Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Industri Telko 2020: Persaingan Akuisisi Pelanggan Operator Bakal Makin Sengit

Persaingan akuisisi pelanggan antaroperator diperkirakan kian ketat seiring dengan jumlah pelanggan baru yang makin terbatas dan perlambatan ekonomi.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 11 Desember 2019  |  12:43 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Persaingan akuisisi pelanggan antaroperator diperkirakan kian ketat seiring dengan jumlah pelanggan baru yang makin terbatas dan perlambatan ekonomi.

Operator pun menyiapkan sejumlah strategi untuk mencaplok pelanggan operator lainnya. Group Head Corporate Communication PT XL Axiata Tbk. Tri Wahyuningsih berpendapat bahwa ketatnya persaingan industri telekomunikasi sudah nampak pascaimplementasi registrasi prabayar.

Sementara itu, kata Ayu, pada saat yang bersamaan, operator juga menghadapi tantangan perubahan perilaku pelanggan yang beralih menggunakan layanan data.

Pada kuartal III/2019 jumlah pelanggan mencapai 55,5 juta pelanggan. Turun 1,1 juta pelanggan dibandingkan dengan kuartal II/2019.   

“Dari sisi industri, tingkat penetrasi kartu juga sudah mencapai titik puncaknya, sehingga upaya operator untuk mendapatkan pelanggan baru tentu juga makin menantang,” kata Ayu kepada Bisnis.com, belum lama ini. 

Dia mengatakan untuk mendapatkan pelanggan baru dan mempertahankan pelanggan yang ada perseroan akan fokus terus meningkatkan kenyamanan dan memberikan pengalaman yang lebih bagi pelanggan.

XL akan terus melakukan pembangunan dan peningkatkan infrastruktur jaringan tidak hanya di wilayah Jawa, tetapi juga di luar Jawa. Ayu meyakini pengalaman pelanggan akan menjadi kunci persaingan di tahun depan.

“XL juga  menyediakan berbagai paket layanan data dan konten yang relevan dan sesuai dengan kebutuhan pelanggan dengan harga yang bersaing,” kata Ayu.

Wakil Direktur PT Hutchison 3 Indonesia Danny Buldansyah menilai bahwa peluang mendapat pelanggan baru, tahun depan, hanya dapat dilakukan dengan akuisisi pelanggan operator lain atau menyasar segmen IoT.

Dia mengatakan bahwa penetrasi gawai yang mulai jenuh menjadi penyebab pertumbuhan pelanggan baru melambat.

Di samping itu, pertumbuhan ekonomi yang lambat juga memengaruhi pertumbuhan industris telekomunikasi, termasuk untuk pelanggan operator seluler.  

“Sekarang berapa sih orang yang tidak memiliki gawai saat ini? Sudah banyak yang megang. Paling anak kecil yang belum megang gawai atau mungkin orang yang ekonominya kurang mampu menjadi mampu. Tetapi itu [yang ekonominya naik] tidak terlalu banyak,” kata Danny.  

Selalin itu, lanjut Danny, lambatnya pertumbuhan pelanggan baru di industri telekomunikasi juga disebabkan oleh cakupan operator seluler yang makin luas. Hanya sedikit daerah yang belum terjangkau oleh akses telekomunikasi.

Adapun, untuk mengakuisisi pelanggan operator lain, tahun depan Tri akan fokus dalam meningkatkan kualitas layanan dan jaringan. Diketahui saat ini jumlah pelangga Tri hampir menyentuh angka 40 juta. Tri masih dalam jalur mengejar target tersebut 40-45 juta pelanggan hingga akhir tahun.  

Dia mengatakan bahwa ke depan pelanggan baru juga akan datang dari mesin, bukan orang. Artinya pertumbuhan jumlah pelanggan akan mengarah pada penggunaan IoT di Indonesia.

 “Kalau dari orang bukan tidak bisa, namun sudah mature, emang kita mau suruh satu orang harus punya empat gawai kan tidak mungkin,” kata Danny.

Senada, Deputy CEO PT Smartfren Telecom Tbk. Djoko Tata Ibrahim mengatakan bahwa penettasi gawai di Indonesia sudah cukup tinggi. Bahkan saat ini jumlah nomor gawai sudah lebih besar dari jumlah penduduk akibat banyak masyarakat yang  memiliki dua nomor atau lebih.

Situasi ini mengakibatkan persaingan meraih pelanggan baru akan menjadi lebih berdarah-darah. Menurutnya, pelanggan baru operator tahun depan, bukan lah  pelanggan yang benar-benar baru atau pengguna gawai baru melainkan pelanggan operator lain yang berpaling ke operator lain.

Meski demikian, Smartfren tetap berambisi melanjutkan tren positif pertumbuhan jumlah pelanggan sebagaimana yang dicatatkan dalam 2 tahun terakhir.  

Pada 2017 jumlah pelanggan Smartfren sekitar 6 juta pelanggan. Angka tersebut bertambah pada 2018 menjadi 12 juta pelanggan. Rencananya, hingga akhir 2019, jumlah pelanggan Smartfren dapat menyentuh angka 25 juta. Adapun hingga kuartal III/2019, Smartfren mengklaim telah memiliki 21 juta pelanggan.

Djoko mengatakan dalam mendorong pertumbuhan jumlah pelanggan perseroan masih akan mengandalkan produk yang berkualitas. Dia mengklaim bahwa produk 4G unlimited Smartfren belum dapat tertandingi oleh produk manapun.

Kedua, pertumbuhan juga didorong oleh jaringan 4G yang dimiliki. Smartfren yang hanya menggelar jaringan 4G memiliki nilai tambah karena kualitas jaringan pelanggan tidak akan turun kelas ke 3G atau 2G.

Kemudian, faktor lain yang mendorong pertumbuhan adalah harga layanan murah dengan Rp2.000/GB. 

“Terakhir adalah promosi WoW yang diundi tiap bulan dengan hadiah rumah dan mobil. Itu akan menambah loyalitas pelanggan karena mereka sayang dengan poin yang terkumpul jika pindah,” kata Djoko.

Sebelumnya, ADA, perusahaan pemasaran, iklan dan analisis data bagian dari Axiata Group, mengeluarkan penelitian terhadap 200 tenaga pemasar di sembilan negara mengenai dampak perlambatan ekonomi tahun depan. Alhasil, para tenaga pemasar berpendapat bahwa industri telekomunikasi, selain industri layanan keuangan dan makanan, akan terdampak oleh kondisi perlambatan ekonomi global.

 Dalam laporan yang berjudul “2020 Outlook for Southeast Asian Markets” ADA menyebutkan bahwa sekitar 46,1% responden menilai pertumbuhan pelanggan baru tahun depan akan berjalan lambat. 30,1% menyebut bahwa pertumbuhan akan stagnan seperti 2019, dan 20,4% menyebut bahwa pertumbuhan pelanggan tetap terjadi cukup signifikan.

Berbeda, Analis Kresna Sekuritas, Etta Rusdiana Putra justru berpendapat bahwa jumlah pelanggan operator pada tahun depan tetap akan tumbuh, didorong oleh penetrasi gawai yang makin tinggi dan perilaku orang Indonesia yang gemar menggunakan dua gawai.

Adapun untuk pertumbuhan pendapatan operator seluler di Indonesia, dia memproyeksikan pendapatan akan tetap tumbuh 6,9%.

“Data masih akan menjadi penopang utama,” kata Etta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

operator telekomunikasi industri telekomunikasi operator seluler
Editor : Wike Dita Herlinda
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top