Indonesia Surga E-commerce, Transaksi Daring Menguat Sepanjang Semester I/2019

Industri dagang-el Tanah Air terus menunjukkan tren positif, tercermin dari pertumbuhan transaksi atau Gross Merchandise Value (GMV) yang berhasil dibukukan sejumlah platform sepanjang paruh pertama tahun ini.
Deandra Syarizka
Deandra Syarizka - Bisnis.com 01 Agustus 2019  |  12:59 WIB
Indonesia Surga E-commerce, Transaksi Daring Menguat Sepanjang Semester I/2019
Ilustrasi e-commerce - CC0

Bisnis.com, JAKARTA — Industri dagang-el Tanah Air terus menunjukkan tren positif, tercermin dari pertumbuhan transaksi atau Gross Merchandise Value (GMV) yang berhasil dibukukan sejumlah platform sepanjang paruh pertama tahun ini.

 PT Bukalapak mencatat  transaksi tahunan sebesar US$5 miliar dengan lebih dari 2 juta transaksi per harinya selama semester pertama tahun ini.

 Laba bruto per bulan di Bukalapak pun diklaim meningkat dua kali lipat lebih tinggi dari angka Desember 2018. Laba tersebut diperoleh dari transaksi lebih dari 4 juta pelaku UMKM dan 2 juta mitra Bukalapak yang ada hingga saat ini.

 Founder dan CEO Bukalapak Achmad Zaky juga mengumumkan capaian yang ditorehkan setelah 9 tahun perjalanan Bukalapak, yaitu sebanyak 2 juta warung/toko kelontong dan agen wirausaha mandiri Mitra Bukalapak telah hadir di 477 dari 514 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia.

 Hingga saat ini, dia menyebut rata-rata jumlah pelanggan Warung Mitra mencapai 2 kali lebih banyak dari pengunjung toko di pusat perbelanjaan.Tidak hanya berjualan kelontong saja, bersama Bukalapak mereka dapat memperluas layanan bisnis dengan menjual produk virtual seperti token listrik, pulsa , PDAM, BPJS dan tiket kereta.

“Hal ini membuat kesempatan untuk meningkatkan keuntungan bisnis semakin besar.  Misalnya, total penjualan token listrik dalam 1 bulan di semua Mitra Bukalapak  dapat menerangi lebih dari 800.000 rumah di Indonesia,” ujar Zaky, Rabu (31/7/2019).

Pihaknya juga kini memiliki program bernama BukaGlobal, yang merupakan upaya ekspor produk pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) ke Malaysia, Taiwan, Brunei Darussalam dan Hong Kong

Sebagai perbandingan, total GMV Shopee, platform dagang-el yang beroperasi di tujuh negara termasuk Indonesia, tembus US$3,5 miliar sepanjang kuartal I/2019. Jumlah ini meningkat 81,8% secara tahunan dari US$1,9 miliar di periode yang sama tahun sebelumnya, atau meningkat 3% dari kuartal empat 2018 sebesar US$ 3,4 miliar.

 Sea Ltd, perusahaan induk Shopee yang berbasis di Singapura, memang belum mempublikasikan laporan keuangannya per kuarta II/2019. Namun dari laporan keuangan per kuartal I/2019, diketahui bahwa jumlah pesanan Shopee di Indonesia menyentuh 83,5 juta pesanan . Artinya, Shopee memproses rata-rata 900.000 pesanan setiap harinya di Indonesia, sekaligus menjadikan negara ini pasar terbesarnya.

Forrest Li, Chairman and Group CEO of Sea Ltd menyatakan perusahaan juga mencatat peningkatan jumlah pesanan hingga total 204 juta, meningkat 83% secara tahunan.

Pertumbuhan yang baik juga tercermin dalam upaya monetisasi, di mana pada kuartal pertama, nilai keuntungan yang disesuaikan meningkat 342% secara tahunan menjadi US$149,2 juta dari tahun lalu sebesar US$33,7 juta. Dari jumlah tersebut, US$102 juta di antaranya merupakan keuntungan dari marketplace.

“Ini mencerminkan pengembangan dari sumber pendapatan marketplace kami, yang terdiri dari komisi transaksi, iklan, dan layanan lain yang memiliki nilai tambah. Peningkatan keuntungan ini merupakan hasil dari pertumbuhan platform kami, juga meningkatnya nilai layanan kami yang memenuhi kebutuhan konsumen,” ungkapnya.

Pada kesempatan terpisah, Co-Founder dan CEO Tokopedia William Tanuwijaya menyatakan pihaknya membidik pertumbuhan GMV sebanyak dua kali lipat pada tahun ini.

Dia menolak bila angka pertumbuhan itu disebut melambat dibandingkan pertumbuhan perusahaan tahun-tahun sebelumnya yang dapat mencapai 3 hingga 4 kali lipat. Pasalnya, dia menyebut skala bisnisnya dan nilai GMV yang diincar perusahaan juga semakin membesar.

“Kita tidak bisa membandingkan pertumbuhan start up yang baru memulai dengan bisnis kita. Jadi bukan slow down, tetapi skala yang dikejar lebih besar. Jadi walaupun secara persentase [pertumbuhannya] mengecil,  tetapi secara nominal yang dikejar jauh lebih besar ketimbang saat pertumbuhan kita ribuan persen dulu,” ujarnya.

Dia menambahkan, sepanjang Mei 2019 Tokopedia mencatat total nominal transaksi atau Gross Merchandise Value (GMV) sebesar US$1,3 miliar atau setara dengan Rp18.5 triliun sepanjang Mei 2019. Perolehan GMV yang fantastis itu salah satunya didorong oleh transaksi harian di puncak Program Ramadan Ekstra yang digelar pada 17 Mei lalu.

Tokopedia mengklaim nilai transaksi pada satu hari tersebur melampaui total  akumulasi transaksi selama enam tahun pertama berdirinya perusahaan.   

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
e-commerce

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top