Ilmuwan Berburu Alien di Exoplanet

Mia Chitra Dinisari
Sabtu, 3 Oktober 2020 | 10:22 WIB
Tata Surya/Reuters
Tata Surya/Reuters
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Peneliti melakukan perburuan kehidupan alien di Exoplanet atau galaksi di luar tata surya.

Penelitian dilakukan dengan pendekatan baru yang luar biasa untuk pencarian kehidupan alien di exoplanet menggunakan teori bayangan pohon.

Pertanyaan tentang apakah kehidupan alien ada telah menyibukkan ilmuwan selama ribuan tahun, tanpa kemajuan yang signifikan sejauh ini dalam menemukan jawaban.

Namun, dengan penemuan lebih dari 4.200 exoplanet dan diperkirakan jumlahnya terus bertambah, penelitian terkait kehidupan alien makin dipacu.

Dengan teleskop generasi terbaru yang mampu melihat langsung planet-planet ini, tim peneliti di Northern Arizona University mencoba pendekatan baru untuk pertanyaan ini. Penelitian ini didanai oleh NASA Habitable Worlds.

ilmuwan telah mengembangkan teknik baru yang menarik untuk menentukan apakah bentuk dasar kehidupan alien dapat dideteksi di exoplanet.

Untuk melakukannya, para peneliti beralih ke bayangan salah satu bentuk kehidupan multiseluler paling umum di Bumi, pohon.

Profesor Chris Doughty, penulis utama studi baru yang penting itu, mengatakan dalam sebuah pernyataan Bumi memiliki lebih dari tiga triliun pohon, dan masing-masing menghasilkan bayangan berbeda dari benda mati.

"Jika Anda pergi keluar pada siang hari, hampir semua bayangan berasal dari benda atau tumbuhan, manusia dan hanya akan ada sedikit bayangan saat ini jika tidak ada kehidupan multiseluler."

Para peneliti menyebutkan kehidupan multiseluler fotosintetik yang melimpah  seperti pohon akan menghasilkan bayangan pada sudut matahari yang tinggi.

Dengan ini, para peneliti percaya, mungkin akan membedakan mereka dari kehidupan seluler tunggal.

Dari teori itu, teleskop luar angkasa akan segera mengamati jenis bayangan yang seharusnya secara teoritis menentukan apakah ada bentuk kehidupan serupa di exoplanet.

Mahasiswa PhD dari Universitas Arizona Andrew Abraham, yang juga terlibat dalam penelitian tersebut, mengatakan: bagian yang sulit adalah bahwa setiap teleskop ruang angkasa di masa depan kemungkinan hanya akan memiliki satu piksel untuk menentukan apakah ada kehidupan di planet ekstrasurya itu.

"Jadi, pertanyaannya bisakah kita mendeteksi bayangan yang menunjukkan kehidupan multiseluler dengan satu piksel?" Ujarnya.

Tetapi dengan hanya satu piksel untuk dikerjakan, para ilmuwan harus memastikan bayangan apa pun yang terlihat oleh teleskop ini jelas merupakan kehidupan multisel, bukan yang lain, seperti kawah.

”Ada anggapan bahwa kawah mungkin menghasilkan bayangan yang mirip dengan pepohonan, dan gagasan kami tidak akan berhasil. Jadi, kami memutuskan untuk melihat replika tempat pendaratan di Bulan di Arizona utara tempat para astronot Apollo berlatih untuk misi mereka ke Bulan." Papar ilmuwan dalam penelitian itu.

Drone digunakan pada waktu yang berbeda dalam sehari untuk memastikan apakah kawah benar-benar menghasilkan bayangan yang berbeda dengan pepohonan.

Para peneliti memasukkan teknik pencitraan mutakhir untuk memastikan apakah teori mereka akan bekerja dalam skala besar.

Dengan menggunakan satelit Polarization and Directionality of Earth's Reflectance (POLDER), para peneliti dapat melihat apakah bayangan di Bumi pada sudut matahari dan waktu yang berbeda dalam sehari.

Mereka juga mengurangi resolusi untuk mereplikasi bagaimana planet kita akan terlihat sebagai satu piksel bagi pengamat asing saat ia berputar mengelilingi Matahari.

Kemudian, tim membandingkannya dengan data terkait dari planet merah Mars, Bulan, Venus, dan Uranus untuk melihat apakah kehidupan multiseluler Bumi itu unik.

Mereka mempelajari daerah-daerah di Bumi yang banyak pohonnya, seperti Amazon, kehidupan multiseluler dapat dibedakan.

Saat mengamati Bumi secara keseluruhan sebagai satu piksel, membedakan kehidupan multisel sangatlah sulit.

Namun, potensi untuk mengamati bayangan bisa jadi lebih dekat daripada yang pernah dilakukan para ilmuwan sebelumnya.

Doughty yakin teknik ini tetap valid dalam teori teleskop ruang angkasa masa depan dapat mengandalkan bayangan yang ditemukan dalam satu piksel.

"Jika setiap planet ekstrasurya hanya satu piksel, kami mungkin dapat menggunakan teknik ini untuk mendeteksi kehidupan multisel dalam beberapa dekade mendatang," katanya.

"Jika diperlukan lebih banyak piksel, kita mungkin harus menunggu lebih lama untuk peningkatan teknologi untuk menjawab apakah kehidupan multiseluler di exoplanet ada." Tutupnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper