Ironis, Pengguna Internet Asia Pasifik Mau Berbagi Data Pribadi Demi Hadiah

Dalam laporan Kaspersky berjudul Global Privacy yang dirilis 2019, sebanyak 39,2 persen pengguna internet di Asia Pasifik mengatakan bersedia mengorbankan data pribadi untuk mendapatkan keselamatan tambahan seperti pemeriksaan keamanan atau pengawasan.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 02 Oktober 2019  |  18:11 WIB
Ironis, Pengguna Internet Asia Pasifik Mau Berbagi Data Pribadi Demi Hadiah
Ilustrasi aktivitas di depan komputer. - REUTERS/Kacper Pempel

Bisnis.com, JAKARTA -- Pengguna internet di Asia Pasifik tidak sungkan dalam membagikan informasi pribadi di media sosial. Bahkan, para responden mengatakan bersedia mengorbankan data pribadi untuk memeroleh keuntungan jangka pendek dan 'likes' dari media sosial.

Dalam laporan Kaspersky berjudul Global Privacy yang dirilis 2019, sebanyak 39,2 persen pengguna internet di Asia Pasifik mengatakan bersedia mengorbankan data pribadi untuk mendapatkan keselamatan tambahan seperti pemeriksaan keamanan atau pengawasan.

Untuk 22 persen responden mengaku bersedia berbagi perincian media sosial untuk mengetahui hasil kuis yang menghibur, sedangkan 18,9 persen mengaku akan mengabaikan privasi jika bisa mendapatkan sesuatu secara gratis, seperti perangkat lunak, layanan ataupun hadiah.

Lebih jauh laporan tersebut mengungkapkan 55,5 persen responden di Asia Pasifik dari kelompok umur 16-24 tahun dan 25-34 tahun berpikir mustahil untuk memiliki privasi daring yang utuh di era digital modern.

Adapun, sebanyak 53,6 persen para pengguna internet yang disurvei mengaku sudah mengalami pelanggaran data pribadi oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab. Pelanggaran privasi daring paling tinggi terjadi untuk kelompok usia 16-24 tahun, yaitu mencapai 57,1 persen.

Kaspersky mencatat, laporan tersebut menunjukkan sebanyak 56,7 persen para pengguna daring di kawasan APAC saat ini menghadapi ancaman di dunia daring dengan kata sandi, kecerobohan masih dapat hadir dari perilaku  lain, seperti membagikan informasi di media sosial yang memiliki kemungkinan konsekuensi jangka panjang.

Laporan itu juga menyatakan fakta bahwa tidak selamanya pengguna internet dapat menjamin keamanan digital dengan baik. "Banyak dari kita justru memilih untuk membagikan data tanpa berpikir panjang di platform online, padahal itu memiliki risiko kerugian yang besar, sehingga banyak orang tanpa disadari justru menjadikan diri mereka target terbuka,”  ungkap laporan Kaspersky yang diterima Bisnis.com, Rabu (2/10/2019).

Terkait dengan kondisi tersebut, General Manager for Southeast Asia Kaspersky Yeo Siang Tiong mengatakan Kaspersky akan terus mengadvokasi para pengguna internet agar dapat mengelola digital hygine mereka dengan baik.

"Upaya ini adalah salah satu langkah dasar bagi kita untuk dapat menghentikan informasi dan data rahasia kita jatuh ke tangan yang salah," ujar Tiong.

Dia menambahkan kebiasaan membagikan kredensial di media sosial demi mendapatkan hasil kuis seperti 'termasuk jenis bunga apakah kamu?', mungkin tidak terlihat begitu berbahaya bagi perusahaan besar.

Pada kenyataannya, dengan adopsi Bring Your Own Device (BYOD) yang tinggi di wilayah Asia Tenggara, satu kredensial media sosial karyawan yang tercuri memiliki dampak yang cukup besar bagi pertahanan daring perusahaan.

"Kami menyarankan bisnis agar mempertimbangkan serangkaian pelatihan keamanan siber komprehensif dan interaktif untuk meningkatkan kesadaran akan garis keamanan pertama mereka, yaitu karyawan,” tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
keamanan siber

Editor : Hendra Wibawa

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top