Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Komet Langka Neowise Lintasi Indonesia, Begini Cara Mengamatinya

Waktu terbaik untuk mengamatinya yaitu pada tanggal 23 Juli 2020. Komet akan mulai sulit dilihat pada tanggal 26 Juli 2020
Lukas Hendra TM
Lukas Hendra TM - Bisnis.com 21 Juli 2020  |  12:31 WIB
Komet Neowise
Komet Neowise

Bisnis.com, JAKARTA—Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mengungkapkan komet C/2020 F3 (Neowise) akan melintasi Indonesia mulai 19 Juli 2020 hingga 25 Juli 2020 setelah matahari terbenam.

“Waktu terbaik untuk mengamatinya yaitu pada tanggal 23 Juli 2020. Komet akan mulai sulit dilihat pada tanggal 26 Juli 2020,” tulis LAPAN lewat akun IG resminya @lapan_ri.
?
LAPAN mengungkapkan meskipun akan terlihat secara kasat mata, komet akan semakin sulit dilihat di daerah yang memiliki polusi cahaya tinggi. Oleh karena itu LAPAN menyarankan supaya lebih jelas dalam mengamati fenomena antariksa ini akan lebih baik jika menggunakan alat bantu pengamatan seperti kamera digital dengan kepekaan cahaya yang tinggi, binokular, dan teleskop.

“Dan tentunya tidak ada objek yang menghalangi horizon di arah barat laut,” ujarnya.

LAPAN mengungkapkan fenomena antariksa ini cukup langka karena setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh dan mencapai titik terdekatnya dengan Bumi pada 23 Juli 2020, butuh 6800 tahun lagi untuk komet NEOWISE bisa bertemu kembali mendekati orbit Bumi.

Oleh karena itu, taka da salahnya untuk mengabadikan komet ini melalui tangkapan kamera digital Anda. LAPAN pun memberi beberapa tips. Kamera digital yang digunakan bisa menggunakan DSLR maupun mirrorless. Namun, pengguna musti memahami crop factor yang dimiliki masing-masing kamera untuk menentukan panjang lensa yang akan digunakan.

Kamera DSLR Canon APSC misalnya memiliki crop factor 1,6. Sementara DSLR Nikon APSC biasanya memiliki crop factor 1,5. Adapun, kamera mirrorless Fujifilm biasanya memiliki crop factor 1,53. Sementara, kamera mirrorless Sony APSC biasanya menggunakan crop factor 1,5.

LAPAN memberikan rumus manual untuk menghitung kecepatan (shutter speed) yang harus disetting pada kamera untuk menghindari trail (non tracking) yakni:
Shutter speed = 500/focal length(mm)/crop sensor.

Selain hitungan itu, tentu saja yang Anda butuhkan adalah lensa tele. Jika mengacu pada akun IG @lapan_ri, mereka sukses memotret komet itu dengan menggunakan lensa 135mm dengan bukaan diafragma maksimum f1.8.

Tak hanya lensa tele, Anda juga perlu menyiapkan tripod. Dan kalau saya, juga memanfaatkan shutter release untuk menghindari goncangan.

Berikut tips lengkap dari LAPAN:
1. Pilih lokasi pengamatan yang arah Barat laut bebas obstruksi
2. Bebas dari polusi cahaya dan perhatikan jendela pengamatan
3. Jangan gunakan instrument dengan medan pandang sempit
4. Jika objek redup, gunakan perangkat yang memiliki fitur go-to dan tracking/guidingnya bagus.
5. Ambil shutter speed yang panjang, tetapi tidak terlalu panjang.
6. Jika komet redup, ambil citra yang sama berulang kali dan ambil citra kalibrasi (bias, dark, flat) dan kemudian ditumbuk (stack).
7. Timing sangat penting.


Pada 23 Juli 2020, berikut waktu pengamatan yang baik di sejumlah lokasi di Indonesia. Padang (19.17-20.30), Jakarta (18.42-19.40), Bandung Sumedang dan Garut (18.38-19.34), Pasuruan (18.17-19.10), Pontianak (18.41-19.54), Pare-Pare (18.54-19.57), Tomohon (18.41-19.56), Tilong (18.29-19.31), Biak (18.52-20.01).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kartu komet antariksa
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top