan pemilik satelit lainnya.

Pasalnya, kata Nonot, saat ini slot 113 BT diapit oleh dua satelit yang telah beroperasi lama. Menurutnya, mekanisme satelit pendatang baru tidak boleh mengganggu satelit yang telah hadir lebih dahulu.

“Karena sudah penuh maka harus kordinasi dengan sebelahnya. Satelit itu frekuensinya sedikit maka harus kordinasi yang memakan waktu lama untuk beroperasi. Jika menggunakan orbit yang bekas dipakai satelit lain, maka tinggal menaruh satelit saja di sana,” kata Nonot.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

telekomunikasi satelit bakti
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top