75 Persen CIO Investasi TI untuk Petakan Keinginan Pelanggan

Keberadaan chief technology officer (CIO) atau direktur teknologi informasi di sebuah perusahaan menjadi penting. Mereka dituntut untuk mengembangkan jaringan teknologi informasi untuk memetakan pelanggan guna mendongkrak pemasaran.
Sutarno
Sutarno - Bisnis.com 12 November 2019  |  18:06 WIB

Bisnis.com, BADUNG, Bali - Keberadaan chief technology officer (CIO) atau direktur teknologi informasi di sebuah perusahaan menjadi penting. Mereka dituntut untuk mengembangkan jaringan teknologi informasi untuk memetakan pelanggan guna mendongkrak pemasaran.

John Abel, Senior Vice Presiden dan CIO Veritas Technologies LLC-vendor solusi manajeman data, mengatakan para CIO dituntut perusahaan untuk mengembangkan sistem yang bukan semata-mata mendigitalisasi kegiatan bisnis, namun lebih dari itu untuk membuat sistem yang bisa memetakan keinginan pelanggan.

"Sekitar 50 persen CIO menginginkan untuk bisa mengetahui keinginan pelanggan, sedangkan 25 persen ingin memperbaiki kepuasan pelanggan dengan menggunakan analisis data," ujarnya dalam acara Veritas Costumer Executive Forum, Asia South di Nusa Dua, Kabupaten Badung Bali, hari ini, Selasa (12/11/2019).

Dengan kata lain 75 persen CIO mengalokasikan sumer daya teknologi informasi (TI) perusahaan demi memetakan keinginan pelanggan,

Oleh karena itulah kehadiran CIO sangat dibutuhkan untuk melakukan transformasi digital di perusahaan agar semua proses bisnis bisa dijalankan dengan sistem berbasis analisis data.

Menurut Abel sistem tersebut pada akhirnya adalah untuk membantu pemasaraan perusahaan dengan membuat analisis pola perilaku pelanggan.

Kemudian ketika sistem tersebut berhasil dikembangkan dan mendongrak pemasaran, tidak jarang kemudian CIO itu diangkat menjadi CEO.

"Diperkirakan 25 persen hingga 50 persen CIO akan menempati pos baru mereka menjadi CEO," lanjut Abel.

Meskipun demikian, tidak jaranga CIO gagal melakukan transformasi sistem tersebut, namun bukan karena faktor teknologi, melainkan soal sosialisasi sistem baru kepada karyawan.

"Mereka gagal mengkomunikasikan tujuan transformasi tersebut kepada karyawan," tutur Abel.

Hal itu bisa dimaklum karena transformasi tersebut adalah pengembangan model pendapatan baru, perbaikan pengalaman atau kepuasan pelanggan, dan menggunakan basis analisis data.

Meskipun dihadapkan kepada kegagalan, lanjut Abel, transformasi tersebut sangat diperlukan untuk menjaga kelangsungan perusahaan secara jangka panjang.

"Kita harus memikirkan apa yang harus dikerjakan sekarang untuk menghadapi harus esok, bukan lagi memikirkan apa yang harus dikerjakan besok," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
layanan data, data center

Editor : Sutarno
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top