Rencana Tri Jika Menangkan Pita 700 MHz

Saat ini Tri beroperasi pada pada jaringan 1.800 MHz dan 2.100 MHz.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 09 Februari 2020  |  17:09 WIB
Rencana Tri Jika Menangkan Pita 700 MHz
Menara BTS PT Hutchison 3 Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA – PT Hutchison 3 Indonesia (Tri) mengharapkan pemerintah menyerahkan penggunaan jaringan frekuensi 700 MHz untuk perusahaan.

Wakil Presiden Direktur PT Hutchison 3 Indonesia (Tri) M. Danny Buldansyah  mengatakan penggunaan frekuensi 700 MHz akan mengisi celah frekuensi milik perseroan. Saat ini Tri beroperasi di Indonesia pada jaringan 1.800 dan 2.100 MHz.

"Tri pasti ingin yang 700 MHz, karena saat ini Tri nggak punya yang di low-band. Tri kan cuma punya yang di 1.800 dan 2.100 MHz, kalau operator lain kan ada yang di 900 MHz, 800 MHz ya," ungkap Danny  di Jakarta, Jumat (7/2/2020).

Menurutnya, Frekuensi 700 MHz akan memberikan jangkauan lebih baik dengan infrastruktur lebih sedikit. frekuensi yang lebih rendah punya cakupan jaringan yang lebih luas. Model ini berbalik dengan frekuensi tinggi yang membutuhkan infrastruktur lebih banyak.

Kehadiran frekuensi yang saat ini digunakan oleh TV analog ini diyakini untuk mendukung hadirnya internet cepat, termasuk 5G. Layanan interbet cepat ini membutuhkan frekuensi tambahan.

Danny mengatakan frekuensi ini menarik untuk Tri karena kemampuannya untuk menjangkau lebih banyak pengguna. Tapi ia juga mengakui spektrum ini memiliki kelemahan yaitu kecepatan yang lebih rendah.

“Pertama 5G pasti bermulanya di kota besar, logikanya begitu, di Jakarta itu pengalur jaringan (backhaul) sudah cukup rapat. Nanti baru merambah ke kota selanjutnya, karena di kota lain backhaulnya memiliki sedikit masalah [masih renggang],” jelasnya.

Danny menyebutkan kedua frekuensi ini bisa dimanfaatkan tergantung pada kondisi wilayah. Frekuensi 700 MHz nantinya bisa digunakan dalam daerah penduduk yang lebih jarang, sedangkan frekuensi 2,6 GHz bisa dimanfaatkan di daerah yang lebih padat.

"Misalnya saya bangun di area yang ramai, itu kita pakai 2.600 nggak masalah, malah lebih bagus kualitasnya. Tapi begitu kita ngomong mau taruh di Puncak [Jawa Barat], kita lebih senang pakai 700 MHz karena bisa mencakup area lebih luas. Itu sangat situasional," pungkasnya.

Lebih lanjut ia mengingatkan tantangan dalam penambahan jaringan adalah sistem penduk yakni pengalur jaringan. Terutama terkait perizinan dari pemerintah daerah. Setiap daerah memiliki kebijakan berbeda akibatnya membuat operator harus berhitung cermat sebelum meletakan investasi.

“Kalau membangun backahaul kami menggali jalan, memasang di tiang, segala macam dan butuh sinergi antara industri dan pemerintah daerah. Kita pengen ada keseragaman [di seluruh Indonesia] yang memberi jaminan kabel [yang dibangun] itu aman,” jelasnya.

Dia juga mengingatkan besaran biaya komunikasi yang harus ditanggung masyarakat tiap biaya daerah sangat berbeda. Komponen yang digunakan operator salah satunya penetapan retribusi di setiap daerah.

Selain itu, Dany menyebutkan Tri tengah meminta ke pemerintah spektrum 2,6 GHz yang saat ini digunakan dapat dipakai dalam komunikasi satelit. Spektrum ini memiliki pita yang lebih lebar, sehingga kecepatannya lebih tinggi walau area cakupannya yang lebih kecil.

Spektrum 700 MHz masih menunggu jadwal lelang dari pemerintah. Jaringan pada frekuensi ini diyakini akan mempercepat hadirnya internet super ngebut di Indonesia jika dialihkan untuk kepentingan telekomunikasi dari saat ini dimanfaatkan untuk TV analog.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
operator telekomunikasi

Editor : Anggara Pernando
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top