Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Raksasa Teknologi Lebih Tertarik ke Singapura, Amvensindo: Wajar

Asosiasi Modal Ventura Seluruh Indonesia (Amvesindo) menilai permasalahan infrastruktur digital Indonesia yang belum mumpuni menjadi alasan raksasa teknologi memilih negara lain.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 17 September 2020  |  21:38 WIB
Ilustrasi startup -
Ilustrasi startup -

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Modal Ventura Seluruh Indonesia (Amvesindo) menilai sikap dari raksasa teknologi asal China, yaitu Tencent Holdings dan ByteDance yang berencana mengembangkan pusat regional untuk Asia Tenggara di Singapura adalah hal yang wajar.

Bendahara Asosiasi Modal Ventura Seluruh Indonesia (Amvesindo) Edward Ismawan Chamdani mengatakan alasan dari perusahaan tersebut lebih memilih Negeri Jiran dibandingkan Indonesia, salah satunya karena permasalahan infrastruktur digital Tanah Air yang belum mumpuni.

“Singapura sebagai negara yang fokus ke bidang jasa keuangan perlu diakui sudah memiliki infrastruktur yang memadai sehingga para korporasi besar berminat dan mau menempatkan investasi mereka. [Untuk Indonesia], perlu terobosan dari multi institusi pemerintah dan regulasi bagi Indonesia untuk bisa mengejar hal ini,” ujarnya saat dihubungi Bisnis.com, Kamis (17/9/2020).

Lebih lanjut, dia menilai terdapat keputusan untuk berinvestasi dari sisi yurisdiksi negara, seperti penempatan kantor utama dan target pasar yang tidak bisa diseragamkan.

Edward mengamini Indonesia memang menjadi pangsa terbesar di kawasan Asia Tenggara dan juga memiliki potensi dari sisi pertumbuhannya, tetapi keputusan untuk berinvestasi tidak serta-merta disebabkan oleh pangsa pasar terbesar tersebut.

“Banyak pertimbangan lainnya dari kepastian hukum, insentif pajak, kemudahan dalam membentuk, mengelola dan merestrukturisasi perusahaan serta komponen-komponen fungsi administratif lainnya,” katanya.

Dia mengatakan bahwa bila disandingkan dengan negara tetangga Laju Pertumbuhan Majemuk Tahunan (CAGR) di Indonesia merupakan yang tertinggi. Hal ini sesuai dengan laporan Google Temasek yang menyebutkan CAGR tersebut berada di angka 49 persen.

Berdasarkan laporan Google, Temasek, dan Bain bertajuk e-conomy SEA 2019, nilai ekonomi berbasis digital Indonesia diperkirakan US$133 miliar pada 2025. Indonesia berkontribusi besar terhadap nilai ekonomi digital di Asia Tenggara yang diproyeksikan US$300 miliar pada 2025.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

teknologi
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top