Migrasi ke Komputasi Awan, Perusahaan Lokal Butuh Solusi Mudah

Ketersediaan solusi komputasi awan yang mudah diterapkan dinilai menjadi jawaban dari kebingungan yang dialami oleh oleh perusahaan-perusahaan di Tanah Air yang sedang berada di dalam tahap migrasi ke pengadopsian teknologi komputasi awan.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 12 September 2019  |  15:20 WIB
Migrasi ke Komputasi Awan, Perusahaan Lokal Butuh Solusi Mudah
Komputasi awan - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Ketersediaan solusi komputasi awan yang mudah diterapkan dinilai menjadi jawaban dari kebingungan yang dialami oleh oleh perusahaan-perusahaan di Tanah Air yang sedang berada di dalam tahap migrasi ke pengadopsian teknologi komputasi awan.

Country Sales Manager, Software AG Indonesia, Rendy Adhisurya, mengatakan perusahaan-perusahaan di Indonesia memerlukan suatu solusi yang dapat memindahkan aplikasi on-premise ke komputasi awan secara berkelanjutan dan selancar mungkin.

Sejauh ini, lanjutnya, perusahaan-perusahaan tersebut masih menunggu efek positif yang cukup signifikan dari pengadopsian tekonologi komputasi awan untuk membangun keyakinan dalam melakukan migrasi.

"Dalam melakukan digitalisasi, perusahaan di Indonesia masih bingung untuk memulai dari mana. Perusahaan tersebut masih mencari rumus yang cocok, masih dalam tahap belajar," ujar Rendy di Jakarta, Rabu (11/9/2019).

Berdasarkan data Kaspersky, jumlah persentase perusahaan di Indonesia yang mengalami kebingungan untuk beralih ke komputasi awan Kaspersky cukup signifikan, di mana terdapat sebanyak 12,2% perusahaan belum yakin untuk melakukan migrasi karena khawatir dengan masalah perlindungan data.

Sementara itu, sebanyak 49,2% perusahaan di Indonesia ragu karena khawatir dengan insiden keamanan siber yang dapat memengaruhi infrastruktur TI dari penyedia layanan.

Perusahaan penyedia jasa layanan komputasi awan pun tidak terlepas dari beragam tantangan, terutama dalam memungkinkan terjadinya transisi yang lancar dengan tetap mempertahankan keberlangsungan operasional dan akses data perusahaan .

Excecutive Vice President, Worldwide Commercial Business Microsoft Corporation, Judson Althoff, menjelaskan sebagian solusi yang disediakan untuk perusahaan dalam melakukan migrasi dari layanan on-premise komputasi awan tidak mampu menjamin keberlangsungan bisnis suatu perusahaan pada saat terjadi transisi.

"Migrasi ke komputasi awan tidaklah mudah dan sering menjadi tantangan bagi tim TI. Dalam memindahkan teknologi on-premise ke cloud, operasi bisnis yang sedang berjalan sering tidak dapat berlangsung dengan lancar," ujarnya.

Salah satu penyedia layanan komputasi awan asal Jerman, Software AG, saat ini berkolaborasi dengan Microsoft dalam upayanya menyediakan solusi yang memungkinkan perusahaan untuk mempercepat serta menyederhanakan proses migrasi dari layanan on-premise ke komputasi awan sembari mempertahankan keberlangsungan bisnis.

Adapun, kedua perusahaan meluncurkan platform bernama webMethodes.io Integration yang memungkinkan untuk dilakukannya penggabungan aplikasi, layanan, serta data komputasi awan dengan lebih cepat, mudah, dan lancar, di mana ekosistem di dalamnya dapat terhubung dengan sempurna.

"Platform tersebut dapat mengintegrasikan setiap aplikasi dan sistem, serta mampu melakukan otomatisasi secara end-to-end. Output-nya, antarperusahaan akan semakin mudah dalam melakukan kerja sama bisnis," lanjutnya.

Dia mengatakan, solusi yang dihadirkan memastikan jalur migrasi ke komputasi awan dapat berlangsung dengan lancar, di mana perusahaan dimungkinkan untuk memiliki ekosistem yang benar-benar terhubung.

Saat ini, Software AG menyediakan layanan komputasi awan kepada sekitar 50 perusahaan di Indonesia, di mana 50% di antaranya berada di sektor perbankan. Adapun, dalam beberapa waktu ke depan, Software AG berencana mendorong percepatan migrasi ke komputasi awan perusahaan di sektor Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Adapun, upaya mengakselerasi pengadopsian teknologi komputasi awan di Indonesia juga dilakukan oleh beberapa penyedia layanan teknologi lain, seperti Google Cloud dan Accenture.

Seperti halnya Software AG dan Microsoft, kedua penyedia layanan tersebut berkolaborasi dalam mengembangkan 3 hal, yakni memungkinkan terjadinya interaksi antarpelanggan melalui berbagai macam saluran, meningkatkan manajemen data, dan menciptakan layanan personalisasi yang akseleratif dalam hal pemasaran, penjualan, dan layanan.

Dengan penekanan awal di industri ritel, produk kemasan, dan kesehatan, kolaborasi Accenture dan Google Cloud akan berfokus pada 5 hal, antara lain; pertama, membangun proses bisnis dengan pendekatan berbasis kecerdasan buatan dan pembelajaran mesin (machine learning/ML) guna menciptakan nilai-nilai baru di perusahaan.

Kedua, memodernisasi infrastruktur dengan memindahkan beban kerja perusahaan ke komputasi awan dan menyediakan layanan terkelola yang sesuai dengan platform Google Cloud.

Ketiga, menghantarkan layanan berskala global kepada perusahaan klien dengan memberikan solusi system application and processing (SAP) yang dikelola oleh Google Cloud Platform.

Keempat, menciptakan pengalaman pelanggan yang relevan dengan menggabungkan data dari Google Marketing Platform dengan sumber-sumber data perusahaan lainnya sebagai upaya kedua perusahaan meningkatkan wawasan dan keterlibatan pelanggan.

Kelima, menetapkan skala G Suite, yakni sebuah tool milik Google yang menggabungkan berbagai fitur untuk membantu perusahaan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan produktivitas.

Adapun, G Suite akan diterapkan di seluruh bagian perusahaan dengan menata ulang pekerjaan menggunakan layanan produktivitas cloud native yang aman, cerdas, dan sederhana.

Potensi peningkatan pengadopsian teknologi komputasi awan oleh perusahaan di Indonesia sendiri cukup besar dalam beberapa waktu ke depan.

Data Kaspersky mengungkapkan sebanyak 32,1% perusahaan di Indonesia berencana mengadopsi jenis layanan komputasi awan dalam kurun waktu 12 bulan mendatang, di mana saat ini perusahaan yang sudah mengadopsi layanan komputasi awan publik jumlahnya 19,4%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
cloud computing

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top