Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ilmuwan Teliti 'Fenomena Udara Tak Dikenal'

Asosiasi profesor fisika University at Albany di New York Kevin Knuth yang bekerja dengan Ailleris mengungkapkan saat ini sedang memonitor daerah ditemukannya UAP 2004 lalu di selatan Pulau Catalina wilayah samudera USS Nimitz.
Ika Fatma Ramadhansari
Ika Fatma Ramadhansari - Bisnis.com 13 Oktober 2020  |  18:37 WIB
Ilustrasi fenomena udara tak dikenal
Ilustrasi fenomena udara tak dikenal

Bisnis.com, JAKARTA – Angkatan laut Amerika Serikat (AS) baru-baru ini mengakui objek berperilaku aneh yang tertangkap dalam video pilot jet tahun 2014 lalu. Selain pilot jet, operator radar dan teknisi juga turur menjadi saksi mata kejadian tersebut.

Dilansir dari Space.com pada Selasa (13/10/2020), Agustus ini angkatan laut AS membentuk Gugus Tugas Fenomena Udara Tak Dikenal (UAP) untuk menginvestigasi asal dari objek aneh ini dan menentukan apakah berpotensi mengancam keamanan nasional untuk AS.

Observasi terbaru UAP, konon akselerasi benda ini berkisar dari hampir 100 G-force hingga ribuan G-force. Jauh diatas kecepatan pilot manusia bisa bertahan. Tidak terlihat adanya gangguan udara, tidak memproduksi dentuman sonik.

Melalui temuan ini seruan mempelajari fenomena secara ilmiah muncul, bahkan untuk mempelajari lebih lanjut UAP akan menggunakan satelit-satelit.

Pengontrol proyek di Pusat Penelitian dan Teknologi Luar Angkasa Badan Antariksa Eropa (ESA) di Belanda Philippe Ailleris, saat ini mengerjakan proyek pengumpulan laporan UAP dari amatir maupun profesional.

Bekerja di sektor luar angkasa, Ailleris menyadari bahwa satelit sipil observasi Bumi dapat digunakan untuk mencari UAP. Salah satu caranya dengan memanfaatkan citra gratis yang dikumpulkan oleh satelit Copernicus Uni Eropa, sebuah program pengamatan Bumi yang dikoordinasikan dan dikelola oleh Komisi Eropa bekerja sama dengan ESA.

Menurutnya saat ini semakin banyak pesawat luar angkasa pemindai Bumi yang diluncurkan untuk memeriksa kehidupan dunia.

"Evolusi ini akan merangsang ide-ide berpikiran maju di berbagai domain, termasuk topik kontroversial. Dan mengapa tidak meneliti UAP?" ungkap Ailleris.

Asosiasi profesor fisika University at Albany di New York Kevin Knuth yang bekerja dengan Ailleris mengungkapkan saat ini sedang memonitor daerah ditemukannya UAP 2004 lalu di selatan Pulau Catalina wilayah samudera USS Nimitz.

Rencananya Ailleris dan peneliti lainnya akan melakukan ekspedisi UAP atau yang dinamakan UAPx pada 2021.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

polusi udara tata surya
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top