Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Lubang Hitam Berukuran 23 Kali Matahari Telan Benda Misterius

Massa benda misterius, pada 2,6 massa matahari, mirip dengan benda yang terbentuk dari pengamatan pertama kali oleh LIGO dan Virgo pada tahun 2017 dari dua bintang neutron yang bertabrakan, yang dianggap sebagai lubang hitam.
Lukas Hendra TM
Lukas Hendra TM - Bisnis.com 24 Juni 2020  |  18:40 WIB
Lubang hitam
Lubang hitam

Bisnis.com, JAKARTA— Sebuah lubang hitam berukuran 23 kali ukuran matahari telah menelan benda strofisika misterius, menurut penelitian baru yang diumumkan hari ini oleh LIGO.

Penelitian itu dilakukan oleh observatorium gelombang gravitasi interferometer laser (Laser Interferometer Gravitational-Wave Observatory/LIGO) dan observatorium gelombang gravitasi Virgo, termasuk peneliti dari The Australian National University (ANU).

Pada laman resmi Austalian National University mengungkapkan, gelombang gravitasi dari peristiwa mengejutkan ini dideteksi oleh detektor LIGO dan Virgo pada 14 Agustus 2019 dengan sinyal yang datang dari jarak sekitar 800 juta tahun cahaya.

Para peneliti berpikir objek misteri kemungkinan besar adalah lubang hitam paling terang atau mungkin bintang neutron terberat yang pernah ditemukan. Bintang neutron terbentuk selama ledakan bintang raksasa dan merupakan jenis bintang terkecil dan terpadat di semesta. Namun, massa benda itu membuatnya "menarik".

"Ada kesenjangan massa antara massa bintang-bintang neutron yang diketahui yang kurang besar dan lubang hitam yang lebih besar," kata Profesor Susan Scott dari ANU Research School of Physics, seperti dikutip dari laman resmi Austalian National University, Rabu (24/6/2020).

Dia mengungkapkan objek ini termasuk dalam celah massa itu, menjadikannya bintang neutron terberat atau lubang hitam teringan yang pernah ditemukan.

Massa benda misterius, pada 2,6 massa matahari, mirip dengan benda yang terbentuk dari pengamatan pertama kali oleh LIGO dan Virgo pada tahun 2017 dari dua bintang neutron yang bertabrakan, yang dianggap sebagai lubang hitam.

ANU SkyMapper Telescope memindai area ruang tempat peristiwa terjadi, tetapi tidak dapat menemukan petunjuk visual apa pun.

"Menemukan cahaya dari peristiwa ini akan menjadi senjata merokok yang membuktikan bahwa kami baru saja melakukan pengamatan pertama terhadap penggabungan lubang hitam dengan bintang neutron," kata Profesor Scott.

Menurutnya, massa yang sangat tidak merata dari benda-benda yang bertabrakan dan peristiwa ini sangat jauh, maka tidak adanya petunjuk visual konsisten dengan penggabungan lubang hitam biner atau penggabungan lubang hitam dengan bintang neutron.

Teryy Mcrae, peneliti postdoctoral OzGrav ANU, mengungkapkan teori relativitas umum memprediksi perubahan dalam gelombang gravitasi yang dihasilkan ketika benda berukuran sangat berbeda terlibat dalam tumbukan.

“Peristiwa ini menegaskan prediksi itu. Ini semakin memperkuat relativitas umum sebagai teori paling sukses dalam fisika era modern," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

matahari antariksa
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top